
"Mana pakaian untuk ku, aku sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan anak-anak." rengek Mutiara, karena merasa Devan sengaja mengulur-ulur waktu.
"Cepat kirim pakaian ke kamar!"
Devan menghubungi seseorang, tidak lama menunggu terdengar pintu kamar diketuk.
"Masuk!"
"Nona muda, ini pakaian anda."
"Terimakasih."
Mutiara segera menyambar paperbag dengan antusias, baginya segera berpakaian lengkap dihadapan Dev adalah solusi terbaiknya, paling tidak dia bisa sedikit terhindar dari tatapan mesum Devan yang tidak pernah puas jika diatas ranjang.
Devan mengandeng sebelah tangan Mutiara menuju mobilnya untuk meninggalkan lokasi villa. sepanjang perjalanan pikiran Mutiara tidak lepas dari Anak-anak yang sangat dirindukannya.
Senyum mengembang sempurna dibibir Mutiara, ketika mobil Rolls Royke milik Devan berhenti tepat di gerbang utama. yang berdekatan dengan Padang rumput yang menghijau tempat anak-anak tengah bermain.
Mutiara dengan tidak sabaran segera membuka pintu mobil, bersamaan dengan Anak-anak yang juga melihat kearah mereka.
"Mami!" ucap Reyhina dengan mata berbinar-binar bahagia.
"Mami dan papi sudah kembali." teriak Reyhan berlari kearah kedua orang tuanya, yang diikuti Reyhina larinya paling lambat. dibandingkan Reyhan yang lebih aktif bergerak lincah.
"Reyhan!"
"Reyhina, Anak-anak ku sayang!"
__ADS_1
Mutiara merentangkan kedua tangannya, dia tidak mampu membendung air mata haru ketika dapat kembali mencium dan memeluk kedua Anak-anak nya.
"Mami, kami berdua sengaja bermain di taman setiap harinya. karena menunggu mami pulang kesini."
"Maafkan mami sayang, beberapa hari terakhir ini mami ada pekerjaan sehingga tidak mempunyai banyak waktu bersama kalian." ucap Mutiara merasa bersalah.
"Mami untuk apa bekerja lagi, papi sangat kaya dan kita sudah memiliki semuanya." ucap bibir polos Reyhina.
"Kedepannya, mami akan usahakan memiliki banyak waktu untuk kalian berdua." bujuk Mutiara.
"Asyik."
"Bibi sangat senang, paling tidak sekarang kita bisa berkumpul lagi. terutama anak-anak, mereka tidak akan pernah bisa jauh darimu, Mutiara." ucap bibi Erika.
"Iya bibi, aku akan lebih berhati-hati lagi untuk bertindak." jawab Mutiara.
Selepas sarapan dan mengantarkan Anak-anak kesekolah, Mutiara meminta izin Devan. hari ini dia ingin menikmati berbelanja dan jalan-jalan bersama bibi Erika. paling tidak, ini merupakan cara Mutiara berterima kasih dan juga sebagai bentuk cintanya pada sang bibi yang begitu berjasa dalam hidupnya.
Bibi Erika semula menolak dengan halus, karena tidak ingin merepotkan keponakan kesayangannya. namun Mutiara tetap berusaha membujuk, dia mengerti kondisi bibi yang mungkin saja bisa bosan. setiap saat dirumah dengan membantu mengurus anak-anak.
"Mutiara, sebaiknya bibi tetap dirumah. memasak makanan kesukaan twins."
"Bibi tidak perlu lagi memikirkan semua ini, Devan sudah menyediakan pengasuh dan pelayan untuk anak-anak. sekarang sudah waktunya bibi istrahat dan menikmati hidup." bujuk Mutiara.
"Hidup bersama mu dan anak-anak adalah kebahagiaan terbesar bagi bibi."
"Iya, aku tahu. makanya hari ini Mutiara ingin jalan-jalan bersama bibi. membeli sesuatu yang bisa membuat bibi bahagia." ucap Mutiara.
__ADS_1
"Baiklah nak."
Bibi Erika tersenyum senang, mereka berdua bergandengan tangan layaknya ibu dan anak. memasuki pusat perbelanjaan lalu toko perhiasan.
"Sekarang, bibi pilih perhiasan mana yang bibi sukai."
"Ini perhiasan mahal nak, sebaiknya kita simpan saja uangnya." tolak bibi.
"Bibi tidak perlu kawathir, simpanan Mutiara masih banyak. cukup untuk kita kedepannya." bujuk Mutiara.
"Mas, coba lihat gelang yang ini!" ucap Mutiara pada pelayan.
"Bibi cobalah gelang ini."
Mutiara memasangkan gelang ketangan bibi, yang terlihat sangat pas dan serasi melekat ditangannya.
"Ini sangat indah, terimakasih ya sayang." ucap bibi Erika terharu, dia memeluk Mutiara hangat.
"Sekarang, hanya bibi orang tua yang aku miliki. bibi tetap lah bersama ku, karena aku tidak tahu seperti apa hidup ku jika tanpamu bibi." ucap Mutiara terharu.
"Bagaimanapun, nantinya kamu harus belajar hidup tanpa bibi disisi mu."
"Kenapa bibi berbicara seperti itu?" tanya Mutiara.
"Dalam hidup ini akan adanya pertemuan dan perpisahan, dan itu pasti akan terjadi tanpa bisa kita kendalikan." ucap bibi.
"Bibi, jangan bicara seperti ini. aku mencintai bibi dan anak-anak juga sangat membutuhkan bibi disisi mereka."
__ADS_1
"Iya sayang."