
Setelah mengantarkan Anak-anak kesekolah, suasana dalam mobil kembali hening. pandangan Devan fokus keluar jendela kaca, sepertinya pria tampan itu benar-benar mengabaikan Mutiara.
"Tuan Dev, apakah kamu marah padaku?" tanya Mutiara hati-hati.
"Kenapa kamu harus mengunjungi klub, tempat itu tidak baik untuk mu!" ucap Devano dingin.
"Pikiran ku sedang kacau, apalagi setelah tahu jika papa sudah menjual ku padamu." jawab Mutiara.
"Aku tidak ingin hal ini terulang lagi, jangan pancing kemarahan ku."
"Baiklah Dev, Aku berjanji tidak akan pernah memasuki klub lagi, sungguh." Jawab Mutiara tidak ingin melihat kemarahan Dev lagi.
"Aku sadar tidak mungkin bagiku untuk menolak Devan sepenuhnya, bagaimana pun diantara kami sudah ada Anak-anak." bathin Mutiara mencoba untuk belajar menerima keadaan.
Hari ini Mutiara dibawa kekantor perusahaan Devan, hari ini dia menghabiskan waktu dengan duduk manis di sofa menemani Dev bekerja. sorenya kembali pulang bertemu dengan Anak-anak.
"Apa kalian berdua belum mandi?" tanya Mutiara, begitu langkah nya dihadang Anak-anak, mereka bersemangat menyambut kedatangan orang tuanya.
Reyhan dan Reyhina kompak menggelengkan kepalanya, lalu kembali bergelayut manja pada Mutiara.
"Dia menolak untuk aku mandikan, begitu juga dengan pengasuh lainnya." ucap bibi Erika yang kehabisan cara untuk membujuk twins.
"Kami mau mandi, jika mami dan papi yang akan memandikan kami berdua!" ucap Reyhan.
"Lagian permintaan kami tidak setiap hari." Reyhina tidak mau kalah.
"Oke!"
Reyhan dimandikan oleh Devan, sedangkan Reyhina dimandikan oleh Mutiara. mereka berdua tidak kuasa menolak permintaan Anak-anak. dimana malam ini mereka kembali tidur di kamar dan ranjang yang sama.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama bagi anak-anak untuk tertidur pulas, merasa bahaya akan mendekat Mutiara memilih untuk berpura-pura tidur memejamkan mata seraya memeluk tubuh Reyhina dari samping.
"Aku tahu kamu hanya berpura-pura tidur, malam ini tidur lah dengan ku dikamar sebelah." bisik Devan.
Mutiara mengabaikan dan tetap pada pendiriannya, namun dia menyerah kala tangan Devan tidak mau diam menjamah tubuh nya, Mutiara menggeliat kegelian.
"Ayo pindah!" ulang Devan.
"Aku sangat capek dan ingin tidur bersama anak-anak." jawab Mutiara yang malas membuka mata.
"Aku membutuhkan mu malam ini." ucap Dev lalu menarik tubuh Mutiara kepangkuan nya, Mutiara sempat meronta.
"Jaga sikapmu, hal ini bisa membangunkan Anak-anak."
Devan membawa Mutiara kekamar pribadinya, merebahkan diatas ranjang yang empuk. detak jantung Mutiara tidak mampu dia kendalikan. meskipun ini bukan hal yang pertama.
Devano melepas pakaian nya, mulai mencium Mutiara penuh gairah. meskipun sudah berusaha untuk menolaknya, namun tenaga Mutiara tetap kalah oleh tubuh Devan yang kekar.
Di kamarnya Reyhan terbagun, begitu juga dengan Reyhina. mereka berdua mempertanyakan keberadaan mami dan papi, yang semula ikut tidur diantara mereka berdua.
"Mana mami!"
"Papi!"
"Mereka pasti ada dikamar sebelah." Reyhan segera turun dari ranjang, berlari menuju kamar sebelah yang diikuti Reyhina dari belakang.
Ceklek.... pintu kamar terbuka lebar, mengagetkan pasangan yang masih tertidur pulas karena kecapean.
"Mami!"
__ADS_1
"Papi."
Mutiara refleks membungkus tubuhnya yang polos dengan selimut, begitu juga Devan. keduanya terlihat panik saat melihat anak-anak berlari mendekati mereka.
"Mami!"
Reyhina berusaha menarik selimut Mutiara, agar bisa masuk dan naik kedalam pangkuan sang mami.
"Jangan, nanti saja mainya sama mami ya." bujuk Mutiara, namun Anak-anak mengabaikan saja ucapannya.
Devan segera menghubungi pengasuh, meminta mereka menjemput Anak-anak ke kamarnya.
"Ayo Anak-anak kita keluar ya." bujuk pengasuh.
"Tidak mau."
"Bawa paksa mereka." perintah Devan.
"Baik tuan muda."
Pengasuh menggendong Reyhina dan satu lagi Reyhan, lalu menutup rapat pintu kamar. setelah Anak-anak keluar Mutiara baru bisa menarik nafas lega.
"Mau kemana kamu?"
"Aku ingin mandi, dan sarapan bareng anak-anak!" jawab Mutiara.
"Tunggu aku."
"Apalagi sih."
__ADS_1
"Kita harus mandi bersama."
"Apa yang semalam belum cukup." jawab Mutiara ketus.