Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Hubungan yang rumit


__ADS_3

Mutiara kaget dan segera menoleh kearah perempuan cantik, penampilan sangat seksi, dengan make-up tebal. sesuatu yang tidak sesuai dengan penampilan Mutiara yang sederhana namun cantik natural.


"Jims, siapa perempuan ini?" tanya Ariana.


"Namanya nona Mutiara, sekretaris baru tuan Devano."


Mutiara mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri, namun Ariana lebih memilih mengabaikannya. sambil memperhatikan kuku-kuku lentik jemari tangannya. Mutiara yang merasa dicuekin menarik tangan nya kembali sambil mengerutkan bibir nya.


"Penampilan sektretaris ini memang jelek, tapi tidak dengan kecantikan wajah dan kulit putih mulusnya, Devan tidak boleh tergoda perempuan ini, aku harus bertindak lebih cepat untuk mendapatkan Devano." bathin Ariana mulai gelisah.


"Jims, kemana Anea. sektretaris Devano yang lama. bukankah cara kerja dia jauh lebih baik. dari pada karyawan baru."


"Kalau masalah itu, anda tanyakan langsung pada tuan Devano." balas Jims tidak suka.


"Ariana lumayan cantik dan seksi, dibandingkan dengan diriku. sekarang aku sudah tahu, inilah alasan utama Devan yang belum juga meresmikan hubungan dan pernikahan kami dihadapan publik."


"Mutiara.... sadarlah siapa kamu yang sesungguhnya, aku tidak boleh cemburu, bukankah selama ini aku juga tidak pernah mencintai Devan." gumam Mutiara yang akirnya tersenyum miring.

__ADS_1


Tidak lama terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, Devan tersenyum, dia sempat melirik ekspresi yang ditunjukkan Mutiara, meskipun pura-pura sibuk dengan laptopnya, namun ekspresi wajah nya sangat kesal tanpa senyum. Devan tahu jika saat ini Mutiara tengah cemburu, bahkan dia tidak melirik sedikit pun pada Devan yang sedang menatapnya.


"Oya sekretaris barumu ini lumayan cantik. meskipun terlihat kampungan, huhf....mataku sakit berlama-lama melihatnya." Ariana sengaja memancing reaksi Devan.


"Tolong jaga ucapan mu, Ariana. jika tidak ingin hidup mu akan aku persulit lagi. ingat aku masih berbaik hati karena kamu pernah menolongku tidak lebih." ucap Devan.


"Aku...aku tidak bermaksud seperti itu Devano, maafkan aku." Ariana langsung tergagap, melihat kemarahan Devan, dia kembali bersikap lembut. menyesali keteledoran nya barusan.


"Dasar Mak lampir, masa dia mengatakan aku kampungan." umpat Mutiara, yang spontan membuat asisten Jims tertawa.


"Hubungan yang rumit, disaat suami-istri bersikap seolah-olah tidak saling mengenal. dihadapan semua orang." gumam Jims, saat melihat Devan kembali memasuki ruangannya, namun Ariana yang bertingkah genit dan manja. kembali mengikuti langkah Devan dari belakang.


"Please Ariana, tolong jaga sikapmu. saat ini kita sedang berada dikantor."


"Please Dev, beri aku kesempatan! hidup ku sekarang tergantung kebaikan hatimu." pinta Ariana.


"Baiklah, aku akan memikirkan nya nanti, saat ini aku sedang sibuk, jadi silakan tinggalkan ruangan ku ini." Devan berpura-pura fokus memeriksa file-file di mejanya, sedangkan pikiran tertuju pada sikap Mutiara barusan, Devan tersenyum puas melihat ekspresi kesal istri imutnya tersebut, kedatangan Ariana membuat Devan bisa melihat sejauh mana perasaan Mutiara terhadap nya.

__ADS_1


"Jims, suruh Mutiara masuk keruangan ku segera. sepertinya dia harus mendapatkan banyak tugas dariku." perintah Devan.


"Baik tuan." balas Jims kemudian mendekati ruangan Mutiara.


"Nona Mutiara, tuan Devan meminta anda untuk masuk keruangan nya sekarang." ucap Jims.


"Maaf Jims, tapi saya masih ingin mempelajari hal ini." mencoba menolak, karena dia tahu saat ini Ariana masih berada dalam ruangan Devan.


"Nona Mutiara, sebaiknya anda menuruti saja permintaan tuan Devan. dari pada anda nantinya dipecat dan kembali terkurung dirumah besar itu sendirian, yang tentunya lebih membosankan dari pada bekerja diperusahaan."


Jims sengaja menakut-nakuti Mutiara agar mau menurut perkataan Devan.


"Apa? dia tega memecat ku dari pekerjaan ini?" ulang Mutiara seakan tidak percaya dengan pendengarannya.


"Bisa jadi nona."


"Ucapan Jims ada benarnya, Devan tidak pernah main-main dengan ucapannya." gumam Mutiara akhirnya pasrah.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan masuk kedalam ruangannya sekarang."


__ADS_2