
Langkah panjang Devan terayun cepat menuju kamar mereka, entah kenapa hampir seharian ini dia tidak bisa tenang dan konsentrasi dalam bekerja, ditambah lagi rasa takut kehilangan Mutiara tiba-tiba membuat nya ingin segera pulang, membatalkan rapat penting yang telah dipersiapkan jauh hari dengan para investor luar maupun dalam negeri.
Bagi Dev, Mutiara lebih penting dari segalanya. dia yakin dari semalam istri nya dan mami seperti sudah merencanakan sesuatu yang Dev sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan istri nya, setelah kedapatan dirinya dicium tiba-tiba oleh Ariana yang nekat.
"Semua ini gara-gara Ariana, dia tiba-tiba nyosor dan menciumiku. meskipun sekarang dia dan Aldo sudah menerima konsekuensi dari perbuatan mereka." umpat Dev.
Ceklek...
"Mutiara.... Mutiara, dimana kamu?"
Rasa resah, emosi dan takut membuat Devan memeriksa setiap sudut ruangan kamar. ditengah-tengah kepanikannya ponsel dalam saku celana Dev bergetar. tertera nama sang mami yang tengah menghubungi nya.
"Halo mi."
"Hallo juga Dev, oya kenapa suaramu bergetar dan terdengar sangat panik. apa yang sudah membuat mu seperti ini, sayang." ucap mami berpura-pura tidak tahu, berusaha menahan senyum membayangkan wajah kesal anaknya karena kehilangan istri.
"Mami jangan bersandiwara lagi, dimana istriku mami sembunyikan, termasuk ke-dua Anak-anakku ucap Devan.
"Anak-anak mu ada di Muntions utama bersama kami, Oma dan opa nya."
"Lalu istri ku?"
__ADS_1
"Kok tanya mami sih? emangnya Mutiara kemana?"
"Aku tahu mami sudah mengatur rencana untuk memisahkan kami, mami tidak boleh seperti ini. dia istriku dan aku berhak atas apapun pada diri Mutiara." ucap Devan berusaha menahan emosi.
"Kenapa kamu menuduh mami sih? Apa kamu sudah coba menghubungi Mutiara?"
"Sudah, tapi ponsel Mutiara sudah tidak aktif, sepertinya dia sengaja melakukan hal ini." jawab Devan pasrah.
"Sebenarnya, mami sudah mengirim Mutiara ketempat yang bisa membuatnya tenang, menikmati liburan seorang diri akan membuatnya bisa melupakan perbuatan mu, yang tidak pernah memperlakukannya dengan lembut layaknya seorang istri."
"Tidak mi, pokoknya aku ingin Mutiara kembali sekarang juga." pinta Dev.
"Tidak mi, aku suaminya yang berhak mengatur kemanapun istriku ingin pergi." Dev tetap ngotot dengan pendirian nya.
"Terserah, yang jelas Mutiara sudah bisa tersenyum lebar menikmati liburannya. emang enak dikurung di sangkar emas setiap hari, ataupun pergi tapi selalu diawasi dan dicurigai akan berselingkuh dengan Gavin, perlu kamu tahu jika Gavin tidak lama lagi akan bertunangan dengan perempuan lain." ucap mami kesal atas sikap posesif sang anak.
"Syukurlah, paling tidak dia tidak akan mencoba mendekati istri ku lagi."
Mami mematikan sambungan telpon begitu saja, dia tertawa lepas membayangkan wajah kusut Devan saat ini.
"Batalkan, semua jadwal ku untuk beberapa hari kedepanya." perintah Dev.
__ADS_1
"Kenapa tuan." tanya Jims.
"Kamu tidak perlu mengetahui urusan ku, yang penting pekerjaan mu beres selama aku tidak ada."
"Baiklah."
"Satu lagi, atur segera penerbangan khusus hari ini, menuju negara Swiss."
"Baiklah, tuan."
"Sepertinya, tuan Devan marah-marah tak menentu karena tidak ada istri nya. ternyata tuan muda arogan itu bisa bucin dan takut kehilangan istri juga." bathin Jims tersenyum dalam diam.
Tidak pernah terbayangkan dalam hidup seorang Devano, dia terlihat begitu terpukul dan kacau ditinggal istri. bahkan dia rela menyusul Mutiara ke Swiss mengabaikan rasa gengsi yang semula begitu dia junjung tinggi. seorang Devan tidak peduli lagi jika harus mengemis cinta, asalkan Mutiara bersedia untuk kembali pulang bersama nya.
Devan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah melepaskan Mutiara sampai kapanpun.
"Aku sudah terbiasa dengan tubuh mu, didekat ku setiap saat. kamu pikir aku akan sanggup tidur sepanjang malam dengan hanya memeluk guling saja." umpat Devan kesal seraya menunjuk-nunjuk foto Mutiara.
"Jims, setelah aku pergi nanti. jangan beritahu keberdaan ku pada siapapun. aku ingin menikmati liburan berdua saja dengan istri ku, layaknya bukan madu yang belum pernah kami lakukan." pesan Devan.
"Pasti tuan."
__ADS_1