Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Berusaha Kabur


__ADS_3

Mutiara membuka matanya yang masih terasa begitu berat, terpaan cahaya matahari langsung tepat mengenai kulit wajahnya yang putih mulus. Dia menoleh kesamping, kosong tidak ada lagi Devan yang tidur disampingnya.


"Devan benar-benar buas, tubuh ku capek. seakan dikeroyok orang sekampung." bathin Mutiara.


"Tok....tok...tok..." pintu kamar diketuk dari luar.


"Masuk!"


Pelayan perempuan yang terlihat masih seumuran dengan Mutiara melangkah masuk, sambil membawa troli berisi banyak makanan dan segelas susu kesukaannya.


"Selamat pagi Nona muda, perkenalkan namaku Gracia. mulai hari ini saya ditugaskan untuk menjadi asisten pribadi Nona. jadi apapun yang nona butuhkan, saya siap melayani Anda." ucap Gracia penuh hormat.


"Terimakasih." ucap Mutiara menanggapi pelayan, seraya berfikir untuk bisa pergi secepat nya.


"Aku harus makan yang banyak, agar memiliki cukup tenaga untuk bisa kabur dari tempat ini, twins pasti merindukan ku sekarang." setelah membersihkan tubuhnya, dengan hanya mengunakan jubah mandi. Mutiara bersiap-siap untuk sarapan.


Pelayan membantu Mutiara untuk sarapan, sambil sesekali mencuri pandang pada bagian tubuh Mutiara yang banyak sekali terdapat tanda kiss Mark dari Devan. tanda merah itu sudah mewakili bagaimana puasnya Dev menikmati malam panjang mereka berdua.


"Gracia, kamu sudah lama ya bekerja tempat ini."


"Belum, aku datang baru semalam. karena sebelumnya aku bekerja di mention utama tuan Devan."


Mutiara mengedarkan pandangannya keseliking rumah bak istana, tepat di bagian sebelah kiri lantai satu, berjejer mobil-mobil mewah, dan moge. seorang sopir yang standby siap kapanpun dibutuhkan.


Mutiara mengamati situasi diluar kamar, dia juga memperhatikan beberapa pelayan, yang sibuk dengan tugas mereka masing-masing tanpa saling bicara.


"Gracia, apa Devano mempunyai saudara perempuan atau laki-laki?"


"Tidak Nona muda, tuan Devan adalah anak tunggal. sehingga ke-dua orang tuanya sangat menginginkan hadir nya seorang penerus." jelas Gracia tersenyum.

__ADS_1


"Apa sebelumnya dia tidak mempunyai teman dekat, seperti pacar?"


"Kalau teman wanita banyak, tapi tidak satupun membuat tuan muda jatuh cinta." balas Gracia


"Aku ingin jalan-jalan mengelilingi tempat ini. sebaiknya kamu tidak perlu mengikuti ku terus." Mutiara mulai berfikir untuk kabur.


"Tapi saya diminta, untuk tetap menjaga dan melayani mu, nona."


"Kalau begitu, aku ingin main keruangan kamar pribadi mu, bolehkah?"


"Tapi, untuk apa nona?" Gracia kaget, mustahil rasanya seorang calon Nona muda mereka, akan mengunjungi kamar pelayan nya sendiri.


"Aku ingin dekat dengan mu."


"Baiklah nona."


"Apakah ada jalan alternatif yang menuju langsung kekamarmu?" Mutiara mulai mempunyai ide untuk kabur.


"Gracia, tolong ambilkan jepitan rambutku yang tertinggal dalam kamar mandi."


"Baik nona."


Begitu Gracia masuk kedalam kamar mandi, Mutiara segera mengunci rapat pintu dari luar, berhubungan kamar Devan sangat privasi, bahkan dia sengaja tidak memasang kamera pengintai, kamar juga kedap suara sehingga suara teriakan Grace tidak terdengar keluar oleh pengawal lainnya.


Mutiara berjalan sambil mengendap-endap melalui pintu samping yang sepi, memasuki kamar Gracia. begitu melihat pakaian khusus pelayan. Mutiara langsung mengenakan salah satunya dan masker sebagai penutup wajah.


"Dengan begini, aku bisa kabur." Mutiara tersenyum lalu berjalan santai, agar tidak ada yang curiga menuju gerbang utama, para pengawal berfikir jika dia adalah salah satu pelayan yang keluar untuk berbelanja kebutuhan pokok mereka.


Sampai didepan gerbang, Mutiara kebingungan melihat hamparan luas dan tidak ada kendaraan lainnya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku mencari tempat persembunyian sampai mendapatkan tumpangan."


Tidak lama salah satu mobil milik Devan berhenti tepat dihadapannya, ternyata seorang sopir.


"Ternyata kamu menunggu ku disini, maaf aku kelamaan di toilet." ucap sopir yang biasanya bertugas mengantarkan para pelayan yang ingin berbelanja. Mutiara tidak menjawab dan langsung masuk begitu saja.


Mutiara lalu diturunkan disebuah pusat perbelanjaan, sedangkan sopir menunggu di parkiran khusus.


"Aku harus cepat bertindak."


Mutiara membeli pakaian gamis yang disertai hijab bercadar, masuk kedalam toilet wanita. dia mengganti pakaian dengan cepat, tidak lupa melepaskan SIM card ponsel nya agar Devan nanti tidak bisa menghubungi ataupun melacak keberadaannya.


Begitu sampai kembali dirumah, Reyhan dan Reyhina langsung menghambur memeluk ibunya.


"Mami!"


"Kami merindukan, mami pergi kemana saja?"


"Iya mami juga merindukan kalian, tapi ada pekerjaan mendesak sehingga mami harus pergi." Mereka berpelukan erat, saling melepaskan rindu.


"Ceritakan lah, apa yang sudah terjadi?" tanya bibi penasaran sekaligus kawathir.


"Bibi, kita harus segera meninggalkan negara ini secepatnya."


"Tapi, kenapa nak?"


"Aku bertemu dengan ayah biologis anak-anak, dia sangat berbahaya dan juga memiliki kuasa. dia bisa melakukan apapun. aku tidak ingin dia merebut twins, bagaimana pun kita hanya orang biasa yang tidak mampu melawan dan akan tetap kalah dipersidangan." Mutiara tertunduk lesu.


"Apa kepergian mu tiba-tiba semalam, berhubungan dengan dia?"

__ADS_1


"Ya bibi."


__ADS_2