Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Calon menantu kesayangan


__ADS_3

"Kenapa kamu lebih memilih Gavin? bahkan ingin keluar dari perusahaan ku, demi dia?"


"Bukan, aku hanya ingin pulang ke negara asalku. papa meminta ku untuk kembali pulang." jawab Mutiara gugup mundur perlahan.


"Bohong, kamu pikir aku masih bisa percaya padamu." teriak Devan lalu mengunci pergerakan Mutiara. bahkan pancaran mata Devan seakan mampu menusuk tubuh nya.


"Tolong lepaskan aku, ini tidak akan merugikan mu, tuan."


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan mu. ingat itu!!" ancam Devano.


"Tuan, izinkan aku kembali pada pekerjaan ku."


"Tidak, sebelum kamu menyetujui kesempatan yang sudah aku buat." ancam Devan.


"Kesepakatan apa?"


"Menjadi wanita ku, milikku seorang. yang intinya kami tidak aku izinkan untuk bertemu dengan laki-laki seperti Gavin lagi. aku berjanji akan memenuhi semua permintaan mu, termasuk mendanai perusahaan ayahmu yang sedang bangkrut." ibu jari Devan mengusap lembut bibir Mutiara, seakan ingin menikmati kembali.


"Aku tidak bisa menjadi wanita mu, tapi aku menginginkan uangmu tuan."


"Tidak ada yang gratis, puaskan aku seperti malam itu." bisik Devan, bahkan bibir menempel ditelinga Mutiara. tubuh gadis itu luruh dilantai, wajahnya tepat disabuk pinggang Devan.


"Posisi yang sangat pas, apa ini tandanya kamu sudah menyetujui kesepakatan?"


"Tidak!"

__ADS_1


Mutiara segera bangkit, dia berlari namun tubuh kecilnya terhempas di atas sofa.


"Kamu tidak akan bisa melarikan diri, dariku." Devan menindih tubuh nya dari atas. bayangan beberapa tahun silam kembali melintas.


"Tuan, ampunilah aku, aku minta maaf jika telah membuat mu marah, tolong lepaskan aku!" Mutiara mengatup kedua tangannya, namun tenaganya kalah banyak, Devan dengan rakus mencium bibir dan lehernya. hingga suara ketukan pintu berhasil menghentikan aksi Devan.


"Ada apa Jims?"


"Nyonya besar Sandra, seperempat menit lagi akan datang kekantor ini bersama Natali, calon istri Anda tuan." ucap Jims sengaja menekankan kata " calon istri."


"Berapa kali aku katakan, Natali bukan calon istriku." umpat Devan kesal, Mutiara memanfaatkan situasi tersebut, dia segera keluar menuju toilet wanita. sedangkan Devan kembali duduk dikursi kebesarannya, berpura-pura sibuk adalah cara ampuh untuk mengusir dan mengabaikan Natali, calon istri pilihan maminya.


Tok...tok....


"Masuk!"


"Hay Devan." sapa Natali ramah.


"Hay juga."


Devan lemah tanpa melirik sedikit pun pada Natali yang berusaha menarik perhatiannya.


"Mami dan Natali sengaja mengunjungi mu, sekalian memberitahukan. jika besok malam akan diadakan pesta dan juga louncing produk kecantikan mami yang baru, mami juga mengundang keluarga besar Natali. mami harap kali ini kamu tidak mengecewakan mami." ucap Sandra.


"Terserah mami, tapi aku benar-benar sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk." alasan Devan.

__ADS_1


"Kerja dan kerja terus yang menjadi prioritas mu, kapan kamu akan mempunyai waktu untuk diri sendiri, mami juga butuh kamu, nak." balas mami mulai merajuk.


"Pokoknya kamu harus datang, titik." ulang mami.


"Ayok Natali, kita shoping gaun yang paling bagus. kamu harus terlihat semakin cantik pada saat Pesta nantinya." ucap Sandra membawa Natali untuk meninggalkan ruangan Devan yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Sampai ketemu di pesta nantinya, Devan." ucap Natali dengan suara yang dibuat manja.


"Mmmmhh." jawab Devan tanpa menoleh.


Disaat yang bersamaan, Mutiara yang baru keluar dari toilet tidak konsentrasi. refleks dia menabrak tubuh Natali hingga terhuyung kedepan.


"Hey kamu bisa jalan ngak sih, hampir saja kamu mencelakai calon menantu kesayanganku." ucap Sandra membantu Natali berdiri dengan normal.


"Maaf... maafkan saya nyonya, nona. saya benar-benar tidak sengaja." Mutiara menundukkan kepalanya hormat.


Natalia sangat geram, seandainya tidak ada Sandra disampingnya, dia akan menampar wajah Mutiara, apalagi dia merasa tersaingi setelah melihat kecantikan yang dimiliki gadis dihadapannya.


"Jims, aku ingin kamu memberikan Sanki pada karyawan ini." teriak Sandra.


"Baik nyonya, maafkan kesalahan Mutiara. dia masih baru disini."


"Jadi namamu Mutiara, awas aku akan bikin perhitungan dengan mu." bisik Natali sebelum melangkah pergi.


"Ya Tuhan, kenapa kesialan masih belum beranjak dari kehidupan ku, setelah bertemu dengan Devan." bathin Mutiara menghembuskan nafas berat.

__ADS_1


"Sudahlah Mutiara, kamu harus kuat dan sabar bekerja disini. yakinlah suatu saat akan indah pada waktunya." bujuk Jims yang tidak memberikan saksi apapun terhadap kesalahannya barusan.


__ADS_2