
"Kepalaku terasa begitu pusing?"
Mutiara mengusap pelipisnya, begitu juga dengan rasa mual yang membuatnya ingin memuntahkan isi perut, dengan sempoyongan Mutiara menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi.
"Mutiara, kamu kenapa nak?" ucap bibi Erika membantu mengusap punggung Mutiara.
"Sepertinya aku masuk angin bi, ditambah lagi aku sedang datang bulan."
"Apa sering seperti ini?"
"Tidak juga."
"Apa sebaiknya, hari ini kamu istrahat saja dirumah." tawar bibi khawatir.
"Aku ngak papa kok bi, nanti juga sembuh dengan sendirinya."
Mutiara tidak ingin absen satu hari saja, hal ini akan membuat gajinya satu hari akan dipotong. dia membutuhkan uang untuk kebutuhan dan masa depan twins.
Mutiara memaksakan dirinya untuk tetap berangkat bekerja, bibi Erika menyiapkan wedang jahe merah yang masih hangat.
"Minumlah, dengan begini kondisi mu akan jauh lebih baik lagi." bujuk bibi.
"Terimakasih bibi." Mutiara menyeduh dengan perlahan, hingga minuman tersebut habis dan memberikan kehangatan ditubuh nya yang lemah.
Mutiara perlahan menyeka keringat, yang keluar dari kulit putih mulusnya, sambil memegang perut bawah pusar nya yang terasa nyeri, efek dari pms yang menghampirinya tiap awal bulan. namun baru kali ini dia merasa nyeri yang teramat sangat. dia terus memaksakan dirinya untuk tetap pergi bekerja.
__ADS_1
Mutia berjalan menuju halte busway sambil terus mengumpulkan konsentrasi nya, karena merasa pandangannya semakin samar.
"Kenapa rasanya bertambah nyeri?"
Mutiara terperanjat kaget saat melihat sebuah mobil mewah keluaran terbaru melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. seseorang mendorong tubuh nya hingga jatuh ketepi aspal dan kepalanya membentur pembatas jalan. hingga Mutiara sempat hilang kesadarannya.
Perlahan Mutiara membuka matanya melihat sekeliling ruangan yang serba putih.
"Dimana aku?"
Seorang yang berpakaian putih dan diikuti dua wanita yang berpakaian sama tersenyum kearah nya. Mutiara kembali mengingat kejadian barusan. dia sangat bersyukur sekali bisa selamat dari mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah nya.
"Syukurlah aku masih diberikan kesempatan hidup, bagaimana twins jika aku tidak ada?" bathin Mutiara menerawang membayangkan nasip anak-anak nya.
"Kamu telah siuman, sebenarnya luka mu tidak terlalu parah, namun karena kondisi fisik mu yang lemah sehingga mudah sekali pingsan." ucap dokter
Seorang pria masuk keruangan itu, Mutiara sempat kaget karena mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Masih ingat aku?" ucap pria tersebut.
"Gavin!"
Mutiara teringat pertemuan pertama mereka dalam lift, Gavin pernah menolongnya saat hendak jatuh. yang merupakan sahabat dekat Devano.
"Ya, kamu hampir tertabrak oleh mobil ku. untuk ada seseorang yang segera menolong dengan mendorong mu agak ketepi."
__ADS_1
"Terima kasih Gavin, anda sudah dua kali menolong ku." ucap Mutia.
"Apa kamu masih bekerja di The Devan's King?"
"Iya."
Tiba-tiba Mutiara terlonjak kaget, seraya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Yah, aku sudah terlambat." ucap Mutiara lesu.
"Aku sudah menghubungi Monalisa, pasti dia akan memberikan kamu izin sakit untuk hari ini." ucap Gavin.
"Istrahat lah, nanti aku akan kembali lagi untuk menjengukmu." ucap Gavin.
Mutiara memperhatikan selang infus, kepalanya masih terasa sedikit pusing. baru beberapa menit memejamkan mata, tiba-tiba ponsel Mutiara berbunyi dengan malas Mutiara mengangkat panggilan dari no ponsel yang tidak dikenalnya.
"Hallo ...ini siapa?"
"Kamu lagi Dimana? kenapa tidak masuk kantor jam segini?" terdengar suara berat, namun Mutiara sudah bisa menebak, jika itu adalah suara Devano.
"Saya sedang sakit, beri saya izin untuk istrahat tuan." ucap Mutiara lemah.
"Cepat katakan, kamu sedang dirumah sakit mana?"
"Rumah sakit De Larose, tuan."
__ADS_1
"Tunggu aku di sana." ucap Devan dan langsung memutuskan panggilan.
"Untuk apa Devan mendatangiku kerumah sakit ini?" gumam Mutiara yang sebenarnya malas untuk kembali melihat Devan, yang menurutnya sangat mesum dan egois. namun dia bisa apa? kehidupannya tergantung pada laki-laki itu untuk saat ini. dimana sikapnya sangat sulit untuk ditebak.