
Begitu turun dari helikopter, Mutiara langsung menghubungi bibi Erika, meskipun panggilan nya baru diangkat setelah Mutiara mengirimkan pesan singkat, untuk meyakinkan bibi jika itu dirinya.
"Hallo Mutiara, apa kamu baik-baik saja?" tanya bibi cemas.
"Ya, aku sudah berhasil kabur. sekarang bibi dan anak-anak dimana?"
"Kami menyewa kontrakan kecil arah pedesaan, bibi akan mengirimkan kamu alamat nya." ucap bibi.
Mutiara menggunakan gamis dan penutup wajah, meskipun begitu dia tetap was-was hingga taxi yang ditumpanginya sudah meninggalkan pusat kota.
Ditengah-tengah perbatasan kota, Mutiara sengaja turun lalu menaiki taxi yang berbeda-beda. dia sengaja berhenti dimana tidak ada camera pengintai. agar Devan kehilangan jejaknya.
"Aku harus bertindak sedikit lebih cerdik, untuk menghadapi lawan seperti Devan."
Mutiara turun dari taksi dengan tergesa-gesa, Mutiara berlari dan berlari, dia tidak boleh lengah sedikitpun, begitu pintu terbuka dia langsung masuk kerumah. anak-anak yang tengah bermain sempat terpana begitu perempuan mengenakan gamis dan penutup sebagian wajah berjalan mendekati mereka.
"Kamu siapa?" Reyhina dan Reyhan mudur lalu bersembunyi dibelakang bibi Erika.
"Ini mami nak!"
Mutiara melepas cadarnya, tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya.
"Mami!"
"Mami!"
__ADS_1
Anak-anak berlari penuh semangat menghambur kepelukan Mutiara.
"Kami sangat merindukan mami."
"Mami juga sangat merindukan Anak-anak, mami." mencium bergantian.
"Mami jangan pergi-pergi lagi, ya!"
"Iya sayang, kita akan terus bersama-sama selama nya." bujuk Mutiara.
"Mami, kami ingin jalan-jalan bareng mami lagi." teriak Reyhan.
"Tentu, tapi tidak untuk saat ini. Reyhan dan Reyhina mau ngak jika beberapa hari ini kita main dan tetap berada di rumah saja." bujuk Mutiara.
"Kenapa mi?"
"Oke mami." jawab mereka patuh.
"Bibi, sepertinya kita harus berpindah-pindah tempat, sampai menemukan tempat yang dirasa aman." ucap Mutiara.
"Bukankah kamu sudah membuang alat pelacak, bisa jadi Dev mengira kamu sudah bunuh diri dibawah arus yang deras." jawab bibi.
"Devan tidak akan menyerah, apalagi jika hanya menemukan barang bukti saja di dasar sungai, bukan dirikuku. dia terlalu pintar untuk dibodohi bibi." jawab Mutiara tertunduk lesu, memperhatikan wajah-wajah ceria Anak-anak bermain meskipun dalam ruangan saja.
"Kamu sudah berusaha yang terbaik, nak."
__ADS_1
"Aku tidak bisa membayangkan Kemarahan Devan, seandainya dia berhasil menemukan kita. terutama aku, dia pasti akan menghukum dan menyiksa ku dengan caranya bibi, atau dia akan mengambil Anak-anakku lalu memisahkan kami...hick....hick...." tangis Mutiara pecah dipelukan bibi.
"Sudahlah sayang, bibi yakin semua ini akan indah pada waktunya." bujuk bibi Erika.
***
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan wanita itu?” ucap Devan, mengepalkan tangannya menunjukkan jika dia tidak mampu mengendalikan emosi lagi.
Mata elang yang memancarkan aura dingin, membuat suasana diruangan VIP seketika hening. semua menunduk ketakutan tanpa ada yang berani untuk mengeluarkan suaranya.
“Mengejar satu wanita saja kalian tidak becus, bahkan Mutiara berhasil lolos sampai sejauh ini?”
"Ma... maafkan kami tuan." jawab pengawal.
Tendangan keras menghantam tubuh salah seorang dari mereka, yang bertubuh dan mempunyai otot paling besar dibandingkan yang lain. aura Dev semakin menakutkan dan ada bahaya yang bisa meledak kapan saja.
Tubuh besar itu terhempas ke sisi ruangan, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Dia mundur beberapa langkah dan ikut bergabung dengan teman-teman yang lain, semua menunduk dan siap menerima amukan kemarahan sang Bos besar yang sering tanpa kendali.
"Awasi semua camera pengintai, yang ada di setiap titik jalan. temukan dia meskipun dia bersembunyi kelubang semut sekalipun." Dev tidak akan puas sebelum tujuannya tercapai.
"Oke, tuan."
Devan kembali *******-***** jemarinya penuh kemarahan, rahang pria dewasa itu terlihat bergetar menahan kemarahan nya. tidak ada satupun yang berani melawan Devan selama ini, baru Mutiara perempuan pertama yang begitu berani, bahkan dia mampu membuat seorang Gavin ikut bertekuk lutut.
"Tuan, berdasarkan cctv yang dipasang di jalan. Mutiara sengaja berpindah-oindah taxi. sehingga kita tidak bisa menayai sopir taksi, begitu juga tempat tujuan berikutnya tidak ada lagi camera pengintai." ujar Jims.
__ADS_1
"Apa maksudmu mereka pergi ke daerah pedesaan?"
"Bisa jadi!"