Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Liburan bersama Gavin


__ADS_3

"Mana mami, kami hanya butuh mami bukan barang-barang ini." ucap Reyhan menatap tajam kearah Devan, lalu mendorong kembali karena menolak barang-barang mewah yang disodorkan oleh pelayan.


"Kami sudah dua hari tinggal disini, tapi belum melihat mami dan Oma Erika. kamu pasti menyembunyikan nya?" ucap Reyhina.


"Panggil aku papi!"


Refleks Devan bersuara dengan nada tinggi, sehingga membuat kedua mata Reyhina memerah mengeluarkan butir-butir bening dikedua pipinya imutnya.


"Kamu memang kasar, kembalikan mamiku." teriak Reyhan lalu berdiri paling depan, seolah-olah dia akan menjadi pelindung bagi adiknya. lalu menyusul Reyhina menagis kencang.


Kepala Devan terasa berdenyut-denyut, dia memangil ke-dua orang tuanya untuk membujuk. butuh setengah jam untuk membuat mereka kembali tenang.


Devan pergi keperusahaan dengan suasana hati yang buruk, sesekali dia memijid pelipisnya.


"Selidik keberadaan Mutiara."


"Baik tuan." jawab Jims.


Perasaan Devan bertambah kacau setelah Mutiara tidak pernah menghubungi nya lagi. apalagi akan memohon-mohon maaf dan meminta kembali hak Asuh anak, Devan ingin Mutiara berjanji akan menuruti semua kemauannya. diluar dugaan, Mutiara tidak pernah menemui Devan lagi, seolah-olah menunjukan jika dia tidak apa-apa tanpa Anak-anak dan dirinya.


Tidak lama Jims kembali dengan ekspresi wajah tegang, bahkan dia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi setelah ini.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?"


"Sudah, nona Mutiara pergi liburan. mungkin untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau." jawab Jims hati-hati.


"Liburan, ternyata dia masih sempat berfikir untuk itu?" Devan tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"Apa dia pergi sendirian?"


"Tidak tuan, nona Mutiara pergi bersama tuan Gavin." ucap Jims menundukkan kepalanya.


"Gavin!"


Rahang Devan tiba-tiba mengeras, tangan nya langsung membanting benda yang ada dihadapannya.


"Aku tidak mengizinkan kamu bertemu dengan anak-anak, bukan berarti aku melepaskan mu begitu saja sebagai wanita ku." ucap Devan.


***


Pagi hari yang cerah, Mutiara berjalan menuju balkon menikmati udara sejuk dan Padang rumput yang menghijau.


"Tempat ini benar-benar indah." merentangkan kedua tangannya, menatap takjub bukit-bukit yang dikelilingi sungai yang jernih. dari kejauhan Mutiara dapat melihat air mancur bertingkat dari atas ketinggian.


"Mutiara ayo turun, aku akan mengajakmu untuk berkeliling tempat ini." teriak Gavin seraya memegangi dua ekor kuda putih.


"Oke Gavin, tunggu aku." balas Mutiara tersenyum senang. lalu segera bersiap dengan pakaian khusus yang sudah disiapkan oleh pelayan.


"Aku harap, saat ini Anak-anak juga mendapatkan kebahagiaan mereka, aku yakin Devan pasti menjaga mereka dengan sangat baik." bathin Mutiara.


Mutiara dan Gavin tertawa lepas, setelah puas menunggangi kuda. Gavin mengajak Mutiara berjalan setapak menuju air mancur, berhubung musim liburan, sehingga banyak pengunjung lain yang bergabung bersama mereka.


"Mutiara, aku ingin menulis namamu di bebatuan besar ini!, agar nantinya kamu tidak bisa melupakan aku." ucap Gavin. Mutiara tersenyum menanggapi perkataan Gavin.


Tanpa mereka berdua sadar, sebuah helikopter pribadi mengudara. tepat di atas perbukitan seolah-olah sedang mengintai buronan yang kabur.

__ADS_1


"Gavin, kenapa perasaan ku tiba-tiba menjadi tidak enak. seperti bahaya tengah mengintai kita." Mutiara mulai cemas dan memperhatikan helikopter yang berhenti tidak jauh dari posisi mereka.


"Jangan takut, sepertinya itu bukan helikopter milik Devan." ucap Gavin.


"Kamu salah Gavin, lihatlah para pengawal itu " tunjuk Mutiara, yang sudah hafal dengan orang-orang Devan.


"Jangan takut, aku akan melakukan apapun demi kamu Mutiara." mereka berpegangan tangan dengan erat, seakan saling menguatkan.


"Gavin, kita harus segera kabur meninggalkan tempat ini." ajak Mutiara, Ketika mata nya melihat sosok Devan ikut turun.


"Pria itu tidak berhak mengatur hidup mu, kamu berada hak bahagia dan menentukan pilihan hidup mu sendiri, Mutiara." bisik Gavin.


Devan menatap mereka dengan tatapan tajam, seraya tersenyum sinis.


"Ternyata seorang Gavin, sangat menyukai apa yang menjadi milikku. apa sebegitu nikmat nya bekasku, sehingga kamu tidak mampu mencari perempuan lain." ucap Devano.


"Mutiara bukan milikmu, dia bebas menentukan pilihannya sendiri." Jawab Gavin.


"Apa belum cukup kamu merebut Anak-anak dariku." teriak Mutiara.


"Belum, karena aku yakin saat ini benihku akan kembali tumbuh dirahim mu." jawab dengan santai. apa kamu lupa jika setiap malam kita selaku bercinta, jangan katakan jika kamu juga memulai dengan pria brengsek ini." tunjuk Devan.


"Aku benci kamu Devan, dasar pecundang." teriak Mutiara.


"Apa bedanya, kita sama-sama pecundang. bahkan kamu memanfaatkan kelemahan Gavin, untuk mendapatkan keuntungan, meskipun aku lawan yang terlalu cerdik untuk kamu kalahkan." balas Dev.


"Aku tidak pernah memanfaatkan Gavin?"

__ADS_1


__ADS_2