
Mutiara kembali menjadi pengganguran, namun dia tidak takut. bahkan dia tidak peduli dengan pekerjaan apapun yang penting bisa menghasilkan uang.
Mutiara bekerja dari pagi hingga sore disebuah restoran cepat saji, pekerjaan yang cukup melelahkan. namun dia merasa lega dan bisa terbebas dari Devano.
Sampai dirumah Mutiara terlihat sangat kelelahan, terkadang dia langsung tidur tanpa sempat bercanda gurau seperti biasa nya dengan anak-anak.
"Mutiara, bibi perhatikan dalam Minggu ini kamu selalu kelelahan. tidak seperti biasanya?" tanya bibi kawathir.
"Bi, aku ngak papa kok." tersenyum menyembunyikan kelelahan, termasuk jika dirinya sudah tidak bekerja lagi diperusahaan besar.
"Kalau capek, kamu istrahat saja. biar anak-anak bibi yang urus."
"Terimakasih ya bibi."
"Iya sayang."
Mutiara kembali melanjutkan tidurnya, bekerja sebagai pramusaji membuat nya benar-benar kelelahan.
Paginya Mutiara sudah Bagun dan bersiap-siap untuk kembali bekerja, meninggalkan anak-anak yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
Restoran tempat Mutiara bekerja harus menjamu sebuah acara besar, selain datang lebih pagi Mutiara juga diharuskan untuk bekerja lembur malam ini.
"Ini adalah acara besar, saya harap tidak ada yang melakukan kesalahan." ucap Bu Dina mengingatkan para pelayan nya.
"Baik Bu."
"Tidak terkecuali kamu Mutiara, meskipun kamu anak baru di restoran kita. tunjukkan keseriusan dan kenerja mu untuk kemajuan restoran kita. dengan memberikan pelayanan sebaik-baiknya terhadap pelanggan."
"Tugas saya nanti sebagai apa Bu?"
"Priska akan mendorong troli berisi makanan, dan tugasmu menata menu di meja yang sudah disediakan. kamu paham."
"Setengah jam lagi acara di aula utama akan dimulai, segeralah bersiap." Bu Dina membagikan seragam baru khusus untuk acara malam ini. para pelayan juga diminta berdandan agar penampilan mereka terlihat menarik dan bersih, sehingga enak dipandang mata, mengingat tamu mereka kali ini bukan orang sembarangan.
Setelah menata menu pembuka, para pelayan restoran mewah ini pun diminta untuk sementara waktu keluar dari ruangan, nantinya akan dipanggil lagi saat acara makan akan dimulai.
Terdengar suara operator dari Walkie-talkie, yang memberitahukan jika para pelayan segera bersiap-siap karena acara makan malam akan segera dimulai.
"Mutiara, dengar-dengar didalam nanti kita bisa melihat para orang-orang besar. selain memiliki banyak uang mereka juga tampan." bisik Priska menjadi sibuk dengan penampilan nya sendiri. agar terlihat lebih menarik, sedangkan Mutiara hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabat barunya.
__ADS_1
"Mutiara, lihatlah salah satu dari mereka ada yang baru datang." bisik Priska.
Semua mata tertuju pada sosok pria tampan, postur tubuh tinggi tegap menuju kearah Aula utama. Mutiara tidak bisa melihat jelas setelan biru tua yang pas dilengkapi dengan tubuh yang kekar dan dada yang bidang. dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya, namun dia bisa melihat sepasang kaki lurus sempurna yang mengarah kearahnya.
Sepasang sepatu kulit coklat, sudut tatapan pria itu memiliki aura yang begitu kuat, apalagi semakin lama dia semakin mendekat.
"Sangat tampan, dan penuh kharisma." gumam Priska tanpa sadar terdengar jelas ditelinga Mutiara yang gemetar.
Meskipun pria itu memakai kaca mata hitam, wajahnya terpahat sempurna dan bibirnya yang seksi sudah membuat wanita manapun tergila-gila padanya. bahkan para pelayan wanita terus memuji ketampanan seorang Devano. yang diikuti beberapa orang yang mengenakan jas berwarna hitam dibelakangnya. rasa penasaran membuat Mutiara mengangkat kepalanya perlahan.
"Devano, tidak.... kenapa kami dipertemukan kembali." menggelengkan kepalanya, berfikir jika dia hanya berhalusinasi.
Ucapan Mutiara, membuat semua beralih menatap nya, bahkan ada yang tersenyum miring melihat keberanian seorang pelayan, memangil langsung nama Presdir yang cukup berkuasa di negara ini.
"Mutiara, hati-hati dengan ucapan mu." bisik Priska.
Devano menghentikan sejenak langkah kakinya, melirik sekilas Mutiara, bersikap seolah-olah tidak mengenali gadis itu. kemudian melanjutkan lagi langkahnya memasuki ruangan.
"Mutiara, kenapa kamu masih berdiri seperti patung dalam situasi seperti ini. cepat masuk dan segera bergabung dengan teman-teman mu menata menu hidangan makan malam untuk para tamu istimewa kita." ucap Bu Dina.
__ADS_1
"Ba... baiklah Bu." ucap Mutiara kembali tersadar dari lamunannya, segera masuk mengikuti Priska dan yang lainnya dari belakang.