Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Bayangan malam itu


__ADS_3

Semua pelayan sudah masuk, mendorong troli berisi makanan. Mutiara dengan senyum ramah dan sopan mulai menata menu dimeja yang sudah disediakan.


Tangan Mutiara semakin gemetar, susah payah dia memegangi agar makanan tersebut tidak tumpah.


"Terimakasih." ucap Devano pelan saat Mutiara selesai menata menu dimeja nya.


"I...iya tuan."


****


Malam mulai larut, begitu juga dengan kendaraan yang melintas di jalanan mulai lengang. dikarenakan hujan yang belum berhenti. sebagian teman-teman Mutiara tinggal di mess khusus disediakan untuk para karyawan, dari awal Priska sudah menawarkan Mutiara untuk nginap saja ditempat nya, namun Mutiara menolak secara halus. tidur dan berkumpul bersama anak-anak adalah moment yang paling indah dan tidak akan pernah tergantikan.


Mutiara berlari-lari kecil menuju halte, merapatkan jaketnya untuk mengurangi rasa dingin. Devano yang duduk dekat jendela mobilnya secara tidak sengaja melihat Mutiara yang kedinginan menunggu bis yang lewat.


"Jims, tepikan mobil nya."


Dari balik kemudi, Asisten Jims tersenyum bangga, dia tidak menyangka dibalik sikap dinginnya. Devano sangat baik hati.


"Masuklah kedalam mobil ku." ucap laki-laki tampan tersebut seraya menunjuk mobil mewah miliknya.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih tuan. sebaiknya anda pergi dan tinggalkan aku sendiri. tuan tahu sendiri jika aku adalah wanita yang hanya menginginkan uang Anda." ucap Mutiara.


Devano terlihat kesal, dia masuk kembali kedalam mobil, memberi kode sehingga Jims yang duduk dihadapannya dengan sigap langsung membuka pintu mobil. lalu membujuk gadis malang tersebut agar bersedia untuk diantar kan pulang kerumahnya.


"Nona Mutiara, sekarang sudah sangat larut. berbahaya bagi gadis seperti mu sendirian ditempat ini, banyak kejahatan yang mengintai. apa kamu mau dilecehkan para preman jalanan." ucap asisten Jims. yang sukses membuat Mutiara bergidik ngeri dan bersedia masuk kedalam mobil, duduk bersebelahan dengan Devano.


Begitu pintu ditutup, mobil langsung meleset meninggalkan area jembatan yang sepi, sehingga Mutiara yang belum sempat duduk dengan baik, refleks terjatuh kesamping mengenai tubuh pria dingin yang masih berpenampilan lengkap dengan stelan jas, dasi dan celana hitam,dengan posisi yang begitu dekat, Mutiara bisa merasakan deru nafas dengan aroma mint. pandangan mata mereka bertemu beberapa detik, hingga Mutiara tersadar kembali dan duduk dengan posisi normal.


"Maaf saya tidak sengaja tuan, sopir mu terlalu bar-bar dalam mengendarai mobil." ucap Mutiara gugup. sedangkan Devan langsung melonggos kesal dan acuh merapikan kembali jasnya.


"Oya tuan, kenapa anda begitu baik hati ingin menolong ku. bukankah Anda sudah tahu apa tujuan saya semula mendekati Anda?" Mutiara kembali bertanya meskipun selalu mendapatkan tanggapan cuek dan dingin dari Devan. namun tiba-tiba bibir pria tampan itu tergerak dan berkata.


"Mati aku! terjebak dengan perkataan ku sendiri." bathin Mutiara seraya menggigit bibir bawahnya, seraya memikirkan kata-kata yang tepat.


"Eh itu, aku sudah melupakannya tuan."


"Mmmmhh..., semudah itu kamu melupakannya."


Devano menarik sebelah tangan Mutiara, hingga gadis itu refleks jatuh kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku paling tidak suka dengan perempuan yang suka main-main dengan ku." Devan semakin menekan tubuh Mutiara.


Sebuah benda kenyal yang terasa manis, mendarat dibibir Mutiara, hingga membuat nya kewalahan untuk bernafas dengan sempurna.


Jims yang selama hidupnya menyandang status jomblo akut, mengendarai mobil layaknya orang mabuk. karena konsentrasi nya kembali buyar menyaksikan tuan mudanya berciuman mesra dengan seorang gadis cantik, sesuatu yang hampir tidak pernah dia lakukan dengan perempuan manapun.


"Jiwa jomblo ku meronta-ronta menyaksikan hal ini, namun apa daya. diumur ku segini belum pernah merasakan indahnya Surga dunia." gumam Jims.


"Jims, tetap lah konsentrasi dengan dengan pekerjaan mu. jangan menoleh lagi kebelakang ataupun dari kaca spion, karena hal itu bisa membuat kita semua celaka." teriak Devano. namun hanya beberapa saat.


"Tuan, tolong lepaskan aku." bayangan malam itu kembali melintas, saat Devan kembali memperdalam ciumannya. Devan semakin bergairah dan ingin merasakan kembali malam panjang yang pernah mereka lalui.


Mutiara mengumpulkan keberaniannya, dia memukul-mukul punggung Devan. mengigit bibir Devan hingga mengeluarkan darah, saat pagutanya terlepas dia segera memanfaatkan kesempatan untuk menghindar dengan duduk di ujung kursi mobil.


"Sial."


Devan mengambil tissue dan mengelap bibirnya, kepalanya terasa pusing seraya menyandarkan tubuh disandararan kursi, berusa mengendalikan gairah dan menenangkan kembali pikirannya.


Jims menyeka keringat dingin yang membasahi wajah nya, ini pertama kali dia melihat tuan muda beraksi dengan begitu berani.

__ADS_1


"Ya mereka berhenti melakukannya, padahal semula aku sempat berfikir jika permainan ini akan berlanjut ketahap berikutnya." bathin Jims dimana otaknya ikut terkontaminasi oleh pikiran mesum seorang jomblo yang selalu merindukan kasih sayang.


__ADS_2