
Cukup lama Mutiara tertidur, rasa lapar membuatnya mau tidak mau akhirnya membuka mata yang masih terasa berat karena ngantuk, dia melirik jam yang tergantung di dinding utama kamar mewah ini.
"Sudah jam sembilan malam?"
Dengan malas, gadis cantik berpenampilan sederhana itu beranjak menuju westafel untuk membersihkan wajah. tujuannya saat ini pergi ke restoran Jepang yang terletak dilantai lima hotel berbintang ini.
"Lapar benget." seraya mengusap lembut perutnya yang sudah minta untuk diisi segera.
Mutiara mengolesi wajahnya dengan bedak tipis, dan lipstik dengan warna lembut, begini dia merasa sedikit nyaman.
"Tempat ini sangat indah, aku akan menikmati kesendirianku untuk beberapa saat."
Mutiara melangkah keluar meninggalkan kamar hotel, tujuannya adalah makan, karena untuk menghadapi seorang Devan yang sulit ditebak sifat egoisnya, dia harus kuat dan tidak boleh lemah.
Mutiara tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya, yang menatap kagum kecantikan natural, tidak ada yang berlebihan dari penampilan nya yang terkesan sederhana, namun ellegan sebagai wanita kelas atas.
"Aaagggh..., apa kabarnya Devan, kenapa dia mencari-cari ku. atau malah asyik dengan pekerjaannya yang tidak habis, ataupun para perempuan yang selalu berusaha untuk mendapatkan perhatiannya itu... huuuffp..."
***
Devano masih uring-uringan,
"Sudahlah Dev, biarkan Mutiara sendiri dulu. saat ini dia lagi emosi dan butuh liburan sendiri untuk menenangkan pikiran nya, setelah ini dia bakal balik pulang dengan sendirinya." bujuk mami.
"Tidak semudah itu, mi. aku sudah terbiasa ada Mutiara disampingku. aku sadar jika tidak bisa hidup tanpa Mutiara dan aku juga minta maaf karena sudah kasar memperlakukan nya, jadi wajar jika Mutiara belum bisa mencintai dan menerima diriku sepenuhnya." ucap Devan tertunduk lesu.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu disesali lagi Devano, seharusnya dari awal kamu mengerti dalam memperlakukan seorang wanita, kejarlah Mutiara sebelum semuanya terlambat, mami akan menunggu mu dengan mempersiapkan Pesta pernikahan yang mewah untuk kalian berdua nantinya."
"Tentu mi, terimakasih atas dukungan mami yang sudah membuat ku tersadar akan arti pentingnya menjaga suatu hubungan yang harmonis dan saling mencintai."
Sebelum menuju bandara, Devan menghubungi asistenya.
"Cepat perintahkan orang-orang kita untuk melacak keberadaan istriku, Mutiara."
Setelah menempuh perjalanan jauh dengan penerbangan khusus, Devan akirnya sampai. dia tidak pernah berhenti mencari keberadaan sang istri, bahkan dia memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan Mutiara, karena mami masih merahasiakan dan meminta Devan berusaha keras lagi.
"Kemanapun kamu bersembunyi, aku pasti akan menemukan mu dengan mudah, Mutiara."
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukan hal itu, Devan kembali mendapatkan laporan terbaru mengenai istri nya.
"Syukurlah, ternyata aku menemukanmu kembali sayang. aku akan kesana untuk menjemputmu pulang kerumah kita, aku yakin kamu juga pasti sangat merindukan aku, maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu, Mutiara. tapi aku akan berusaha untuk itu." gumam Devan tersenyum senang.
Devan segera melakukan mobilnya menuju tempat penginapan Mutiara. lumayan jauh. tapi demi istri tercinta tidak menyurutkan semangat Dev untuk segera sampai di sana.
***
Begitu sampai di hotel mewah yang dimaksud, Dev keluar dari mobilnya, berjalan tergesa-gesa kearah kamar penginapan Mutiara. setelah mendapat informasi dan menunjukkan jika dia suami Mutiara. Devan segera menuju kamar sang istri.
"Tempat ini sangat indah, ternyata istriku datang kesini untuk menenangkan hati dan pikirannya. ide mami benar-benar brilian. istriku sayang aku datang menjemput mu, bersiap-siap lah menerima hukuman dariku, karena sudah berani-beraninya mencoba kabur dariku." gumam Devan mempercepat langkah kakinya menuju pintu masuk.
Dalam kamar, Mutiara yang baru selesai menikmati makan malam nya terkejut mendengar pintu kamar nya diketuk dari luar.
__ADS_1
"Siapa yang mengetuk pintu kamarku, padahal aku tidak pesan apapun." dengan hati yang masih bertanya-tanya, Mutiara membuka pintu kamar.
"Devano."
"Hallo my wife."
Mutiara terkejut melihat kedatangan suaminya, bahkan sudah mengetahui keberadaannya sekarang.
"Apa mami yang sudah memberi tahu, tidak mungkin? karena mami ingin aku menikmati liburan ini sendiri." bathin Mutiara.
"Bagaimana liburan mu tanpa aku, suamimu?"
Devan langsung masuk. seraya menarik sebelah tangan Mutiara, nampak wajah penuh kerinduan dari pancaran matanya.
"Untuk apa kamu mencariku dan datang kesini, bukankah seharusnya kamu bisa bebas menikmati bercinta dengan para wanita penggemar mu itu, apakah mereka tidak bisa memuaskan dirimu." ucap Mutiara.
"Tentu saja mereka tidak akan mampu, karena aku hanya butuh kamu, please jangan cemburu lagi, Ariana sudah dipenjara sekarang."
"Ha...ha... untuk apa aku harus cemburu." jawab Mutiara memalingkan wajahnya tidak mau bersitatap dengan Devan, takut ketahuan jika dia juga sangat merindukan suaminya itu.
"Jadi apa semua ini, kamu pergi dari rumah tanpa izin dariku."
"Aku hanya ingin menikmati liburan, yang merupakan hadiah dari mami mertuaku." Mutiara mencoba tersenyum.
"Begitu ya, mulai sekarang kamu harus patuh dan mendengarkan ucapan dariku seorang, meskipun itu orang tuaku. kamu tidak berhak mematuhinya jika tanpa izin dariku, suamimu." Devano mengunci pergerakan Mutiara.
__ADS_1