Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kamu meragukan kekuatan ku


__ADS_3

Sore harinya, Anak-anak meminta untuk mandi sambil berendam. Mutiara sangat senang ikut bergabung bermain dengan anak-anak diantara banyaknya gelembung busa sabun, aroma wangi yang sangat menyenangkan. mereka memainkan gelembung busa dengan menerbangkan ke udara ataupun menusuk-nusuk dengan jari-jari mungil yang montok, seraya tertawa lepas.


"Rasanya aku tidak ingin, kebahagiaan bersama anak-anak ku berakhir begitu saja. mereka sangat lucu dengan tingkah polah nya yang selalu mencuri perhatian semua orang." gumam Mutiara.


Cukup lama mereka bermain air, akirnya Mutiara membujuk Anak-anak dengan lembut agar segera membilas badannya dan kembali berpakaian. Mutiara tidak ingin mereka masuk air karena terlalu lama berendam.


Reyhan dan Reyhina langsung menuruti perintah maminya, Mutiara membantu memakai kan piyama tidur dengan motif-motif karakter kartun favorit mereka masing-masing. lalu mengiringi satu persatu menuju ranjang.


"Sudah waktunya kalian berdua untuk istrahat." bujuk Mutiara. lalu keluar dari kamar Anak-anak tugas Mutiara digantikan pengasuh.


"Mami mau kemana?"


"Mami ingin mandi dikamar mami sendiri, kalian lihatlah pakaian mami basah." ucap Mutiara, Anak-anak akhirnya mengerti. lalu melanjutkan untuk istrahat karena sudah capek hampir seharian menghabiskan waktu dengan bermain-main, yang tidak pernah membuat mereka merasa bosan.


Mutiara segera masuk kedalam kamar mandi, namun saat akan mengunci pintu. Devan tiba-tiba memegangi gagang pintu seraya menatap nya dalam.


"Kamu mau apa?" ucap Mutiara berusaha mendorong tubuh Devan, namun ditahan karena Dev ingin masuk kedalam kamar mandinya.


"Kamu masih bertanya apa mau ku? barusan kamu memandikan Anak-anak, sekarang giliran ku." ucap Devan tersenyum mesum.


"Jangan gila!"


Mutiara ingin keluar namun terlambat, pintu sudah dikunci otomatis oleh Devan dengan sidik jarinya, Mutiara melindungi tubuh dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku sudah melihat setiap lekuk bagian tubuh mu, untuk apa masih malu-malu!"


Devano melepas satu persatu pakaian nya sendiri, lalu berdiri dibawah guyuran shower yang lembut dan sejuk menyentuh kulit nya, membiarkan Mutiara menyaksikan nya mandi.


"Aku tidak pernah menyangka, seorang tuan Devan yang berkuasa sangat menyukai jika tubuhnya menjadi bahan tontonan ketika sedang mandi." ucap Mutiara dengan nada mencemooh. bibir Devan menyeringai lalu menarik tangan Mutiara hingga terbentur ke dada bidangnya.


"Sekarang kamu tidak menjadi penonton lagi, kita sama-sama mandi." Dev membuka paksa pakaian Mutiara, hingga mereka sama-sama polos.


"Anda memang tidak tahu malu, tuan."


"Kamu terlalu banyak bicara."


Dev mengunci pergerakan Mutiara, ciuman nya mulai menjalar ke seluruh wajah, leher dan dada Mutiara. meskipun meronta-ronta namun Mutiara akan tetap kalah oleh tenaga Devan.


Mutiara lebih memilih untuk memejamkan mata karena merasa risih dengan posisi seperti itu, namun Devan malah tersenyum dan berfikir jika Mutiara sangat menikmati permainannya.


Malam harinya, dua pasang langkah kecil saling kejar-kejaran menuju kamar Mutiara. mereka tersenyum ketika melihat keberadaan papi yang juga ada dalam kamar sang mami.


"Mami dan papi lagi main apa?" tanya Reyhina, refleks Devan melepaskan pelukannya, sedangkan Mutiara langsung mendorong kasar Devan hingga membuatnya terguling jatuh dari kasur.


Devan terlihat sangat kesal, namun dia tidak bisa berbuat banyak dihadapan kedua Anak-anak. belum sempat Devan berdiri dengan sempurna Reyhan melompat keatas punggungnya.


"Hore aku berhasil menangkap papi." teriak Reyhan kesenangan. dia berfikir tengah bensin seperti yang dilakukan Devan dan Mutiara barusan.

__ADS_1


"Sekarang giliran papi, yang akan mengangkat tubuhmu." Devan menarik Reyhan lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, tawa lepas Reyhan terdengar nyaring.


"Hore aku terbang!" teriak Reyhan.


"Papi sekarang giliran ku."


Reyhina tidak mau kalah, dia menarik-narik celana Devan, dengan ekspresi cemberut sehingga terlihat semakin imut dan cantik, sangat mirip dengan Mutiara jika sedang kesal.


"Oke."


Devan menurunkan Reyhan, sekarang giliran Reyhina yang tertawa bahagia. setelah puas main dengan anaknya, Devan menurunkan Reyhina.


"Papi, sekarang giliran mami. dia pasti juga mau diangkat oleh papi." Reyhan menunjuk mami nya yang kaget dan mundur perlahan-lahan.


"Sayang, tubuh mami sangat berat. papi tidak akan sanggup untuk mengangkat mami." ucap Mutiara mencoba meyakinkan Anak-anak.


"Apa kamu meragukan kekuatan ku?" Devan mendekati Mutiara seraya tersenyum.


"Apa yang akan kamu lakukan, Dev tolong lepaskan aku." teriak Mutiara.


Devan mengangkat tubuh Mutiara, namun karena terus meronta-ronta Devan kehilangan keseimbangan. tubuh Mutiara jatuh di kasur sedangkan Devan ikut jatuh menimpa tubuhnya dari atas. sedangkan anak-anak tertawa menyaksikan.


"Devan cepat bangkit dari tubuh mu, posisi ini tidak pantas dilihat Anak-anak." umpat Mutiara dengan wajah memerah saking kesalnya. Devan bangkit dengan santainya, lalu meminta Anak-anak untuk ikut bergabung di atas kasur.

__ADS_1


Malam ini, mereka tidur satu ranjang dalam kamar yang sama. dengan posisi kedua Anak-anak ditengah-tengah, menggambarkan sebuah keluarga yang utuh dan bahagia.


__ADS_2