
"Bibi kita harus pergi secepat nya."
"Baiklah Mutiara."
Bibi Erika mulai berkemas, meskipun berat baginya meninggalkan rumah peninggalan suaminya. namun keselamatan Mutiara dan anak-anak jauh lebih penting dari segalanya.
Bibi Erika sengaja mengambil penerbangan pertama untuk pulang, dia mengajak kedua anak-anak Mutiara. selama perjalanan jauh, Reyhina dan Reyhan terlihat sangat antusias, mereka sangat bahagia ketika merasakan bagaimana naik pesawat terbang untuk pertama kalinya.
"Itu ada awan putih." tunjuk Reyhina seraya tertawa.
"Oma, seru ya. semua yang dibawah terlihat mengecil."
"Iya, saat ini kita tengah terbang di udara." ucap Erika mengusap sayang kedua cucu-cucunya.
"Coba disini ada mami!" Reyhina tiba-tiba menundukkan kepalanya, ekspresi nya terlihat sangat sedih.
"Nanti setelah kita sampai dirumah, mami juga bakal nyusul. sehingga kita bisa berkumpul lagi." bujuk Oma.
"Benarkan Oma."
"Tentu Sayang." ke-dua bocah-bocah itu kembali tersenyum dengan ceria, tanpa mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi oleh ibu mereka.
***
__ADS_1
Mutiara juga mulai berkemas, setelah mendapatkan informasi jika bibi Erika dan anak-anak telah sampai dengan selamat di tanah air.
"Syukurlah, perjalanan panjang bibi dan anak-anak tidak mengalami hambatan."
Mutiara segera menuju bandara, tidak ada lagi kekhawatiran karena sudah mendapatkan izin dari Devano. saat ini Mutiara hanya ingin segera sampai di tanah air lalu berkumpul lagi dengan anak-anak, setelah dia akan mencari tempat yang paling aman agar bisa bersembunyi dari Devan untuk selamanya.
"Aku tidak akan pernah bisa menerima mu, Devano. sikapmu yang seperti ini semakin membuat ku ingin menjauh sejauh mungkin darimu. Anak-anakku tidak perlu mengetahui tentang ayah mereka." bathin Mutiara.
Mutiara tersenyum lega, setelah pesawat mulai mendarat di udara, yang artinya dia sudah benar-benar pergi meninggalkan Devan dan segala kenangan yang beberapa tahun ini dia dapatkan di negara tersebut.
Sampai dibandrara internasional, Mutiara langsung menyewa taxi menuju kampung halaman mama. dia tersenyum senang karena bisa berkumpul dengan anak-anak kembali.
"Mami datang! cepat buka pintunya." teriak Reyhina antusias.
"Mami!"
"Mami!"
"Apa kalian betah tinggal di rumah nenek buyut?"
"Betah mi, disini sangat nyaman kami menyukainya."
"Syukurlah, mami senang mendengarnya."
__ADS_1
"Apa perjalanan mu, aman?" tanya bibi kawathir.
"Ya bibi, sepertinya tidak ada hal yang mencurigakan yang aku temukan." jawab Mutiara.
Sore harinya, Mutiara mengajak anak-anak untuk berkunjung ke makam keluarga, memperkenalkan Reyhina dan Reyhan sebagai anak-anak nya. Mutiara juga minta maaf atas kesalahan masa lalu dan berharap semua dapat menerima kehadiran kedua anak kembarnya.
Ada rasa bahagia dan kelegaan, setelah kembali pulang ke kampung halamannya.
"Mutiara, apa kamu yakin jika tidak mengunjungi papamu?" tanya bibi hati-hati.
"Tidak bi, papa akan bahagia meskipun tanpa kehadiran ku." jawab Mutiara sedih.
"Mami, besok kita pergi kepusat permainan ya?"
"Boleh, tapi jangan nakal ya."
"Iya mami, kami janji tidak akan nakal."
"Bagus, mami suka mendengar nya."
Malamnya mereka lalui dengan makan-makan bersama keluarga dan tetangga terdekat, mereka menyambut hangat kepulangan Mutiara dan anak-anak. meskipun banyak diantara mereka yang mempertanyakan tentang keberdaan suaminya.
Sambil tertunduk dalam, Mutiara mengatakan jika suami sudah lama meninggal dunia. mereka terlihat mempercayai perkataan gadis itu, karena mereka tahu jika Mutiara adalah wanita baik-baik mustahil jika dia pernah melahirkan tanpa seorang suami.
__ADS_1