Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kemarahan Natali


__ADS_3

Devan memasuki ruangan tempat Mutiara, dia berjalan semakin mendekat, Mutiara mundur berusaha melindungi dirinya.


"Aku sudah pernah bilang, jangan pernah muncul dihadapan ku?"


"Ini pertemuan tidak sengaja, aku sudah berusaha untuk menghindari mu tuan, bahkan ini juga alasan utamaku mengundurkan diri dari perusahaan mu semula." ucap Mutiara ketakutan.


"Kamu mengundurkan diri, agar bisa bertemu dengan Gavin, bukan?" tanya Devan semakin mengintimidasi.


"Aku juga tidak tahu, kemaren Gavin muncul secara tiba-tiba. menawarkan persahabatan tidak lebih." bayangan hitam seakan menyelimuti Mutiara, nafasnya dan detak jantung nya seakan berhenti seketika.


"Apa salahku padamu Devan, bahkan diantara kita tidak ada hubungan apa-apa, tapi kamu memperlakukan aku layaknya tawanan!"


"Jadi kamu ingin hubungan yang pasti dengan ku, oke. kita akan memulai nya." ucap Devan tersenyum penuh misteri.


"Jangan, bukankah kamu sudah bertunangan dengan Natali."


"Natali tidak penting bagiku." balas Devan, seraya mencium buas bibir Mutiara, hampir gadis itu kehilangan cara untuk bernafas karena serangan tiba-tiba.


"Jangan, aku tidak bisa melakukannya dengan mu."


"Jadi kamu ingin melakukan dengan Gavin?"


"Tidak dengan siapapun, mengerti."


"Ingat! jika aku menemukan kamu kembali bertemu Gavin, aku tidak akan pernah memberikanmu ampun."


"Ya aku berjanji, jika perlu aku akan meninggalkan negara ini untuk selamanya." balas Mutiara lega karena Devan sudah melepaskan tubuh nya.


"Tidak semudah itu untuk lepas dariku, kamu tidak akan aku izinkan meningal kan negara ini, jadi jangan coba-coba untuk kabur dariku." ancam Devan sebelum pergi.


"Aku merasa hidup ku selalu dibawah kendali mu, Devan." bathin Mutiara meninggalkan kamar. dia ingin segera pulang bertemu dengan twins. sejauh ini Mutiara masih bersyukur karena Devan tidak pernah ingin ataupun mencari tahu tentang keberdaan anak-anak nya, tapi untuk kedepannya Mutiara tidak bisa menjamin akankah mereka bisa aman.

__ADS_1


Saat melangkah menuju pintu belakang, Mutiara diikuti oleh Natali secara diam-diam.


"Hey ****** tunggu." teriak Natali menghadang langkah Mutiara.


"Natali!"


"Plack."


Tamparan keras melayang dipipi Mutiara, Natali tidak mampu mengendalikan amarahnya, begitu mengetahui jika Devan dan Mutiara barusan berada dari kamar yang sama.


"Kenapa kamu menampar ku?" Mutiara meringis menahan sakit, bahkan gambaran jemari tangan Natali terlihat jelas.


"Apa masih kurang, aku akan menambahkan lagi." Natali kembali melayangkan tamparan keras, namun tangannya terhenti di udara.


"Plack."


Mutiara membalas tamparan Natali, dia merasa tidak takut lagi.


"Aku tidak takut pada perempuan seperti mu, dan aku juga tidak pernah memiliki masalah dengan mu." ucap Mutiara.


"Jauhi Devan, jika tidak aku akan membuat perhitungan lebih berbahaya lagi dengan mu." ancam Natali.


"Aku tidak pernah mendekati Devan, dialah yang terus mengikuti dan menghantuiku." balas Mutiara berlalu pergi meninggalkan Natali yang menghentak kakinya marah.


"Awas kamu, aku akan buat perhitungan dengan mu, Mutiara."


Mutiara mempercepat langkah, ketika menyadari sebuah mobil terus mengikutinya dari belakang. mobil berhenti dihadapannya, seorang laki-laki yang mengunakan masker dan topi menarik kasar tangannya. lalu membekap mulut Mutiara dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Mutiara dibawa kesebuah tempat, tubuhnya disiram dengan air es sehingga dia tersadar kembali.


"Hey bangun kamu ******!" teriak Natali.

__ADS_1


"Uuuhhh..." Mutiara berusaha bangun, menatap Natali dihadapannya.


"Dasar wanita murahan, seharusnya kamu itu sadar diri jika ingin bersaing dengan ku untuk mendapatkan Devan." teriak Natali dengan tatapan tajam penuh Kemarahan.


"Aku tidak pernah mengharapkan Devan, juga tidak menginginkan nya. kamu ambil saja Devan untuk dirimu sendiri, atau kamu perlu bantuan ku." jawab Mutiara tersenyum meremehkan Natali, sehingga perempuan itu terlihat sangat murka.


"Apa? aku bukan pengemis apalagi mengharapkan bantuan mu."


"Kalian silahkan nikmati tubuh gadis ini." ucap Natali pada anak buahnya.


"Kamu akan menyesal Natali, sudah memperlakukan aku seperti ini." teriak Mutiara berusaha untuk bisa lepas.


"Menyesal hah, apa Devan mu itu akan datang menolong ...ha...ha..."


"Devan tidak akan datang, tapi aku yang akan membuat perhitungan dengan kalian." Gavin yang mengetahui bahaya mengintai Mutiara segera mengikuti mobil Natali.


Semua terlonjak kaget melihat kedatangan Gavin, yang tiba-tiba.


"Minggir kalian semua, sebelum aku memenjarakan kalian." anak buah Natali yang berjumlah dua orang itu mundur ketakutan, mereka sangat mengenal siapa Gavin.


Natali tidak menyangka jika Gavin dan Devan begitu memperebutkan dan melindungi Mutiara, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.


"Ingat Natali, jika kamu masih mengganggu Mutiara atau menyakiti nya, aku akan melaporkan perbuatan mu, bahkan aku pastikan Devan akan mengakhiri pertunangan kalian malam ini juga."


"Jangan, aku mohon jangan beritahukan Devan." Natali memohon dan segera pergi begitu saja.


"Gavin, aku tidak tahu harus bicara apa, terimakasih sudah menolongku." ucap Mutiara sangat bersyukur karena Gavin datang tepat waktu.


"Tentu Mutiara, aku akan selalu menjadi dewa penolong bagimu." ucap Gavin tersenyum penuh arti.


"Tidak sia-sia aku bekerja sama dengan Natali, Mutiara sekarang sudah mulai lembut padaku, tinggal selangkah lagi aku bisa mendapatkan simpati darimu." bathin Gavin.

__ADS_1


__ADS_2