
Saat tengah memperbaiki sedikit penampilannya, secara tidak sengaja Mutiara melihat sebuah camera cctv. dia yakin jika dirinya tengah diawasi seseorang, layaknya seorang tawanan yang tidak bisa Kabur begitu saja. tanpa ragu timbul ide untuk bertingkah konyol. dengan berani Mutiara melirik camera seraya memamerkan wajah badutnya berkali-kali.
Seorang pria tampan, yang tengah memperhatikan kekonyolan dan keabsurdan Mutiara, melalui layar laptop tertawa lepas ditengah-tengah rapat besar yang sedang dipimpinnya.
Suasana rapat yang semula tegang, yang dihadiri berbagai direktur kepala divisi, para investor dan asisten pribadinya Jims. menatap heran seraya menggelengkan kepala melihat tingkah presiden direktur mereka.
"Tuan, tolong jaga wibawa Anda." bisik Jims, namun Devano mengabaikan dan tetap fokus memperhatikan Mutiara yang sudah keluar dari lift.
"Jims, tolong kamu tunjukkan meja kerja Mutiara dan ajari dia, pastikan posisi ruangannya bisa terlihat olehku secara leluasa." perintah Devano.
"Maaf tuan, kita sedang rapat besar. bukankah itu tugas Monalisa?" ucap Jims.
"Kamu berani menyanggah perintah ku?" ucap Devano dengan tatapan mata tajam.
"Maaf tuan, baiklah saya segera menemuinya." Jims segera keluar untuk menemui Mutiara.
"Lanjutkan rapatnya, saya ingin tahu kinerja kalian dalam Minggu ini apakah patut untuk dipertahankan diperusahaan ini atau malah sebaliknya." ucap Devano seraya tersenyum tipis, namun menyiratkan sebuah ancaman.
__ADS_1
Seketika suasana ruangan rapat kembali panas, mereka sangat takut akan kemarahan seorang Devano, yang tanpa ampun akan memberikan saksi terhadap kesalahan sekecil apapun.
Meskipun Devano masih sangat muda dibandingkan peserta rapat, namun kemampuannya dalam berbisnis di kancah internasional sudah tidak diragukan lagi.
Mutiara memasuki sebuah ruangan, Jims segera datang lalu memperkenalkan Mutiara sebagai staf keuangan yang baru bergabung hari ini. diluar dugaan Mutiara, teman-teman barunya menyambut hangat dan ramah dirinya.
Mereka pun dengan senang hati membantu dan mengajari Mutiara tentang tugas-tugas nya. karena tergolong gadis yang cukup pintar dan semangatnya untuk menjadi wanita sukses, tidak butuh waktu lama bagi Mutiara belajar. dengan mudah dia cepat paham dan mengerti dengan pekerjaannya.
"Mutiara, sekarang aku adalah atasan kamu. jika ada yang kurang atau perlu ditanyakan, hubungi saja saya atau Monalisa." ucap Jims.
"Baik pak, terimakasih." balas Mutiara tersenyum ramah.
"Aku tidak boleh kalah oleh permainan Devano, sebaiknya aku tetap berpura-pura tidak mengenalnya, seolah-olah tidak ada kejadian diantara kami. dengan begini aku akan tetap aman." bathin Mutiara menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan dari mulutnya.
"Jims, suruh staf baru itu masuk keruangan ku. aku akan memberikan tugas khusus untuk nya." perintah Devano.
"Tugas khusus???"
__ADS_1
"Cepat laksanakan perintah ku, jangan terlalu banyak bertanya dan ikut campur." Devano terlihat mulai kesal karena jika akir-akir ini suka membantah dan terlalu ikut campur.
"II...iya tuan." Jims segera menemui Mutiara kembali.
"Mutiara, kamu diminta menghadap presdir sekarang!"
Mutiara kembali menarik nafas dalam dan tetap bersikap tenang. mengikuti langkah Jims memasuki ruangan Devano.
Tok... tok...
Mutiara dan Jims mengetuk pintu ruangan presdir terlebih dahulu. menunggu jawaban dari dalam.
"Masuk."
Suara Devano yang bergema, membuat detak jantung Mutiara mulai tidak beraturan bahkan tangan langsung gemetaran, Jims masuk terlebih dahulu, kemudian Mutiara mengekor di belakangnya, Mutiara mengangkat wajah lurus kedepan. Tapi tidak dengan pandangan matanya yang tidak ingin bersitatap dengan Devano, yang terus memperhatikan penampilannya.
Devano menatap Mutiara tanpa berkedip, namun sayang yang ditatap terlihat sangat cuek dan dingin. bahkan jika Mutiara tersenyum pun seolah-olah dipaksakan.
__ADS_1
"Jims, sekarang kamu sudah boleh keluar."