
Sebelum masuk, Mutiara menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. dia harus mempersiapkan dirinya untuk melihat kedekatan Devan dengan Ariana nantinya.
Mutiara berusaha untuk bersikap profesional, mengabaikan sikap Ariana yang terus berusaha menebar kemesraan. meskipun terlihat jika Devan tidak menyukai hai itu. dia terlihat lebih fokus memperhatikan ekspresi wajah Mutiara yang merupakan istri nya sendiri. sambil berusaha mengulum senyum.
"Jims, saat ini aku ingin membahas kerjasama dengan perusahaan Global. untuk itu, aku ingin berdua saja dengan sekretaris ku yang cantik, Mutiara. agar kami bisa fokus mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti siang. untuk itu aku ingin kamu membawa Ariana keluar dari ruangan kerjaku." ucap Devan tanpa menoleh pada Ariana yang cemberut, tidak terima dengan keputusan Devan.
"Begitu sulit untuk meluluhkan hati mu, Devan. tapi aku tidak akan pernah menyerah." gumam Ariana kesal.
"Oke tidak masalah, lain waktu aku akan datang lagi untuk mu Devan. jika sudah tidak sibuk beritahu aku ya, Dev." Ariana tidak ingin membuat Devan marah lagi, dia akan bersikap jauh lebih lembut lagi kedepannya.
Sebelum pergi, bibir Ariana maju ingin mencium ke-dua pipi Devan , tapi pria itu malah menghindar.
"Mmmmhh..."
Ariana memaksakan senyum kekecewaannya atas penolakan Devan, dia merasa malu karena harga dirinya merasa direndahkan dihadapan Mutiara, yang justru tersenyum licik kearahnya. seolah-olah mengolok-olok kegagalan Ariana untuk mendapatkan perhatian Devan.
"Seumur hidupku baru Devan, laki-laki pertama yang menolak ku terang-terangan, gadis kampung awas kamu, aku akan buat perhitungan dengan mu." umpat Ariana kesal.
Ariana melonggos kesal sambil melirik Mutiara dengan tatapan kebencian. karena merasa Devan lebih memilih Mutiara, dari pada dirinya yang jauh lebih cantik dan seksi.
"Jims, tutup rapat pintu nya. aku tidak ingin ada gangguan lagi jika tengah bekerja."
"Baik tuan."
__ADS_1
"Jims jangan tutup pintunya, aku tidak nyaman bekerja dengan pintu tertutup seperti ini." ucap Mutiara ketika melihat gelagat aneh dari tatapan mesum Devan.
"Kenapa, ini ruangan kerjaku. dan aku berhak melakukan apapun sesuka hatiku, apa kamu ingin dipecat karena mulai banyak protes terhadap atasan mu, dan tetap dirumah saja menunggu lalu mengurus suami dan anak-anak setelah mereka kembali." ucap Devan tersenyum menatap intens kedua bola mata Mutiara.
"Tidak... bukan begitu maksudku, tuan." berusaha tersenyum manis agar mood Devan kembali membaik.
Devan berdiri, berjalan mendekati Mutiara sambil melonggarkan dasi, lalu membuka kancing bagian atas kemejanya.
"Devan, kamu mahu ngapain. ingat ini kantor."
Mutiara mundur beberapa langkah kebelakang, saat melihat seringai mesum Devan yang ingin memakannya, namun pergerakan nya sudah dikunci dalam dekapan Devan yang sangat erat.
"Untuk apa harus mundur, kamu sepertinya ketakutan melihat ku, ingat aku berhak atas apapun ditubuhmu?" Devan semakin mendekatkan bibirnya, dengan sekali tarikan tangannya, tubuh Mutiara jatuh keatas pangkuannya.
"Dikantor ini aku yang berkuasa, dan aku tidak memikirkan pendapat ataupun perkataan orang lain." bisik Devan sambil mengendus-endus leher Mutiara, membuat gadis itu menggeliat kegelian.
"Berhenti Devan."
Mutiara berusaha menahan bahu Devan, saat kedua tangan kekar itu ingin menyingkap ke dalam rok yang dikenakannya, namun dengan keras Devan mengangkat rok Mutiara tersebut keatas.
"Menurut lah sayang, ingat..! kamu sudah menjadi istri ku." tatapan Devan begitu dalam. seakan ingin menembus relung hati Mutiara, seketika pandangan mereka bertemu.
Devan memperdalam ciumannya, sesekali dia memberikan Mutiara kesempatan untuk bernafas. dan kembali melanjutkannya. Satu persatu kancing pakaian Mutiara, sudah berhasil dia buka. Devan dengan buasnya menenggelamkan wajahnya di dada Mutiara, memainkan layaknya seorang bayi besar yang kehausan.
__ADS_1
Devan tidak memperdulikannya penolakan Mutiara, tubuh istri imut nya itu sudah menjadi candu baginya, sehingga membuat dia terus ketagihan.
Kedua tangan kekar Devan mengangkat tubuh mungil Mutiara, Mengendong memasuki sebuah kamar khusus. yang biasanya digunakan oleh Devan sebagai tempat istirahat jika terlalu kejahatan ataupun saat lembur.
Namun belum sempat keinginannya terlaksana, sebuah gedoran keras didepan pintu ruangan Devan. mengagetkan pasangan ini.
"Mami!"
"Papi!"
"Keluarlah, kami tahu kami dan papi ada didalam." terdengar suara Reyhina dan Reyhan.
"What? kenapa Anak-anak bisa disini? siapa yang sudah mengirimnya?" umpat Devan.
"Cepat perbaiki penampilan mu, jika anak-anak tiba-tiba masuk. aku ragu jika Jims telah mengunci rapat pintu masuk. mereka akan memergoki kita dengan posisi setengah telanjang seperti ini." ucap Mutiara segera turun dari pangkuan Devan
"Ini pasti ulah Jims, awas kamu Jims, aku akan memotong sosis keramat mu. karena sudah mengganggu aktivitas nikmat kita ini dengan mendatangkan Anak-anak, tanpa berniat untuk menenangkan mereka dulu, paling tidak sampai kami selesai menuntaskan sesuatu yang sudah mendesak." umpat Devan.
"Apakah kamu setega itu, Jims tidak akan berani menolak Anak-anak mu." bela Mutiara.
"Jangan banyak bicara lagi, jika tidak. aku akan membuat mu tidak bisa berjalan dengan normal siang ini."
Mendengar ancaman Devan yang terlihat tidak main-main, Mutiara jadi takut sehingga akhirnya dia memilih untuk diam dan tidak bersuara lagi.
__ADS_1