Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Memasuki Kandang Singa


__ADS_3

"Siapa yang kamu hubungi? Jangan pancing kesabaran ku!"


Devan menjulurkan tangannya, menarik ponsel dari tangan Mutiara yang masih gemetar, untuk memeriksa log panggilan.


"Dia adalah bibiku."


Devan menekan dial, beberapa saat sampai tapi tidak ada balasan mungkin bibi Erika dalam perjalanan pulang, Mutiara mengatupkan kedua tangannya berdoa.


"Mudah-mudahan bibi tidak membahas tentang anak-anak begitu panggilan terhubung." bathin Nya.


"Jangan coba macam-macam dengan ku, apalagi berfikir untuk pergi." Devan mematikan ponsel mutiara.


"Aku hanya ingin memberitahu bibi, agar dia tidak mencari-cari dan mencemaskan keberadaan ku, percayalah."


"Bisakah kita memulai nya sekarang?" Devan maju mengunci pergerakan Mutiara didinding kamar mandi.


"Baiklah, tapi aku ingin lampu kamar dimatikan." pinta Mutiara, agar Devan tidak bisa leluasa melihat seluruh tubuhnya, dia begitu takut jika Devan melihat gelas operasi cecar sewaktu melahirkan twins.


"Kenapa, apa kamu malu aku melihat tubuh mu, bukan kah kita sudah pernah melakukannya beberapa tahun silam?" ucap Devan dengan pandangan berkabut, dia mulai bergairah setiap mengingat malam panjang yang pernah mereka lalui.


"Sudah aku katakan, aku belum siap untuk saat ini. bisakah kamu memberiku waktu, paling tidak sampai kondisi ku benar-benar pulih." ucap Mutiara dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Oke."


Devan pergi keluar kamar, dan mengembalikan ponselnya. Mutiara kembali menghidupkan.


"Syukurlah, singa itu mampu aku jinakkan. meskipun aku tidak tahu bagaimana kedepannya." Mutiara menarik nafas lega, selain bisa bebas malam ini, masalah anak-anak juga sudah teratasi.


Mutiara merebahkan tubuhnya di kasur, dia benar-benar lelah, begitu juga dengan pikiran dan perasaannya saat ini. memejamkan mata adalah solusi terbaik, namun suara getar ponsel membangunkan nya.


"Bibi, apa sudah sampai dirumah, bagaimana dengan Reyhan dan Reyhina." tanya Mutiara.


"Alhamdulillah, mereka masih tidur dan baik-baik saja. kamu dimana kenapa belum pulang?"


"Bibi aku tidak bisa berbicara banyak, aku usahakan untuk pulang secepatnya." Mutiara segera menyimpan ponselnya takut Devan akan kembali muncul.


"Aaaagghhh."


Untuk mendinginkan otaknya yang sempat memanas, Devan masuk kedalam kamar mandi. melepas semua yang melekat ditubuh. lalu membiarkan air mengalir menelusuri otot-otot dada yang menonjol.


Devan terlihat sangat seksi, tapi tidak satupun wanita yang dia izinkan untuk menyentuhnya selain Mutiara. namun gadis itu masih bersikukuh dengan benteng pertahanan nya sendiri, tanpa melihat sisi baik yang Devan miliki.


Mutiara tidak bisa memejamkan mata, dia berjalan seraya mencari celah-celah untuk bisa kabur. ruang demi ruang dengan pencahayaan yang temaram di lewati. tapi dia masih belum menemukan jalan keluar.

__ADS_1


"Tempat ini sangat luas, dan aku merasa kembali ketempat semula." Mutiara tertunduk sedih, namun dia kembali tersenyum ketika melihat sebuah ruangan yang membuat kakinya terus melangkah untuk memasukinya, karena berfikir mungkin ada jalan keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak dikunci?" Mutiara melangkah masuk, tiba-tiba pintu otomatis terkunci rapat, susah payah Mutiara memegangi handle pintu agar kembali terbuka, namun usahanya selalu gagal.


"Apakah ini kamar pribadi Devan, tapi dimana dia?" bathin Mutiara ketika melihat tempat tidurnya yang masih kosong.


Suara gemercik air membuat Mutiara bergidik ngeri, membayangkan jika didalam sana Devan tengah mandi.


"Bodoh...bodoh kamu, Mutiara. kamu malah masuk dengan sendirinya kedalam kandang singa?" merutuki kebodohan dan kesialannya.


"Kleekkk!"


Mutiara langsung panik, begitu pintu kamar mandi seperti akan di buka, dia kelimpungan untuk mencari tempat untuk bersembunyi. Gadis itu meringkuk dibawah lemari kecil pembatas ruang.


"Mudah-mudahan, singa ini tidak menyadari keberadaan ku." mengatupkan kedua tangan, sambil membaca doa apapun yang bisa menyelamatkan, mengingat bahaya yang bisa datang kapan saja.


"Singa ini seolah ingin menodai mataku." memejamkan mata ketika Devan melewatinya hanya mengunakan sebuah handuk kecil.


"Keluarlah, aku tahu kamu berada dalam kamarku!"


Devan tersenyum penuh arti, langkahnya semakin mendekati tempat persembunyian tanpa ada yang melekat ditubuhnya. bahkan secara tidak sengaja Mutiara kembali melihat benda yang telah memberikannya sepasang anak kembar.

__ADS_1


DEG!


__ADS_2