Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Ganti rugi


__ADS_3

Malam ini Mutiara pulang terlambat, sampai dirumah dia mendapati kedua anak-anak sudah tertidur pulas.


"Anak-anakku sayang, semoga kita bisa melewati semua ini. bukan maksud Mami memisahkan kalian dari ayah biologis kalian berdua, namun hanya cara ini yang terbaik bagi kita. mami tidak ingin dia merebut kalian dengan kekuasaannya, nak." Mutiara mencium kedua pipi Reyhina dan Reyhan, setelah itu dia segera menunju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Setelah selesai, Mutiara naik keatas kasur tanpa dipan, ikut bergabung tidur bersama anak-anaknya, mengingat besok adalah hari Minggu, jadi dia merasa sedikit tenang dan bisa menghabiskan waktu seharian dengan bermain bersama mereka berdua, paling tidak bisa menebus waktu Mutiara yang habis diluaran karena bekerja seharian. tidak butuh waktu lama Mutiara sudah tertidur pulas menunju alam mimpi indahnya hingga pagi menjelang.


***


"Selamat pagi mami."


Perlahan Mutiara membuka mata, saat mendengar suara lembut Reyhina yang bagun terlebih dahulu darinya.


"Pagi juga kesayangan mami." mencium gemas Reyhina yang imut dan terlihat lucu dengan rambut dikepang dua.


"Mami, jadi ya kita jalan-jalan hari ini. Reyhina pengen boneka panda." ucap bibir mungilnya dengan penuh semangat.


"Oya, kemaren mami sudah janji untuk membawa kalian kepusat permainan. bersiaplah mami akan membangunkan Reyhan dulu."


"Iya mami." Reyhina masuk kekamar mandi dengan semangat, seraya menunggu mami membangun kan Reyhan, dia menggosok giginya dulu.


"Asyik, akirnya kita jalan-jalan." teriak Reyhan kegirangan saat memasuki pusat perbelanjaan dan permainan khusus anak-anak.


"Mami aku mau boneka itu." tangan mungil Reyhina menunjuk sebuah boneka panda berukuran cukup besar, saat memeriksa label yang tertera membuat mata Mutiara membulat. dia ingin mengurungkan niatnya untuk membeli, namun dia tidak tega saat melihat binar bahagia Reyhina yang sangat menginginkan boneka panda tersebut.

__ADS_1


Tidak lama, Reyhan juga berlari kearah sang mami seraya berteriak.


"Mami....mami, aku ingin bola itu."


"Reyhan pengen bola ya?"


"Iya, suatu saat Reyhan pengen menjadi seorang pesepakbola Dunia, mi." ucap nya bersemangat.


Setelah membayar di kasir, Mutiara mengajak anak-anak memasuki sebuah kafe, dia membiarkan anak-anak memilih menu makanan dan minuman favorit mereka masing-masing.


"Bibi, aku ketoilet dulu, titip anak-anak ya."


"Iya pergilah." jawab bibi Erika seraya membantu menyuapi Reyhina.


"Sial, bola siapa ini?" teriak Devano yang membuat ruangan seketika hening.


"Itu bolaku, kembalikan om." ucap Reyhan, yang seketika membuat Devan terpana karena menemukan banyak kemiripan diantara mereka berdua.


Jims segera menengahi, karena berfikir Devano akan berbuat kasar pada bocah kecil tidak berdaya dihadapannya.


"Tuan, biar aku selesaikan masalah ini dengan orang tuanya saja." Jims membantu membersihkan kemeja Devan.


"Oke, ingatkan juga untuk mengganti kemejaku yang harganya satu setengah m ini." ucap Devano beranjak pergi menuju mobilnya, dia merasa hari ini benar-benar buruk dan merasa dipermalukan seorang anak kecil, sehingga dengan membuat sedikit perhitungan dengan orang tua nya akan memberikan efek jera karena lalai dalam mengawasi anak.

__ADS_1


Bibi Erika yang baru menyadari kesalahan besar yang sudah dilakukan Reyhan, hanya bisa tertunduk dan meminta maaf berkali-kali pada Jims.


"Maaf tuan, cucu saya benar-benar tidak sengaja." ucap bibi menundukkan kepalanya.


"Ini termasuk kelalaian anda dalam mengurus anak ditempat umum, dan bos saya tidak menerima permintaan maaf saja, melainkan ganti rugi atas pakaian mahalnya. hubungi kami nantinya."ucap Jims meninggalkan kartu namanya.


"Baiklah tuan." jawab bibi Erika seraya menerima kartu nama tersebut dengan tangan bergetar, antara masih syok dan takut.


"Reyhan, bibi sudah ingat kan untuk mainin bolanya dirumah saja." ucap bibi menarik Reyhan kepelukannya, tidak lama Mutiara datang.


"Apa yang terjadi bibi?"


"Reyhan tidak sengaja melakukan kesalahan besar, nak." ucap bibi menceritakan kejadian barusan, seraya memberikan kartu nama Jims.


"Jims, apakah dia asisten Devano? atau hanya kebetulan Jims yang lain." gumam Mutiara cemas.


"Mereka minta ganti rugi satu setengah miliar." ucap bibi hati-hati.


"Satu setengah miliar?" ulang Mutiara kemudian dia sukses pingsan.


"Mami...mami.... maafkan Reyhan."


"Mami... mami... bangun."

__ADS_1


__ADS_2