
"Masuk!"
Devan mengulangi ucapan nya, Mutiara tidak bergeming. dia berfikir ingin segera kabur dan bersembunyi, tapi itu merupakan ide yang mustahil karena pada akhirnya Devan pasti akan menemukan nya juga.
Tangan panjang dan kekar menarik paksa tangan Mutiara, hingga dia terdorong masuk kedalam mobil yang langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
"Lepaskan aku, Devan!" teriak Mutiara.
"Kamu sudah berani memanggil namaku."
"Ya, apa yang kamu inginkan? tidak bisakah kamu membiarkan aku hidup bebas. bahkan diantara kita tidak ada hubungan apa-apa." ucap Mutiara mengumpulkan keberaniannya.
"Argh... lepas!"
"Aku suka perempuan yang penuh perlawanan seperti mu, tidak seperti mereka yang memuja dan menginginkan aku dan harta."
"Kamu salah, aku sama saja seperti mereka." balas Mutiara.
"Oke, aku akan memberikan nya. apapun itu? tapi ada syaratnya."
"Apa maksudmu Devan?"
"Aku tidak menyukai Natali." ucap Devan.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Orangku menginginkan keterunan, Mutiara menikahlah denganku, lalu lahirkan anak-anak yang imut dan lucu." ucap Devan tersenyum seraya membayangkan wajah anak-anak yang terlahir dari Mutiara kelak.
"Maaf aku tidak bisa, masih banyak wanita lain terutama Natali."
"Aku memilih mu." ucap Devan dingin.
__ADS_1
"Aku tidak mau, cepat turunkan aku." Mutiara meronta dan berteriak ketika mobil semakin jauh melaju ketempat yang tidak dia kenal sama sekali.
"Berhenti Jims, tolonglah kasihani aku."
"Maafkan aku nona." jawab Jims pelan.
"Tuan Devano, aku mau pulang. kita bisa bicarakan hal ini lain kali saja. bukan untuk saat ini." Mutiara mulai panik.
"Apa ada seseorang yang menunggu mu dirumah?" tanya Devan seraya fokus menatap keluar jendela.
"Tidak, tapi aku harus pulang sekarang! aku lagi tidak enak badan." Mutiara berusaha menyembunyikan kecemasannya.
"Ya Tuhan, lindungi anak-anakku. apa reaksi mereka seandainya terbangun dan mendapati aku tidak ada disampingnya. bibi juga tidak ada dirumah saat ini, bagaimana jika ada penculik atau kejahatan lainnya. kenapa aku begitu bodoh dengan menuruti kemauan Devano." Mutiara frustasi sehingga dia hanya bisa menangis, namun hal ini tidak membuat Devan luluh sedikitpun. ambisi pria ini begitu kuat untuk memiki Mutiara.
"Tuan Devan, aku bersedia untuk menjadi wanita mu. tapi tidak untuk malam ini! karena aku belum siap." Mutiara masih berusaha agar lepas dan segera pulang bertemu anak-anak nya.
"Aku tidak butuh kesiapan mu, aku hanya ingin kamu mendesah dan membantuku agar Devan Junior segera tumbuh di rahimmu, aku pasti akan senang."
Devan menarik dagu Mutiara, mendekatkan wajahnya. tanpa banyak bicara Devan ******* kasar bibirnya, membuat Mutiara kewalahan mengatur pernafasannya.
"Jika aku lompat, tubuhku terluka atau bisa jadi aku mati. aku harus hidup demi twins, tapi bagaimana caranya aku bisa kabur."
"Jangan berfikir untuk kabur, karena aku akan selalu menemukan mu." ucap Devan seakan mampu membaca jalan pikiran Mutiara.
Mutiara tidak tahu sudah berapa jauh mereka menempuh perjalanan, mobil memasuki kawasan puncak dan berhenti disebuah villa yang sangat mewah dikelilingi Padang rumput yang menghijau.
Jims membukakan pintu seraya menunduk hormat.
"Silahkan turun nona."
"Tidak, aku tidak mau turun." Mutiara berusaha berpegangan pada apapun benda yang berhasil diraihnya.
__ADS_1
"Minggir Jims."
Devan menjulurkan kedua tangannya, dia memangku paksa Mutiara untuk masuk kedalam villa. tubuh Mutiara terhempas pada sebuah ranjang yang berukuran king size.
"Tidak ada yang bisa menolak ku, jika tidak hidup mu akan aku buat lebih buruk." ancam Devan.
"Ya!"
"Baiklah, kita akan memulai malam ini!"
"Aku belum mandi, Izinkan aku untuk membersihkan tubuh ku terlebih dahulu. anda pasti tidak nyaman dengan bau tubuh ku nantinya." Mutiara berusaha mengulur waktu.
"Pergilah, tapi aku tidak suka menunggu lama." ucap Devano pergi keluar kamar.
Mutiara segera menuju kamar mandi, mengunci pintu rapat. lalu mengeluarkan ponselnya.
"Ayo bibi Erika, angkat telpon nya." Mutiara menghubungi bibi namun sudah panggilan ketiga belum juga diangkat, tangannya mulai gemetar takut Devan tiba-tiba masuk dan memergokinya. Mutiara kembali mengulangi panggilan.
"Hallo Mutiara, ada apa nak?"
"Bibi cepat pulang, aku sedang ada urusan penting. dan meninggalkan anak-anak begitu saja." ucap Mutiara panik bercampur rasa lega.
"Apa? kenapa kamu meninggalkan anak-anak, ini bahaya! baiklah bibi akan segera pulang." ucap bibi Erika, dari nada suaranya bibi terlihat kesal karena Mutiara meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan.
Ceklek!
Pintu kamar mandi tiba-tiba dibuka paksa dari luar, nampak Devan berdiri dengan tatapan tajam penuh kemarahan. wajah Mutiara seperti seekor kucing kecebur got, dia pucat mulai mundur perlahan.
"Tamat riwayatku." Mutiara ketakutan.
"Siapa yang sudah kamu hubungi?"
__ADS_1
" Apa Gavin?"
"Tidak!"