
"Natali, untuk apa kamu datang ke mentions pribadi ku?" ucap Devano acuh, bahkan Devan tidak melirik sedikitpun pada Natali yang sudah berusaha menunjukkan penampilan terbaiknya.
"Aku merindukanmu, Dev. tapi para pengawal mu ini selalu menghalangi langkah ku, kamu harus menghukum mereka." adu Natali.
"Mereka hanya menjalankan tugas atas perintah dariku." balas Devan dengan nada suara dingin.
"Bukankah ini sangat keterlaluan, mengingat aku adalah calon istri mu sendiri. bagaimanapun mereka juga harus menghormati ku." balas Natali.
"Tapi aku merasa bukan calon suamimu, ini hanya sebatas perjodohan dan aku sudah memutuskannya sejak awal." balas Devano duduk seraya menyilang kedua kakinya.
"Apa semua ini, gara-gara perempuan yang bernama Mutiara?" Natali seraya menatap kamar utama, dia yakin jika Devan menyembunyikan gadis tersebut disana.
"Itu bukan urusan mu, aku bebas dengan perempuan manapun yang aku inginkan. cepat pergi dari sini."
"Kamu akan menyesal Dev, banyak hal dari Mutiara yang tidak kamu ketahui. kamu sudah dibutakan oleh kecantikan nya." balas Natali, namun dia juga tidak ingin berterus-terang tentang keberdaan anak-anak Mutiara, bisa-bisa Devan tidak akan pernah melepaskan Mutiara dari genggamannya.
"Apa yang kamu ketahui tentang wanita ku?" Devan menatap tajam Natali.
"Mutiara pernah tidur dengan pria lain sebelum bertemu dengan mu, aku punya bukti jika Mutiara tidak lebih dari seorang gadis murahan." balas Natali.
__ADS_1
"Jaga ucapan mu, Natali. jangan pancing kemarahan ku." Devan terlihat tidak terima dengan ucapannya, rahang pria tampan itu bergetar.
"Devan, kenapa kamu bisa semarah ini?"
Natali mundur ketakutan, disaat bersamaan Mutiara keluar dari kamar utama, melambaikan sebelah tangannya. seakan mencemooh kegagalan Natali.
"Ya, aku memang gadis murahan, Devano yang sudah membuat ku seperti wanita yang tidak memiliki harga diri lagi." bathin Mutiara ikut mentertawakan diri nya sendiri.
Natali semakin dibakar amarah saat melihat Mutiara tersenyum kearahnya.
"Lihatlah perempuan itu, bahkan dia masih bisa tersenyum bangga karena merusak hubungan pertunangan kita." tangan Natali mengepal seraya berlari menuju kamar utama, dia ingin mencabik-cabik Wajah Mutiara, namun baru beberapa langkah. dia langsung dicegat lalu diseret oleh dua orang pengawal.
"Aku tidak mempunyai orang-orang suruhan, untuk menyakiti Mutiara." Natali berusaha mengelak, apalagi setelah mengetahui jika nasib Angela yang berakhir tragis, wajah gadis cantik itu sudah rusak.
"Pengawal seret dia, jangan pernah biarkan perempuan ini datang lagi kemention." teriak Devan.
"Jangan, Devan!... Devan. jangan perlakukan aku seperti ini!" Natali berusaha lepas dari cengkraman pengawalan yang bertubuh besar. tubuh Natali diseret paksa oleh pengawal sampai depan mobilnya sendiri.
"Devan, ingat kamu akan menyesal setelah tahu kenyataan nya. Mutiara itu wanita pembohong. banyak rahasia besar yang dia sembunyikan darimu." teriak Natali.
__ADS_1
"Cepat tinggalkan tempat ini nona, jika tidak. anda akan mendapatkan konsekuensi dari kemarahan tuan Dev." ucap pengawal.
Mutiara menatap kepergian Natali, berbagai pertanyaan berkecamuk dibenaknya.
"Sebegitu berarti kah aku dimata Dev, bahkan wanita secantik Natali. kamu tolak untuk menjadi istri." bathin Mutiara.
Mutiara kembali masuk kedalam kamar, namun Devan sudah terlebih dahulu melihat lalu mengejarnya. Mutiara berusaha untuk segera menutup pintu, namun tenaganya kalah banyak. Devan masuk lalu mengunci pergerakan Mutiara didinding.
"Tuan, tidak baik mengusir dan memperlakukan calon istri mu seperti itu. apalagi ini juga menyangkut tentang keberdaan ku disini. aku tidak ingin di cap sebagai orang ketiga." ucap Mutiara hati-hati.
"Jangan katakan jika kamu cemburu pada Natali, bagaimana pun kamu tetap no satu dihatiku." bisik Devan.
"Ha...ha...mana mungkin aku cemburu, tuan. anda berhak untuk dekat dengan wanita manapun, begitu juga sebaliknya." Mutiara ingin membuat Dev membencinya lalu membuang dari kehidupannya. Kata-kata yang diucapkan Mutiara, secara tidak langsung telah memancing emosi Dev kembali.
"Ucapan mu terlalu kejam, kamu harus mendapatkan hukuman dariku."
"Mmh..."
Mutiara tidak bisa mengelak lagi, Devano menikmati bibirnya tanpa ampun. ciuman Dev menjalar hingga ke leher jenjang Mutiara, meninggalkan beberapa tanda kemerahan, semua ini tidak membuat Dev puas. tapi karena Mutiara beralasan sedang datang bulan, sehingga dia berusaha menahan hasratnya lalu pergi menuju kamar pribadinya sendiri.
__ADS_1