
"Dimana aku?"
Begitu siuman, Mutiara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. nampak Jims dan seorang wanita cantik berpakaian dokter duduk disampingnya.
"Saya dokter Angel, sukurlah, kondisi mu sudah kembali stabil setelah saya beri obat."
Mutiara memijid pelipisnya, dia kembali mengingat bagaimana kasarnya Devan memperlakukannya.
"Aku tidak boleh mati ditangan Devan, aku harus bisa pergi membawa anak-anak ku sejauh mungkin darinya." batin Mutiara.
"Aku ingin pulang."
"Ya, tuan Devano sudah memberikan kamu izin. aku akan mengantarkan kamu." ucap Jims.
Selama perjalanan pulang, Mutiara lebih banyak diam. mobil Jims berhenti disebuah perumahan yang dia pikir adalah kos-kosan Mutiara.
"Terimakasih Jims."
"Saran saya, untuk kedepannya jangan buat tuan Devan marah lagi. ini sangat bahaya bagi nona." pesan Jims sebelum berlalu pergi.
"Ya aku mengerti."
Setelah mobil Jims menjauh, Mutiara mencoba mencari jalan alternatif untuk segera sampai dirumah, namun tangannya kembali ditarik seseorang dari belakang.
"Mutiara!"
"Gavin! untuk apa kamu masih mengikuti ku, please tolong pergi dari hidupku." Mutiara mengatupkan kedua tangannya menagis.
__ADS_1
"Aku mencemaskan dirimu, berjam-jam aku mengelilingi kota ini untuk mencarimu Mutiara. aku takut sesuatu yang buruk menimpa mu." ucap Jims, Mutiara memperhatikan wajah Jims terlihat memar bekas pukulan.
"Ada apa dengan wajah mu?"
"Aku berantem dengan Devan, jangan terlalu dipikirkan ini tidak masalah."
"Gavin, jika kamu mencemaskan aku, jangan pernah dekati aku. maka semua akan berjalan baik-baik seperti semula." terang Mutiara.
"Ya, tapi tolong izinkan aku mengantarkan kamu pulang untuk kali ini saja. sekarang sudah sangat larut banyak bahaya yang mengintai." bujuk Gavin memaksa Mutiara masuk kedalam mobilnya.
"Tidak Gavin, turunkan aku." teriak Mutiara, namun mobil sudah melakukan kencang. meronta-ronta karena kesal dan amarah dihadapkan pada dua orang laki-laki yang sama-sama egois.
"Tenanglah Mutiara, apa kamu ingin kita berdua celaka atas nama cinta!" goda Gavin seraya tertawa lepas.
"Kamu gila, pergilah ke neraka sendirian."
"Ha..ha...kita akan sama-sama jika kamu menginginkan nya."
"Patuh dan menurut lah." ucap Gavin seketika mengentikan mobilnya di kompleks perusahaan yang ditempati Mutiara, gadis itu turun menghempaskan kasar pintu mobil Gavin yang masih tertawa melihat ekspresi kemarahan Mutiara yang menurut nya sangat imut dan lucu.
Sampai dirumah, Mutiara berjalan pelan karena tidak ingin mengganggu bibinya yang sudah tidur, sebagian lampu ruangan sudah dimatikan. begitu juga dengan twins, mereka tidur dengan gaya lucu mereka masing-masing.
"Mutiara, kamu sudah pulang? kenapa terlalu larut kami mencemaskan dirimu. apa sudah terjadi sesuatu?" bibi Erika terbangun.
"Aku baik-baik saja bibi, cuma teman-teman selalu menghalangi saat aku ingin pulang. mereka masih betah di pesta."
"Ya sudah, istrahat lah." bibi Erika masuk kembali kedalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya, Mutiara mencium anak-anak bergantian, lalu ikut berbaring bersama mereka.
Paginya Mutiara sibuk membantu mengurus keperluan twins.
"Mami tidak pergi bekerja?" tanya Reyhina.
"Tidak, mami ingin mencari pekerjaan baru, kalau bisa dekat-dekat rumah saja. agar bisa mengawasi kalian." ucap Mutiara yang sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi keperusahaan Devan's.
"Apa kamu yakin Mutiara, perusahaan tempat mu bekerja itu sangat besar dan nomor satu di negara ini."
"Yakin bibi, aku tidak nyaman lagi bekerja disana."
"Terserah kamu sayang, bibi mendukung apapun yang terbaik menurut mu."
Setelah mengantarkan twins ketaman kanak-kanak, Mutiara mendatangi sebuah toko bunga yang berlokasi tidak jauh dari rumah. tidak butuh proses yang sulit, mereka tertarik memperkejakan Mutiara selain cantik, dia juga pernah memiliki pengalaman kerja di perusahaan besar.
"Selamat bergabung di toko kami, ini teman-teman barumu." ucap manager toko.
"Perkenalkan aku Mutiara."
"Aku Calista."
"Ivana."
"Senang bertemu dengan mu."
"Karena masih baru, tolong kalian bimbing dan ajari Mutiara." ucap manager.
__ADS_1
Mutiara sangat senang dengan pekerjaan barunya, merangkai dan membuat sebuah buket bunga yang indah adalah bakat terpendam yang dimilikinya, sehingga hari pertama bekerja. manager dan teman-teman barunya sangat memuji cara kerja Mutiara yang indah dan rapi.
"Hasil karya mu yang pertama, tapi sangat menakjubkan." puji manager tersenyum senang.