
"Anak-anak, sudah waktunya kita kembali pulang ke mansion utama." ajak bibi Erika.
"Tapi kami betah tinggal disini, karena ada mami!" jawab Reyhina.
"Ya, aku juga tidak mau pergi." Reyhan melipat tangannya ke dada untuk menunjukkan rasa protes nya.
"Kita tidak boleh melanggar perintah papi, jika kalian menolak untuk pulang. takutnya nanti papi tidak mengizinkan kita untuk kembali bertemu.
seperti ini." bujuk Mutiara.
"Kasihan Oma Sarah dan opa, dia tidak ingin jauh-jauh dari cucu-cucunya." bujuk bibi Erika lembut.
"Baiklah, kami akan pulang ke mansion utama demi Oma Sarah dan opa." jawab Anak-anak pasrah.
Sekarang Mutiara kembali merasa sepi, paling tidak hari ini Devan sudah membuat nya bahagia karena diberi izin untuk bertemu anak-anak dan juga bibi Erika.
Ponsel Mutiara berdering, tertera nama Hendra. papanya sendiri, sebenarnya Mutiara ingin sekali mengabaikan panggilan masuk tersebut, namun Hendra tidak pernah menyerah hingga panggilan yang ke dua puluh kali nya Mutiara baru mengangkat.
"Untuk apa papa menghubungi ku, bukankah semua sudah jelas. hidup ku sekarang sudah menjadi tawanan Devan, dia juga membatasi pertemuan ku dengan anak-anak." begitu panggilan terhubung Mutiara langsung meluapkan amarahnya.
"Mutiara, papa melakukan semua ini demi kebaikan mu. hidup mu dan Anak-anak akan menjadi lebih baik lagi dan terjamin setelah kalian menikah, kamu tahu sendiri siapa Devan. dia seseorang yang sangat berkuasa dengan kekayaan yang berlimpah." balas Hendra.
"Pa, Devan tidak akan menikahi ku. dia hanya menginginkan anak-anak dan menjadikan aku sebagai budaknya." balas Mutiara.
__ADS_1
"Jika dia tidak menikahi mu, kamu bisa membuat kesepakatan. paling tidak sebagai ganti rugi karena sudah berjuang selama ini untuk melahirkan dan merawat anak-anaknya." bujuk Hendra.
"Tidak pa!"
"Mutiara, pikir baik-baik perkataan papa. ini kesempatan untuk bisa meminta uang sesuka hatimu, karena dia tidak bisa meniduri wanita lain selain kamu." ucap Hendra.
"Aku tidak menyangka papa akan mengatakan semua ini, bahkan papa hanya memikirkan uang dan uang tanpa peduli perasaan dan harga diriku yang sudah diinjak-injak Devan. mulai sekarang jangan pernah hubungin aku lagi, anggap diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Mutiara memutus panggilan, termasuk mematikan ponselnya agar Hendra tidak menghubungi nya lagi.
"Bagaimanapun, aku tidak akan menjual Anak-anak demi uang. Devan adalah ayah biologisnya. biarkan mereka bahagia dengan diasuh oleh ayah, Oma dan opa. mereka telah melimpahkan kasih sayang yang tulus untuk anak-anak ku." bathin Mutiara mengusap air matanya.
Mutiara merasa kesepian tinggal di mansion mewah ini, Devan hampir tidak pernah mengunjungi nya lagi. sedangkan para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mutiara merasa jika dirinya ibarat burung yang dikurung dalam sangkar emas.
Devan selalu pulang mengunjungi anak-anak, semua itu atas permintaan kedua orang tuanya. hal ini sangat menguntungkan Mutiara, tapi dia tidak bisa memungkiri rasa rindu terhadap anak-anaknya sendiri.
"Kenapa belum tidur?"
"Kami merindukan mami." jawab Reyhina
"Aku juga ingin mami, disini." ucap Reyhan.
"Bukankah, aku sudah mengizinkan untuk bertemu mami saat siang hari." bujuk Devan.
"Kami terbiasa tidur dipelukan mami, sambil mendengarkan dongeng." ucap Reyhina sedih.
__ADS_1
Devan naik keatas ranjang, duduk diantara Anak-anak. lalu membuka buku dongeng.
"Tidurlah, papi akan membacakan dongeng untuk kalian." bujuk Dev.
"Tapi papi harus janji?"
"Janji untuk apa?" tanya Dev mengerutkan keningnya.
"Janji akan memberikan izin untuk mami agar kembali bertemu dengan kami."
"Baiklah. sekarang tidur lah." Devan mulai membacakan dongeng hingga kedua bocah mengemaskan dan imut itu tertidur begitu saja dengan posisi mereka masing-masing. setelah menyelimuti Anak-anak Devan keluar menunju kamarnya sendiri.
Setelah Devan pergi, bibi Erika masuk kekamar Anak-anak, hatinya menjadi hangat melihat sikap lembut dan perhatian Devan pada anak-anak. meskipun sikap nya sulit untuk ditebak.
Paginya Devan datang kekantor, suasana hatinya sangat buruk. Jims yang mengetahui lebih memilih diam sebagai cara aman untuk melindunginya.
"Jims!"
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu." ucap Jims menunduk.
"Beberapa hari ini aku tidak pernah bertemu dengan Mutiara, tolong handel semua pekerjaan ku, termasuk merahasiakan keberdaan ku dari mami jika dia menanyakannya." ucap Devan.
"Baiklah tuan."
__ADS_1