
"Nona Mutiara, dimanakah rumah mu?" tanya Jims bersuara dari balik kemudi. bingung kemana dia harus mengantarkan gadis itu. seketika suasana dalam mobil terasa canggung.
"Oh my God, mereka tidak boleh tahu alamat rumah ku, sebaiknya aku memberikan alamat rumah Mbak Rani saja. mudah-mudahan saat ini dia berada dirumahnya." bathin Mutiara sambil menyebutkan alamat rumah sahabatnya.
Tidak lama mobil Rolls_Royce tersebut berhenti didepan disebuah perumahan, sesuai dengan alamat yang disebutkan Mutiara barusan.
"Terimakasih sudah mengantarkan saya, tuan."
"Mereka."
Setelah turun, Mutiara terus memperhatikan mobil Devan yang semakin menjauh meninggalkannya. setelah itu dia langsung memesan ojek online untuk mengantarkan pulang kerumah.
Begitu sampai dirumah, Mutiara menatap sedih anak-anak yang sudah tidur pulas menunggu dirinya pulang.
__ADS_1
"Reyhan, Reyhina. Kalian harus ngertiin keadaan mami ya, diusia kalian yang harusnya bermanja-manja dan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mami, namun mami malah sibuk bekerja. bahkan cuma punya sedikit waktu untuk kalian berdua." mengelus sayang rambut keduanya.
Bibi Erika berjalan mendekati Mutiara, dia juga tidak tega melihat keadaan Mutiara yang harus menjadi tulang punggung keluarga. namun harus bagaimana lagi.
"Reyhan dan Reyhina terlihat cemas dan terus menanyakan kamu, kenapa mami mereka belum juga pulang jam segini." ucap bibi Erika dengan ekspresi sedih.
"Maafkan mami nak." Mutiara segera memeluk dan mencium anak-anak secara bergantian, dengan perasaan yang sulit diartikan. tanpa sadar air mata menggenangi pipinya.
"Bibi tidak usah bersedih, Mutiara iklas menjalani ini semua. kehadiran Reyhina dan Reyhan merupakan anugerah terindah, dan aku tidak pernah menyesali nya bi."
"Kamu benar-benar anak yang baik, cantik dan seindah namamu, Mutiara."
"Keponakan siapa dulu." ucap Mutiara, mereka kembali tersenyum seraya berpelukan.
__ADS_1
Sebelum memejamkan mata, kilasan kejadian dalam mobil Devan barusan kembali melintas. perlahan Mutiara mengelus bekas luka cecar nya yang hampir saja ketahuan jika dia tidak segera bertindak untuk menghentikan aksi Devano.
"Syukurlah dia tidak melihat bekas luka cecar ini, jika tidak Devan pasti akan tahu jika aku pernah melahirkan anak-anak nya." bathin Mutiara, karena Devan sempat menarik paksa pakaian nya keatas, untuk hal itu bisa Mutiara atasi segera sebelum Devan benar-benar kehilangan kendali.
Suara deringan ponsel yang begitu nyaring, mengagetkan Mutiara dari lamunannya. dengan malas dia mengabaikan hingga panggilan itu berhenti dengan sendirinya, namun hanya beberapa saat saja.
"Siapa sih yang menghubungi ku, larut malam begini?" dengan malas Mutiara melirik layar ponselnya, tertera nama asisten Jims yang menghubungi nya.
"Hallo asisten Jims, ada apa Anda menghubungi ku larut malam begini?" ucap Mutiara penasaran, karena diantara mereka sudah tidak ada perjanjian ataupun kontrak kerja lagi.
"Barusan tuan Devano mengatakan, jika mulai besok kamu kembali diminta untuk bekerja diperusahaan The Devan's King." ucap assisten Jims.
"Apa? bukankah saya sudah dipecat. bos Anda benar-benar lucu, bukankah sama saja dengan menarik air ludah nya sendiri." balas Mutiara yang tidak habis pikir dengan kemauan Devano.
__ADS_1