
"Mutiara, sepulang kerja nanti tolong sempatkan untuk membeli susu formula untuk twins ya." ucap bibi Erika mengingatkan melalui sambungan telepon.
"Iya bi, nanti sepulang kerja Mutiara akan sempatkan untuk belanja, sekalian kebutuhan bulanan kita yang sudah menipis." balas Mutiara segera menutup telpon, begitu melihat asisten Jims keluar dari ruangan, lalu mendekati meja kerjanya.
"Mutiara, tuan Devano sedang mengikuti rapat. dia minta kamu yang membuatkan kopi untuk nya." ucap Jims dan kembali masuk keruangan rapat.
"Tunggu tuan Jims, bisakah saya minta bantuan pada OG saja. karena saya merasa ini bukanlah tugas utama." ucap Mutiara yang malas untuk bertemu kembali dengan Devan.
"Mutiara, bekerjasama lah dengan baik. jangan buat tuan Devano tersinggung oleh penolakan mu, karena hal ini bisa saja menyulitkan dirimu kedepannya. termasuk mencari pekerjaan baru, bahkan namamu bisa di blacklist oleh perusahaan manapun." ucap Jims dengan nada ancaman, yang selalu ampuh membuat Mutiara mengepalkan tangannya emosi.
"Tidak, aku harus bekerja keras demi menghidupi Anak-anakku dan bibi Erika, mereka tidak boleh ikut susah karena keegoisanku. yah mungkin dengan mengikuti sedikit permainan Devano, semua akan berjalan baik-baik saja." bathin Mutiara.
"Baiklah tuan Jims." ucap Mutiara memaksakan untuk tersenyum manis. seraya berjalan menuju pantry khusus dan mulai membuat kopi.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan untuk masuk. Mutiara membawa kopi yang masih panas dengan hati-hati, dia merasa diperhatikan banyak mata peserta rapat, sehingga gadis itu tidak mampu untuk menyembunyikan rasa gugupnya berjalan menuju meja Devano yang berada paling depan sebagai pemimpin rapat.
__ADS_1
Rapat kembali berlanjut, Devan terlihat fokus mendengarkan karyawan berbicara, kaki menyilang fostur nya mendominasi mengintimidasi dengan ekspresi serius. bahkan tidak ada yang tahu sisi buruk yang dimilikinya selain Mutiara.
"Monalisa, saatnya kita memberikan sedikit pelajaran pada gadis ini." bisik Katrin.
"Oke, permainan kecil akan dimulai." jawab Monalisa.
Mutiara meletakan kopi dengan sangat hati-hati, namun Mona tiba-tiba seakan sengaja menyenggol lengannya, sehingga kopi tersebut tumpah sebagian, bahkan mengenai pakaian Mutiara.
"Aduuuh panas." bathin Mutiara, mengibas pakaiannya, seraya meminta maaf.
"Mutiara, kenapa kamu bisa seceroboh ini?" bentak Monalisa, rapat pun terhenti beberapa saat.
"Cepat ganti yang baru." perintah Mona.
"Tidak perlu meminta maaf, atas kesalahan yang sama sekali tidak kamu lakukan." ucap Devan tiba-tiba ikut bersuara, seraya menatap Mona yang mulai ketakutan.
__ADS_1
"Monalisa, kamu tahu sendiri jika aku tidak pernah toleransi terhadap kesalahan yang dibuat-buat. jadi jangan bersandiwara lagi. cepat bersihkan dan kamu juga harus dihukum lembur malam ini." ucap Devan.
"Iya tuan, maafkan saya."
"Kamu seharusnya tahu, pada siapa harus meminta maaf." ulang Devano menatap kesal, adik sepupu yang selama ini selalu mengejar-ngejar cintanya.
"Maafkan saya, Mutiara."
Mona pasrah, niatnya untuk menjatuhkan Mutiara gagal total, yang ada dia malah dipermalukan oleh tindakannya sendiri.
"Iya nona, ini cuma kesalahan yang tanpa disengaja." balas Mutiara segera meninggalkan ruangan rapat.
Mutiara kembali keruangannya, menghempas duduk seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Hari-hari ku selalu buruk setelah bertemu Devan, apakah hidup ku akan berakhir disini?" menghembus nasaf berat, seraya bersiap meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Sebelum pulang, aku harus belanja dulu." moodnya kembali membaik setelah teringat senyuman Reyhan dan Reyhina, ketika dia pulang membawakan susu formula dan snak kesukaan mereka.
"Anak-anakku, mi selalu merindukan kalian."