
3 hari telah berlalu dan selam 3 hari itu juga para anak buah Aiden belum melaporkan atas penyelidikannya hingga membuat Aiden geram. Dan Della saat ini sudah bisa menerima kenyataan yang merenggut nyawa anak pertamanya walaupun kadang kala Della juga masih termenung di dalam kamar Aila namun tak sesering waktu pertama kali ia diberitahu mengenai Aila oleh Aiden.
Dion juga selama 3 hari tak memberi kabar kepada mereka semua termasuk Airen membuat sang kekasih khawatir. Seperti saat ini ia tengah mondar-mandir di ruang tamu dan sesekali mengintip dari jendela rumah tersebut karena Dion telah berjanji kepadanya saat Dion berpamitan kepada Airen jika 3 hari kedepan mereka tak bisa bertemu dan Dion berjanji setelah 3 hari ia akan menemui Airen di rumah Aiden.
Della yang baru selesai membuat makan siang untuk keluarganya pun menatap heran kearah Airen yang sedari tadi pagi sehabis sarapan pagi selalu terlihat gelisah. Della pun memutuskan untuk menghampiri Airen dan menepuk pundak Airen.
"Permisi neng. Neng sedang ngapain ya mondar-mandir seperti setrikaan," ucap Della. Airen menatap Della dengan wajah memelasnya.
"Dion selama 3 hari gak ada kabar Kak," adu Airen.
"Eh ternyata masalah Dion. Ya sudah aku tak mau mencampuri urusan kalian," tutur Della dan beranjak dari ruang tamu tersebut.
"Ck, bukannya nenangin malah ditinggal pergi. Punya keluarga gak ada yang peduli sama aku. Nasibmu sungguh malang sekali nak," gerutu Airen.
Della melangkahkan kakinya hingga sampai di depan ruang kerja Aiden. Sejak saat Della kembali dari rumah sakit, Aiden memutuskan untuk bekerja dari rumah saja yang tak berisiko meninggal Della sendirian walaupun banyak para maid dan juga bodyguard yang Aiden tambah untuk menjaga setiap sudut rumah tersebut sebagai pengaman dan memasang kamera cctv kesegala penjuru lingkungan rumahnya tak terkecuali kamera kecil yang tak diketahui oleh orang lain.
Della memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Aiden.
"Masuk!" Perintah Aiden. Della membuka perlahan pintu tersebut dan memunculkan kepalanya saja.
"Astaga sayang, kenapa harus begitu sih? Masuk aja sini," ucap Aiden yang sempat terkejut dengan tingkah Della tadi. Sedangkan Della ia hanya nyengir kuda dan akhirnya masuk kedalam.
"Ada apa hm?" Tanya Aiden sembari menghampiri Della yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Makan siang dulu. Kerjanya nanti lagi," ucap Della. Aiden tersenyum dan mengacak rambut Della.
"Ish kebiasaan. Jadi gak rapi lagi kan rambut aku," tutur Della sebal. Bukan Aiden namanya kalau di larang langsung berhenti ia malah semakin menjadi. Aiden memeluk tubuh Della dan menguncinya dengan satu tangan sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk meneruskan memberantaki rambut Della. Setelah membuat rambut Della seperti sarang burung Aiden melepaskan pelukannya dan segera berlari menghindari amukan dari Della.
"AIDEN!" Teriak Della menggelegar hingga bisa di dengarkan sampai lantai bawah.
"Suami gak berakhlak. Seneng banget bikin sebel tapi kalau gak dijahili kangen ah dasar labil banget sih," gerutu Della. Jahilan Aiden kini sudah menjadi candu bagi Della karena menurutnya jahilan itu adalah salah satu cara Aiden menunjukkan rasa sayangnya kepada Della.
Aiden terus berlari hingga lantai bawah dan Airen yang sempat mendengar teriakkan Della tadi menatap Aiden penuh kekepoan di pikirannya.
"Huh capek juga," keluh Aiden.
"Udah tau capek masih aja lari-larian kayak anak kecil aja," ejek Airen.
__ADS_1
Aiden tak menjawab ucapan Airen. Ia lebih memilih untuk menuju ke ruang makan dan bersiap melahap hasil masakan sang istri. Airen yang merasa di acuhkan pun menyusul Aiden dan mendudukan tubuhnya disampaing Aiden.
"Kakak ipar tadi kamu apain?" Tanya Airen kepo.
"Kamu mau tau Della aku apain?" Ucap Aiden membuat Airen tambah penasaran.
"Sini aku bisikin," sambung Aiden. Airen pun memajukan tubuhnya sehingga berada didepan Aiden. Aiden mendekatkan wajahnya seolah-olah ingin berbisik ke telinga Airen namun bukannya membisikan apa yang ia lakukan ke Della tadi, Aiden malah menjitak kepala Airen yang membuat sang empu kesakitan.
"Sakit anjim," umpat Airen sembari mengelus kepalanya.
"Mangkanya jangan kepo jadi orang. Dah sana pergi, ganggu aja," tutur Aiden. Airen menghentakkan kakinya dan akhirnya pergi dari hadapan Aiden dan kembali menunggu kedatangan sang kekasih.
Sedangkan Della ia berjalan mendekati sang suami yang sudah siap dengan makanan di depannya. Della duduk disebelah Aiden dan menatap sang suami.
"Ada apa hm?" Tanya Aiden.
"Gak papa cuma mau lihatin suami sendiri aja emang gak boleh gitu?"
"Boleh dong. Apa sih yang gak boleh buat kamu," ucap Aiden yang mendapat senyuman dari Della.
Aiden membiarkan Della memperhatikannya saat makan walaupun sebenarnya Aiden terlihat salting tapi ia tak mau menunjukkannya kepada Della.
"Iya," jawab Aiden lembut.
"Kalau aku nantinya gak ada disamping kamu. Kamu gak boleh sedih ya. Terus semangat, jaga kesehatan jangan sampai sakit," ucap Della. Aiden mengerutkan keningnya. Apa maksud dari ucapan Della itu?
"Apaan sih sayang. Kan kamu selalu ada disamping aku. Ya masak kamu tega ninggalin aku sendiri sih. Gak akan aku biarin kamu ninggalin aku apapun yang terjadi. Jangan ngomong kayak gitu lagi, aku gak suka," tutur Aiden.
"Ya kan gak tau kedepannya sayang," ucap Della.
"Please jangan ngomong kayak gitu!" Tutur Aiden tegas.
"Ya kan seumpamanya." Aiden menatap tajam mata Della. Della yang mendapat tatapan tersebut hanya bisa meringis menampilkan deretan gigi rapinya.
"Iya iya aku gak akan ngomong gitu lagi," ucap Della.
Aiden mengelus rambut Della dan menyelesaikan makannya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Della lagi. Aiden yang sudah selesai dengan makannya pun menatap Della.
"Bosen dirumah terus. Ajakin jalan-jalan lah istrimu ini," keluh Della. Aiden tersenyum.
"Mau jalan-jalan kemana?"
"Kemana aja lah. Pantai juga boleh," ujar Della.
"Baiklah. Kita akan kepantai hari ini. Siap-siap sana gih," ucap Aiden. Della tersenyum lebar dan mengecup singkat bibir Aiden sebelum beranjak menuju kamar mereka. Sedangkan Airen yang mendengar percakapan sepasang suami istri tadi kembali menghampiri Aiden yang tengah mengotak-atik ponselnya.
"Mau kepantai?" Tanya Airen tiba-tiba yang hanya mendapat deheman dari Aiden.
"Ikut!"
"Ck, ya udah sana siap-siap aku tunggu 5 menit harus udah siap kalau gak aku tinggal." Airen tak menjawab ucapan Aiden, ia lebih memilih untuk segera bersiap diri.
Tak berselang lama mereka bertiga sudah siap. Sebelum pergi dari rumahnya Aiden sudah menghubungi bodyguardnya untuk menjaga mereka bertiga nantinya. Mobil Aiden perlahan tapi pasti melaju membelah jalanan yang nampak sepi. Dan hanya butuh waktu sekitar 1 jam mereka telah sampai di salah satu pantai ternama di kota tersebut. Aiden memarkirkan mobilnya dan mereka bertiga keluar dari mobil tersebut.
Della menggandeng tangan Aiden dan menariknya secara paksa untuk mendekati bibir pantai.
"Haish jadi obat nyamuk," gerutu Airen sembari mengikuti Della dan Aiden dari belakang. Namun di tengah jalan Airen menghentikan langkahnya. Ia seperti meninggalkan sesuatu di mobil Aiden dan benar saja saat ia mengecek kembali isi tasnya ternyata ia melupakan ponselnya yang tadi ia taruh di samping tempat duduknya. Airen bergegas kembali kearah parkiran dan betapa kagetnya dia ketika melihat seseorang yang tengah mengotak-atik mobil Aiden dan dengan refleks Airen berteriak.
"Hey mau apa lo," teriak Airen yang membuat orang tersebut dengan terburu-buru menjauh dari mobil Aiden. Airen tak tinggal diam ia mengejar sang pelaku.
"Berhenti sialan," umpat Airen disela larinya. Dan dengan ide berliannya, Airen berhenti sesaat kemudian Airen melepas sepatunya dan dengan lemparan jitu sepatu tersebut berhasil melayang dan mengenai tengkuk kepala orang tersebut.
"Yes," ucap Airen. Dan tanpa mengulur waktu lagi Airen menghampiri orang tersebut yang masih merasakan nyeri di tengkuknya.
Dengan berani Airen memiting leher pelaku.
"Katakan apa yang lo lakuin tadi di mobil Aiden!" Ucap Airen tegas. Namun pelaku tak mau membuka suaranya membuat Airen geram. Ia pun menjitak kepala pelaku sangat keras.
"Bisu ya lo. Cepetan ngomong," gertak Airen. Pelaku pun akhirnya ingin membuka suara tapi lebih dahulu tubuh Airen dipukul oleh seseorang dari belakang yang membuat Airen melepaskan tubuh pelaku tersebut. Pelaku dan temannya memanfaatkan situasi tersebut untuk lari dari hadapan Airen.
"Arkh sial. Beraninya main keroyokan," ujar Airen sembari berusaha untuk berdiri.
"Sial sial sial, baru juga tuh orang mau ngomong. Ah kan gagal jadinya," gerutu Airen sembari memungut sepatu yang ia gunakan untuk melempar tadi dan bergegas untuk kembali ke mobil Aiden.
__ADS_1
Setelah sampai di mobil Aiden, Airen mencoba melihat apa yang di lakukan orang tadi namun karena bukan keahliannya Airen memutuskan untuk menelfon bengkel yang sering menjadi langganannya untuk mengecek mobil Aiden yang ia yakini telah disabotase oleh orang tadi dan daripada nanti mereka kenapa-kenapa dijalan lebih baik Airen mencegahnya terlebih dahulu.