My Bos CEO

My Bos CEO
Extra Part 1


__ADS_3

Sekarang si triplets telah tumbuh menjadi anak yang super aktif dan membuat Della maupun Aiden dan para pengasuh kewalahan karena tingkah mereka. Sifat mereka pun saat ini mulai dapat terlihat.


Anak pertama mereka, Azlan mempunyai sifat dan kepribadian yang benar-benar membuat Della dan Aiden terkadang heran karena kalau Azlan berada di luar rumah ia akan bersikap dingin dengan tatapan tajam, suka dengan yang berbau buku dan pelajaran. Tapi kalau ia di dalam rumah akan berbanding terbalik, aura dingin dan tatapan tajamnya akan hilang dan berganti dengan sifat hangatnya. Jika di lihat sifat yang dimiliki oleh Azlan sama persis dengan Aiden.


Sedangkan Erland, ia memiliki sifat yang hampir sama Azlan namun bedanya Erland tak terlalu suka dengan hal yang berbau pelajaran dan ia memiliki sifat yang akan menyerang siapa saja yang mengusik ketenangannya. Namun ketika dirumah ia akan sangat aktif menjahili Adiknya. Ya siapa lagi kalau bukan Edrea si bontot dan paling cantik diantara saudara kembarnya.


Edrea jika diluar maupun di dalam rumah sifatnya akan sama yaitu sama-sama centil. Terkadang makeup mahal Della harus menjadi korban kecentilan anaknya terakhir itu. Bahkan setiap ingin ke sekolah ia akan sangat rewel dengan Della. Minta di dandani dengan sangat cantik dan harus sesuai dengan keinginannya dan jika tak sesuai ia akan menangis yang akan membuat ia tak mau pergi ke sekolah.


Sama seperti saat ini, Della dibuat pusing dengan tingkah anak-anaknya yang kini telah berumur 5 tahun.


"Lama sekali!" teriak Erland tak sabaran. Ia dan Azlan maupun Edrea tadi sudah siap dengan seragam sekolahnya tinggal berangkat saja namun tiba-tiba Adiknya histeris karena sepatu yang ia kenakan harus basah terkena susu yang ia pegang tumpah begitu saja.


"Sabar sebentar Bang Er," saut Della yang sedang menenangkan Edrea sembari menawarkan sepatu lainnya dibantu dengan pengasuh triplets.


"Ini udah siang Mom. Nanti kita akan terlambat," ucap Azlan tanpa mengalihkan matanya dari buku bacaan yang berada di tangannya.


Tak berselang lama Della menuruni anak tangga dengan membawa Edrea digendongnya. Wajah cantik nan imut itu tampak memerah bahkan air matanya masih tampak di pipi gembul itu.


"Dad, sekarang jam berapa?" tanya Erland.


Aiden yang merasa dirinya dipanggil pun mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia genggam ke arah sang anak. Setelah itu ia mengecek jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jam 7 kurang 15 menit," jawab Aiden.


"Buruan turun jangan kayak koala gitu." Edrea yang di ejek oleh Erland pun mencebikkan bibirnya.


Della menggelengkan kepalanya dan segera menurunkan Edrea dari gendongannya. Setelah itu ia mengelap bekas air mata dan ingus Edrea sebelum mengecup wajah anaknya dengan sayang.


"Sudah ya gak boleh nangis lagi. Tar kalau nangis cantiknya hilang lho," tutur Della. Edrea pun menganggukkan kepalanya.


"Ya udah sekarang berangkat gih. Belajar yang pinter ya sayang," sambung Della dan ketiga anaknya pun mengalami punggung tangannya secara bergantian.


Della mengantarkan mereka sampai di depan pintu utama rumah tersebut.


"Assalamualaikum Mommy," pamit mereka bertiga dan segera masuk kedalam mobil Aiden.


"Waalaikumsalam sayang," jawab Della.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya sayang. Kalau ada apa-apa telfon aku," ucap Aiden yang sudah berada di depan Della. Della pun tersenyum dan segera meraih tangan Aiden untuk ia cium. Setelah itu Aiden yang akan mencium setiap inci wajah Della dan ketika bibir seksinya akan ia tautkan kebibir Della, suara si triplets mengganggu aksinya.


"Daddy!" teriak mereka bertiga. Aiden berdecak sebal.


"Ck cuma dikit aja," tutur Aiden kepada triplets.


Dengan cepat triplets bersuara dengan serempak.


"No Daddy."


"Haish tapi Mommy kan punya Daddy." Triplets yang mendengar ucapan Aiden pun membelalakkan matanya.


"Mommy punya kita!" Aiden mencebikkan bibirnya. Sedangkan Della, ia sudah terkekeh melihat anaknya yang super duper posesif dengan dirinya.


"Kenapa malah ketawa?" ucap Aiden tak suka.


"Gak. Cuma lucu aja," tutur Della. Aiden tambah menekuk wajahnya. Della kembali tertawa dan ketika Aiden ingin menghampiri mobilnya, lengan Aiden, Della cekal. Aiden mengerutkan keningnya.


"Masuk dulu bentar."


"Bentar ya anak-anak. Barang Daddy ada yang ketinggalan," teriak Della.


"Apa-apaan sih tuh tiga bocil. Padahal disini yang berhak atas kamu tuh aku bukan mereka," sebal Aiden. Della kembali terkekeh.


"Mana ada suami gak boleh ngapa-ngapain sama istri sendiri. Huh menyebalkan. Rasanya ingin ku kembalikan menjadi kecebong aja," sambung Aiden.


"Ya mana bisa sayang udah terlanjur jadi tuh. Ngalah aja, sama anak sendiri juga," ucap Della.


Aiden mendelik menatap Della. Dia tak akan mau mengalah walaupun dengan anaknya sendiri.


"Gak ada ya di kamus dunia Aiden yang namanya mengalah," tutur Aiden.


"Baiklah sayang. Terserah kamu aja. Tapi coba kamu nunduk sebentar." Tanpa bicara Aiden menuruti ucapan Della. Saat wajahnya sudah berada didepan wajah Della, sang istri mencium bibir Aiden cukup lama.


Aiden tersenyum manis setelah ciuman mereka terlepas. Ya walaupun hanya ciuman biasa bukan yang mendalam namun itu mampu membuat mood Aiden yang tadinya down kini bangkit lagi. Sedangkan Della, ia malah bersemu merah dikedua pipinya. Walaupun sudah lama menikah, Della masih saja selalu bersemu begitu dan detak jantungnya sama seperti waktu awal ia jatuh cinta dengan Aiden, bahkan setiap hari debaran jantungnya kian bertambah yang menandakan bahwa rasa sayang dan cintanya juga bertambah.


"Dah sana berangkat," usir Della dengan berusaha menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh Aiden.

__ADS_1


"Masih aja kayak tomat kamu sayang. Tapi aku suka," goda Aiden sembari menoel dagu Della.


"Ck udah jangan godaiin aku dulu. Buruan gih berangkat tar anak-anak telat kesekolah," tutur Della.


"Peluk dulu dong." Aiden merentangkan kedua tangannya. Dan ketika Della ingin memeluk tubuh Aiden. Suara triplets kembali terdengar.


"Daddy!" Aiden memejamkan matanya.


"Lama-lama aku kasih lakban tuh mulut," geram Aiden.


"Jangan gitu ih. Tega banget sama anak sendiri. Sini aku peluk sebentar." Aiden kembali tersenyum dan memberikan pelukan kepada Della dengan hangat.


"Daddy, Mommy!" Mereka berdua memutar bola matanya dan segera melepas pelukan mereka.


"Aku berangkat dulu," pamit Aiden sembari mengusap puncak kepala Della.


"Hati-hati. Jaga mata, jaga hati jika tak mau mati," ancam Della.


"Iya-iya sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Della. Aiden pun menghampiri mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


"Daddy lama," protes Edrea yang berada di kursi samping Aiden sedangkan kedua prince berada di kursi belakang.


"Daddy ngapain aja sama Mommy?" tanya Azlan penuh selidik.


"Mau tau?" Mereka bertiga pun mengangguk.


"Rahasia," ucap Aiden sembari menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya dan saat itu juga teriakan triplets kembali terdengar.


"Daddy!" Aiden tersenyum menang melihat si triplets yang sekarang tengah menekuk wajahnya.


"Bodo amat deh kalian mau ngambek apa gak. Toh nanti juga baik sendiri," batin Aiden tanpa mengalihkan pandangannya ke depan jalan.


...*****...


Yuhu kembali lagi ketemu sama cerita absurd ini 🤭 Sesuai dengan janji author mungkin mulai hari ini sampai entah lah author tak tau. Extra part kita mulai🤗 Jangan lupa Like, kasih bintang 5, komen, kasih hadiah and Vote.

__ADS_1


Happy reading guys 🤗 SEE YOU NEXT EXTRA PART👋


__ADS_2