
Paginya Della baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi dada hingga di atas lututnya dan satu handuk ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya karena dia tidak membawa hairdryer dan dengan teganya Aiden tidak menyediakan itu di sini.
Ia terus menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah dan dengan sesekali ia bersenandung mengikuti alunan musik yang tengah ia dengarkan.
"So look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
I wish I could escape
I don't wanna fake it
Wish I could erase it
Make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go (go)." nyanyi Della dengan teriakan kencang yang mampu memenuhi kamarnya bahkan mungkin tetangga apartemen bisa mendengarkan nyanyiannya.
Della terus saja bernyanyi dan sesekali handuk yang ia genggam dia jadikan mic sementara. Hingga dobrakan pintu mampu mengalihkan perhatiannya.
Brak
Della menatap pintu yang sudah terbuka lebar menampakkan sosok yang dengan beraninya ia mendobrak pintu kamar Della.
Ia melototkan matanya ketika melihat Aiden mematung tanpa bicara di depan pintu. Menatapnya lekat tanpa berkedip. Della melihat arah pandang Aiden saat ini dan dia baru sadar kalau dia hanya memakai handuk sebagai penutup tubuhnya yang polos.
"Huwaaaaa, mesum," teriak Della dengan melempar handuk yang di tangannya bukan handuk yang menutup tubuh polosnya lho ya. Aiden pun terperanjat kaget dan dengan segera menutup kembali pintu Della sebelum terkena amukan lebih parah lagi.
Aiden menetralkan nafasnya dan detak jantung yang tiba tiba lari maraton.
__ADS_1
"Huh oke tenang, rileks, ambil nafas buang," gerutu Aiden di balik pintu.
"Argh bisa tenang gak sih nih jantung," ucap Aiden yang tengah memegang dadanya.
Aiden terus menetralkan dirinya di balik pintu. Sedangkan Della ia sudah di kamar mandi mengganti pakaiannya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Hiks emak anak perawanmu di intip laki-laki lain selain suaminya yang entah sekarang dimana tuh suami," racau Della.
"Hiks Della udah gak suci lagi huwaaaaa." Tangis Della semakin histeris seakan akan Aiden telah berhasil mengambil kesuciannya yang telah ia pertahankan selama ini namun nyatanya tidak sama sekali Aiden hanya menatap gundukan yang sedikit menyembul di dada Della tadi bahkan ia tidak memegangnya sama sekali.
Aiden yang mendengar tangisan Della pun dibuat bingung bukanya tadi Della baik-baik saja kenapa sekarang ia menangis.
Aiden mengetok pintu kamar Della. "Del, are you oke?" tanya Aiden tapi tidak ada jawaban dari sang empu yang di panggil.
"Del, kamu gak papakan?" tanyanya lagi namun lagi-lagi ia tak mendengar balasan dari Della, entah angin apa yang menerpa Aiden, ia benar-benar khawatir saat ini.
"Del jawab Del," teriak Aiden. Bahkan Aiden saat ini sudah tidak mendengar isak tangis Della dan itu mampu membuat khawatirnya Aiden bertambah.
"Fredella please open the door!" Aiden berdecak sebal ketika tidak ada jawaban lagi. Ia pun memberanikan dirinya membuka pintu kamar Della secara perlahan. Namun Aiden tidak menemukan sosok Della di dalamnya.
"Del. Della kamu di mana?" teriak Aiden sembari menyelusuri setiap ruangan di dalam kamar tersebut.
"Di kamar mandi apa ya." Aiden pun menuju kamar mandi dan benar saja ia dapat mendengar isakan Della.
"Del kamu kenapa?" tanya Aiden.
"Stop Bapak jangan lagi bicara sama saya hiks," jawab Della dari dalam kamar mandi.
"Lho emang kenapa? Salah saya apa?"
"Bapak udah nodain saya dan apa yang Bapak bilang tadi salah apa? Bapak nyadar dong," teriak Della. Emosinya sekarang sedang menggebu-gebu sedangkan Aiden ia bingung dengan ucapan Della. Nodain Della yang benar saja. Kapan dia meniduri wanita itu perasaan gak pernah.
"Lah kapan saya nodain kamu Della? Perasaan saya gak pernah tidur bareng dengan kamu," jawab Aiden yang masih dengan kebingungannya.
"Hiks bukan itu." Della sekarang sudah menyembulkan kepalanya keluar dari kamar mandi, menatap Aiden yang tengah berdiri didepan pintu dengan tangan Aiden ia lipat di depan dadanya sendiri.
"Lha terus apa?" ucap Aiden santai.
"Bapak tadi liat saya gak pake apa-apa itu sama aja nodain saya hiks." Aiden memutar kembali ingatanya. Astaga dia sekarang ingat dan paham arah bicara Della kemana.
"Astaga Del tadi saya gak sengaja toh kamu juga tadi pakai handuk gak polosan gitu aja," tutur Aiden.
__ADS_1
"Sama aja hiks Bapak mah huwaaaaa." Kini tangis Della kencang kembali. Aduh bisa berabe urusannya nanti kalau tetangga dengar disangka ia udah unboxing Della mau di taruh dimana mukanya nanti.
Dengan kalang kabut Aiden refleks mendekat kearah Della membuka lebar pintu kamar mandi dan membekap mulut Della dengan satu tanganya.
"Jangan teriak-teriak Del. Tar di sangka saya udah jahatin kamu lagi, gak enak di dengar tetangga," ucap Aiden tanpa melepas tangannya di bibir Della. Della terus memberontak untuk melepas bekapan Aiden.
"Ih Bapak gak bisa nafas saya," ucap Della setelah berhasil melepaskan tangan Aiden.
"Kan emang Bapak jahatin saya tadi hiks. Biar semua orang tau dan menghajar Bapak saat ini juga hiks," sambung Della. Aiden menghela nafasnya dan dengan segera ia menangkup kedua pipi Della.
"Lihat saya Della!" perintah Aiden yang dengan segera Della lakukan.
"Maafin saya yang sudah lancang masuk ke kamar kamu dengan posisi kamu yang hanya memakai handuk saja. Saya gak sengaja Del melihat apa yang seharusnya tidak saya lihat maafkan saya ya," ucap Aiden menenangkan.
"Saya gak maafin Bapak," jawab Della.
"Ck saya tadi hanya kelewat senang saja Della karena hari ini kita bisa pulang," ucap Aiden yang mampu membuat mata Della berbinar.
"Serius Pak? hari ini kita pulang?" ucap Della memastikan.
"Ia kita pulang hari ini. Tadi orang kepercayaan saya telfon masalah disini udah selesai," ucap Aiden yang mampu membuat Della tersenyum dan menghentikan tangisnya.
"Sekarang maafin saya ya. Saya tadi benar-benar gak sengaja," ucap Aiden lembut bahkan Della dibuat tak berkutik beberapa saat mendengar suara Aiden yang tidak seperti biasa.
Della pun mengangguk sebagai jawabannya dan lagi-lagi dengan refleks Aiden memeluk tubuh Della erat.
"Thanks Del udah maafin saya," ucap Aiden tepat di samping kuping Della yang membuat jantung Della berdetak kencang dan dengan cepat Della menganggukan kepalanya.
"Ehem Pak anu itu hmmm jangan peluk-peluk Pak baru aja saya maafin mau saya nangis lagi Pak?" ucap Della gugup. Entahlah pikiran dan hatinya sekarang sedang tidak singkron satu sama lain. Otaknya memerintah untuk mengakhiri pelukannya dengan Aiden tapi hatinya memilih untuk diam menikmati pelukan Aiden arkh sudah lah Della memilih otak saja.
"Eh maaf-maaf tadi saya refleks. Ya udah kamu siap-siap gih nanti pukul 9 kita sudah harus di bandara masih ada 3 jam untuk santai," ucap Aiden dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Siap Pak." Della memberikan hormat kepada Aiden seakan-akan Aiden adalah ajudannya saat ini. Aiden pun hanya tersenyum manis dan mengusap pucuk kepala Della sebelum ia beranjak pergi keluar kamar Della. Della menatap punggung Aiden yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Jantung gue gak normal astaga sakit jantung apa ya gue ah perlu periksa nanti kalau udah sampai di Indonesia," ucap Della sembari mengelus dadanya yang tengah berdetak kencang. Setelah merasa jantungnya normal kembali ia bergegas untuk bersiap dan membereskan semua peralatannya kedalam koper dengan cepat kilat tanpa ada yang tertinggal.
💜💜💜💜💜
HAPPY READING GUYS 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE 🤗
__ADS_1