
Della dan juga Aiden kini tengah mencari keberadaan triplets mulai dari membuka satu persatu kamar milik mereka hingga akhirnya mereka berdua menemukan triplets yang tengah merajuk di dalam kamar Edrea.
Edrea yang tengah mojok di pojokan kamar sembari memeluk boneka besar di depannya, jangan lupakan dengan wajah yang sudah memerah kebanyakan menangis. Sedangkan Azlan dan juga Erland menatap jengah adiknya yang tak kunjung mereda.
Mereka mengalihkan pandangannya saat pintu kamar terbuka dan setelah mengetahui siapa dibalik pintu tersebut, wajah mereka kembali menekuk. Apalagi saat Daddynya masih membawa baby Zelfix digendongnya membuat si Triplets semakin cemburu.
"Betah banget sih anak kamu ngambeknya," bisik Della. Aiden mengedikan bahunya lalu ia berjalan masuk mendekati Edrea terlebih dahulu.
Della mencebikkan bibirnya dan memilih untuk mengikuti sang suami yang tengah duduk disamping Edrea dengan memangku baby Zelfix.
"Rea sayang. Hey lihat Daddy sini," ucap Aiden sembari mengelus kepala Edrea namun tangannya malah ditepis oleh si bontot.
"Galak juga nih anak," gumam Aiden.
"Sayang gak boleh gitu ih gak baik tau apalagi sama Daddynya sendiri. Mom gak pernah ajari Rea kayak gitu kan?" Edrea bergeming tak memberikan reaksi sama sekali kepada mereka berdua.
Aiden dan juga Della menghela nafas berat. Sabar kan mereka sekarang tuhan.
Aiden menyerahkan baby Zelfix ke pangkuan Della kemudian dengan sigap ia meraih tubuh mungil Edrea dan membawa kepangkuannya.
"Hiks lepasin Rea Daddy," berontak Edrea sembari memukul dada bidang Aiden yang tak memberikan efek sakit sama sekali di dirinya.
Aiden kini memeluk tubuh Edrea sembari mengelus rambut Edrea dengan lembut.
"Azlan, Erland sini sayang," ucap Della namun hanya mendapat lirikan sekilas dari mereka berdua.
"Mom nangis nih kalau kalian berdua gak kesini," ancam Della yang membuat Azlan dan juga Erland mendekatinya dengan ekspresi cemberutnya.
"Duduk di depan Mom sama Dad sini." Dua manusia kembar tersebut menuruti ucapan Della dan dengan malas mereka duduk didepan orangtuanya tanpa menatap wajah mereka.
__ADS_1
"Edrea udah nangisnya sayang. Dad sama Mom mau meluruskan kesalahpahaman ini. Kalau Rea gak berhenti nangisnya tar yang lain gak denger lho ucapan Mom sama Dad nanti," ucap Della.
Setelah dirasa Edrea sedikit tenang di dekapan Aiden, Della mengangkat suaranya kembali.
"Kalian tau kan baby yang di pangkuan Mom sekarang siapa?" tanya Della basa-basi. Triplets menganggukkan kepalanya.
"Baby Zelfix itu bukan adik kandung kalian tapi adik sepupu yang mana baby Zelfix juga punya orangtua yang berbeda bukan Mommy Della dan Daddy Aiden orangtua baby Zelfix melainkan aunty Airen sama om Dion yang tadi pagi baru sampai disini. Mungkin kalian belum pernah ketemu sama mereka berdua karena selama ini mereka tinggal di tempat yang jauh dari kita," jelas Della yang ia tak tau bisa dimengerti oleh triplets atau tidak.
Tapi bukan triplets namanya kalau tidak paham dengan ucapan Della tadi. Mereka bertiga paham bahkan sangat paham.
Edrea yang tadi memasang kuping sangat tajam pun kini menampakan wajahnya dari balik dada Aiden.
"Jadi hiks baby ini bukan adik kita? Bukan anak dari Mom sama Dad?" Della menganggukkan kepalanya.
Kini Edrea maupun kedua kembaran telah merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih cerah dari sebelumnya.
Mereka kini menatap baby Zelfix bukan dengan tatapan maut mereka namun dengan tatapan gemasnya.
Della menatap Aiden meminta agar sang suami yang memberi alasan untuk mereka bertiga.
"Itu anu hmmmm aunty Airen sama om Dion lagi ada tugas yang harus diselesaikan sayang. Makanya baby Zelfix harus di titipkan ke Mom sama Dad tadi," jelas Aiden.
"Tugas apa Dad?" Kepo Erland.
"Tugas bercocok tanam sayang."
"Bercocok tanam? sama seperti mbah akung yang ada di desa itu. Mereka berdua kesana Dad?" Aiden menggaruk tengkuknya. Dosa kah dia saat ini karena telah banyak berbohong kepada anak-anaknya. Sudahlah dosa juga tak apa demi kebaikan triplets dimasa yang akan mendatang.
"Iya sayang mereka berdua sekarang lagi disana."
__ADS_1
"Berarti mereka berdua lagi di sawah ya Dad?" tanya Edrea. Aiden menganggukkan kepalanya.
"Yah kenapa mereka gak ajak kita. Kita kan juga mau ke sawah ikut bercocok tanam disana," tutur Erland.
Aiden dengan Della saling tatap dan mereka berdua hanya bisa tersenyum mendengar penuturan dari Erland tadi.
"Sudah sudah nanti kalau libur panjang kita main ke rumah mbak akung ya terus kalian bisa pergi ke sawah nanti, Oke. Dan untuk sekarang kalian mandi dulu sana. Habis itu kebawah lagi buat sarapan. Daddy, kamu juga mandi!" perintah Della.
Mereka berempat pun berdiri dan memberikan hormat ke Della. Setelah itu mereka berhambur menuju kamar masing-masing kecuali Edrea yang masih berdiri didepan Della.
"Kenapa gak pergi mandi?" tanya Della.
"Mandi sama baby Zelfix ya," pinta Edrea dengan mata berbinar.
"Baby Zelfix udah mandi sayang nih coba kamu cium wangi kan. Kalau wangi berarti udah mandi," ucap Della. Edrea pun mencium pipi baby Zelfix yang membuat si baby tertawa geli.
"Iya wangi sih Mom. Tapi kan wangi belum tentu udah mandi bisa aja kan cuma pakai parfum kayak Mommy kalau diajak pergi sama Daddy gak pakai mandi dulu tapi cuma ganti baju, make up dan nyemprotin parfum ke seluruh badan Mommy." Skak sudah Della sekarang tak bisa membalas ucapan sang anak karena apa yang dikatakan Edrea semuanya adalah benar. Tapi jangan salahkan dia karena Aiden biasanya mengajak dirinya untuk bertemu klien secara mendadak dan itu membuat Della mau tak mau harus melakukan semua itu.
"Haduh. Tapi Mom itu terpaksa sayang. Udah ya hal semacam itu jangan dicontoh, gak baik. Jadi Edrea sekarang mending mandi ya dari pada nanti cantiknya luntur karena gak mandi. Emang Rea mau kalah cantik sama Mommy?" Edrea pun menggelengkan kepalanya dan dengan secepat kilat Edrea berlari menuju kamar mandi.
Della menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Semakin hari triplets semakin pintar dan semakin hari pula ini pikiran harus lebih pintar mencari alasan untuk mereka. Huh mau sedih apa seneng ya Allah kalau kayak gini," gerutu Della.
Ia pun segera beranjak keluar dari kamar Edrea dan kembali menuju lantai bawah. Sesampainya dilantai bawah mata Della menangkap dua sosok yang membuat dirinya sebal tadi dan kini dua orang tersebut malah enak-enakan bermesraan di depan ruang keluarga.
Della menghampiri dua orang tersebut.
"Ehem enak ya Pak, Bu pacaran terus ninggalin anaknya sama orang lain. Nih anak kalian jagain," tutur Della sembari meletakkan baby Zelfix di pangkuan Airen yang tengah menatapnya dengan cengiran tak berdosanya.
__ADS_1
Della mengabaikan cengiran dari Airen, ia memilih untuk pergi ke dapur melihat apakah sarapan untuk pagi ini selesai dikerjakan oleh artnya atau belum kalau sudah ia bisa bersantai ria untuk sementara waktu.