My Bos CEO

My Bos CEO
34


__ADS_3

Della terus mencoba menghubungi nomor Aiden namun tak ada jawaban satu pun. Della berdecak sebal, ia berniat ingin melanjutkan pekerjaannya namun pikirannya sekarang hanya tertuju pada Aiden seorang.


"Arkh kenapa gue jadi mikirin pak Aiden sih, ayolah fokus kerjaan lo masih banyak Della," gerutu Della mencoba fokus kembali kekerjaannya namun hasilnya tetap saja nihil. Ia memegangi kepalanya memijit pelipisnya dengan pelan sampai suara ketukan mampu mengalihkan perhatiannya.


"Masuk," tutur Della.


"Hay kak," sapa Airin yang sudah masuk keruangan Della dengan membawa dokumen di tangannya.


"Hay juga dek, ada apa?" tanya Della lesu.


"Mau nitip dokumen dokumen ini kak mintain tanda tangan sama pak Aiden ya hari ini juga kata pak Bisma ini berkas semua mau di gunakan untuk meeting nanti siang habis istirahat," ucap Airin dengan menyerahkan semua dokumen yang ada di pelukannya tadi ke Della.


"Pak Aiden belum berangkat ke kantor dek, gak tau mau berangkat apa gak," ucap Della.


"Kakak gak coba hubungin pak Aiden gitu? Memastikan beliau masuk gak, masalahnya ini dokumen harus hari ini selesai," tutur Airin yang juga ikut bingung sekarang.


"Kakak udah coba hubungin pak Aiden dek tapi gak di respon, kakak juga bingung banyak dokumen yang tinggal di tanda tangani pak Aiden doang tapi ya masih terbengkalai di sini," ucap Della pasrah.


"Terus gimana dong kak?" tanya Airin yang mulai was was jikalau dia akan kena amukan dari Bisma.


Della menghembuskan nafas jengah,"Nanti coba kakak hubungin lagi pak Aiden deh dek siapa tau beliau lagi dalam perjalanan kesini," Airin mengangguk kepalanya mengerti dan berharap dalam hati semoga Aiden segera berangkat ke kantornya.


"Ya udah kak, Airin balik lagi ya, semangat kak jangan lesu, pak Aiden pasti kesini kok," ucap Airin dengan senyuman manis di bibirnya dan hanya di balas dengan anggukan kepala oleh Della.


Pukul 11:15 Della masih berkutik dengan komputernya dan sesekali mengecek ponselnya siapa tau ada kabar dari Aiden namun ia di buat kecewa oleh kenyataan bahwa Aiden sama sekali tidak menghubunginya bahkan membalas pesannya pun tidak.


Della menghela nafas pasrah sekarang mau tidak mau meeting penting sekalipun ia akan tunda karena ketidak hadiran Aiden hari ini.


"Dah lah mau gimana lagi, apa gue tanya pak Reiki ya siapa tau dia mau bantuin gue, tapi kalau dia sibuk sendiri gimana dong ahhhh," Della mengacak acak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Dahlah bodo amat penting usaha dulu kalau pak Reiki sibuk ya udah end gue," gerutu Della sembari berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangannya. Sebelum ia sampai di ruangan Reiki, Della sempat melihat sosok pria yang mengusik pikirannya tadi ya siapa lagi kalau bukan Aiden, dia baru sampai kantor dengan penampilan yang benar benar berantakan bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya pun tak berganti masih sama seperti kemarin.


Della memutuskan untuk menghampiri Aiden, dia berlari kecil sebelum Aiden memasuki ruangannya.


"Pak Aiden tunggu pak," teriak Della yang dapat menghentikan langkah Aiden. Ia menengok ke arah Della yang sekarang sudah berada tepat di belakangnya, melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Ada apa?" tanya Aiden serak. Della terperanjat kaget melihat mata Aiden yang merah bahkan bengkak dan ada luka di kedua tangannya.


"Hmm pak, bapak gak ada niat bunuh diri kan kemarin?" tanya Della.


"Gak," jawab Aiden singkat.


"Beneran pak," ucap Della memastikan.


"Hm," Aiden menjawab dengan deheman singkat.


"Bukan urusan kamu, sekarang kembalilah bekerja!" perintah Aiden, Della mencebikkan bibirnya, bukannya berterima kasih udah di perhatikan oleh sekertarisnya eh malah di abaikan begitu saja dasar bos gak tau bersyukur pikir Della. Della berjalan meninggalkan Aiden yang masih berdiri di tempat semula sebelum ia benar benar masuk kedalam ruangannya.


Della sekarang bisa bernafas lega, rapat bisa di laksanakan, proyek besar gak jadi di batalkan, jikalau benar benar di batalkan bisa menyebabkan perusahaan rugi nantinya kalau rugi bisa bisa kantor Aiden bangkrut, Della bisa di PHK dari kantornya Aiden dan mungkin daddynya langsung akan mengirim Della ke Inggris ah dasar pikiran Della ngelantur.


Della kembali keruangnya hanya untuk mengambil beberapa dokumen yang memang sudah menunggu untuk di tangani oleh Aiden sendiri dan waktu istirahat juga sebentar lagi. Della buru buru menuju ruangan Aiden, ia mengetuk pintunya dengan cukup keras.


"Masuk," perintah Aiden dari dalam, Della dengan hati hati membuka pintu tersebut dan melihat Aiden sudah rapi dengan pakaian formalnya, walaupun Della sudah tidak kaget lagi jika Aiden berpakaian formal secara tiba tiba seperti pertama ia ketemu Aiden dulu, hanya ia masih penasaran dan masih menjadi teka-teki buat Della dari dulu hingga sekarang dapat pakaian itu dari mana bahkan di ruangan Aiden pun tak ada lemari pakaian disana. Sudahlah Del suatu saat nanti kamu bakal tau.


Della mendekati Aiden yang tengah menatap dirinya, lebih tepatnya dokumen yang Della bawa.


"Taruh disitu," baru saja Della mau membuka mulutnya namun di potong oleh Aiden begitu saja. Della menuruti apa yang di perintah Aiden, ia menaruh dokumen tersebut ke atas meja kerja Aiden.


"Pak, ada meeting se..." ucapan Della lagi lagi di potong oleh Aiden.

__ADS_1


"Pakein!" perintahnya. Della mengerutkan keningnya lalu ia menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh.


"Saya pak?"


"Bukan tapi belakang kamu," ucap Aiden, Della menoleh ke belakang namun ia tak menemukan seorang pun disana.


"Pak, bapak jangan bercanda pak, gak ada orang lho disini selain saya sama bapak," ucap Della mulai takut.


"Kata siapa ada itu di belakang kamu, kamu aja yang gak liat mungkin," ucap Aiden pura pura serius. Della bergidik ngeri ia mendekati Aiden bahkan sekarang ia sudah menjadikan tubuh Aiden sebagai tamengnya. Aiden menahan tawanya, mengerjai Della sepertinya akan menjadi hobi baru buat Aiden kedepannya selain membuat mood Aiden berubah menjadi lebih baik lagi, ia juga berhasil menenangkan Aiden saat ini.


"Pak, bapak ih gak ada orang tau," ucap Della sembari memegang pakaian Aiden.


"Masak sih, ada tau Del dia lagi jalan kesini," Della menenggelamkan kepalanya di tubuh Aiden, tubuhnya sekarang sudah bergetar ketakutan. Hingga tubuhnya perlahan lemas, pandangannya mulai kabur dan bruk Della pingsan ditempat.


"Astaga, Del bangun Del," ucap Aiden yang sudah mengetahui tubuh Della tidak menempel pada dirinya lagi. Aiden dengan segera membopong tubuh Della menuju sofa, di letakan tubuh Della perlahan.


"Del bangun," Aiden menepuk nepuk pipi Della pelan namun tidak berhasil membuat sang empu bangun dari pingsannya.


"Gimana ini?" gerutu Aiden yang mulai khawatir. Aiden beranjak dari duduknya, mencari minyak kayu putih yang selalu ia bawa kemana mana siap sedia siapa tau kalau dia lagi gak enak badan minyak tersebut bisa menghilangkan rasa pusingnya walau sebentar. Ia membawa minyak itu ke arah Della, membuka tutupnya dan dengan segera mengarahkannya ke hidung Della.


💜💜💜💜💜


Thanks ya yang udah meluangkan waktu untuk membaca cerita absurd ini hehehe, jangan bosen bosen terus pantengin cerita ini sampai end wokey🤗


HAPPY READING GUYS 😘


Jangan lupa LIKE and VOTE, kasih hadiah juga boleh author ikhlas hehehe 😁


Peluk cium dari author absurd 😚 sampai ketemu di eps selanjutnya, See you bye👋

__ADS_1


__ADS_2