
Pagi-pagi buta tampak Aiden sudah bangun terlebih dahulu dari pada Mamanya dan juga Della. Ia sudah wangi dan lebih segar dari sebelumnya. Kemudian ia keluar dari kamar Adiknya yang sudah lama tak di tempati.
Aiden segera menuju kearah kamarnya berniat melihat aktivitas apa yang Della lakukan pagi ini. Ia mencoba membuka pintunya namun ternyata Della telah mengunci pintu itu dari dalam.
"Haish kenapa harus di kunci sih," gerutu Aiden.
Namun jangan heran jika Aiden akan menyerah begitu saja. Ia ingat dulu kunci cadangannya di bawa oleh sang Adik. Aiden bergegas kembali menuju kamar yang ia tempati tadi. Mencari setiap inci ruangan tersebut hingga ia berhasil menemukan kunci tadi di dalam guci kecil yang ada disana.
Kemudian Aiden dengan sedikit berlari menuju kamarnya kembali dan membuka pintu itu dengan kunci cadangan di tangannya.
"Berhasil," ucap Aiden lirih.
Aiden membuka pintu secara perlahan dan sebelum ia membuka lebar. Aiden melirik kanan kiri memastikan situasi di dalam kamarnya aman. Hingga manik matanya menatap Della yang masih tidur pulas dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya hingga kepalanya pun juga ikut tertutup.
Aiden berjalan masuk kedalam kamarnya dan tak lupa menutup kembali pintu itu perlahan. Aiden berjalan mengendap menuju Della yang masih terlelap hingga ia sampai di samping Della.
Aiden membuka selimut yang menutupi wajah Della.
"Cantik banget sih," ucap Aiden yang terus menatap wajah Della.
"Kerjain ah," tutur Aiden dengan seringai di bibirnya.
Aiden membaringkan tubuhnya tepat disamping Della dan mengangkat selimut yang Della pakai untuk menutupi badannya juga. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Della yang sudah mengganti posisinya menghadap Aiden pula.
Aiden melingkarkan tangannya ke tubuh Della dengan sangat erat tak lupa ia mengecup dahi Della sebelum menutup matanya.
Jarum jam sekarang menunjukkan pukul 06:30. Della menggeliatkan tubuhnya namun ia merasakan sesak dan tak leluasa untuk meregangkan otot-ototnya.
Della membuka matanya menatap perutnya yang ternyata ada tangan lain selain dirinya melingkar indah di atas perutnya. Della memiringkan kepalanya setelah merasakan hembusan nafas di samping kanannya. Della membelalakkan matanya melihat Aiden yang ternyata tidur satu ranjang dengan dirinya.
"Astaga," teriak Della yang berhasil membuat Aiden terusik dari tidurnya.
"Ada apa sih sayang. Masih pagi ini jangan teriak-teriak tar Mama denger. Mending tidur lagi yuk," tutur Aiden dengan suara serak khas bangun tidurnya dan menarik tubuh Della kedalam pelukannya lagi. Sehingga kepala Della sekarang tepat berada di dada bidang Aiden.
Beberapa detik Della masih terbengong dengan aksi Aiden tadi hingga ia benar-benar sadar. Della mendorong dan menendang tubuh Aiden dengan sekuat tenaganya hingga membuat Aiden terjatuh dari kasur tersebut.
"AW," pekik Aiden yang merasakan ciuman lantai di pagi hari.
"Apa yang kamu perbuat sama aku semalam?" tanya Della mengintimidasi.
Aiden yang sudah terduduk kembali di kasur pun tak mengerti dengan ucapan Della tadi sembari ia mengelus dahinya yang memerah akibat mendarat lebih dulu ke lantai dari pada badannya.
"Jawab Aiden," teriak Della.
__ADS_1
Aiden terus berfikir dan mengingat-ingat kembali. Semalam dia kan tidur di kamar Adiknya otomatis ia tak melakukan apapun dengan Della. Hingga ingatanya kembali ke tujuan awal tadi yang merencanakan akan mengerjai calon istrinya ini.
Aiden menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang tak lupa melipat kedua tangannya di depan dada.
"Masa kamu lupa sih sayang," ucap Aiden santai.
"Lupa apanya?" tanya Della ngotot.
"Kejadian yang semalam," tutur Aiden.
"Jangan bilang kalau kamu." Della menatap tajam Aiden.
Dan dengan entengnya Aiden menjawab, "Mungkin." Dengan ekspresi wajah coolnya.
Della berancang-ancang memukul Aiden dan dengan cepat tinjuan Della berhasil mendarat di perut sixpack Aiden dan beberapa cubitan maut ia daratkan di tubuh Aiden tanpa ampun.
"Sakit sayang, stop," ujar Aiden kesakitan.
"Biar tau rasa kamu," tutur Della sembari terus melancarkan aksinya. Hingga air matanya mengalir begitu saja di kedua pipi Della.
"Hiks, jahat banget sih," ucap Della sesegukan.
Aiden yang mendengar isakan tangis dari Della pun memegang pipi sang kekasih dan menghadapkan kearah wajahnya.
Aiden menatap nanar kearah Della.
"Aku benci kamu," ucap Della sebelum pergi ke kamar mandi dan menutup pintu rapat-rapat.
Aiden yang menyadari dengan kesalahannya pun mengikuti Della dan mengetuk pintu itu keras-keras.
"Sayang maafin aku. Aku tadi cuma bercanda. Kita semalam gak berbuat apa-apa beneran suwer. Aku tadi pagi baru pindah niatnya mau ngerjain kamu eh taunya malah jadi gini. Maaf sayang, bukain pintunya," teriak Aiden dari luar. Sedangkan Della ia mencuci mukanya dan segera membersihkan tubuhnya dengan di temani teriakan minta maaf dari Aiden.
"Biar tau rasa aku kerjain balik," gumam Della sembari tertawa puas.
Hingga 1 jam, Della baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sama seperti tadi.
"Sayang maaf," ucap Aiden yang sedari tadi menunggu Della di depan pintu.
Della mendekati Aiden dan tak disangka Della menjewer telinga kiri Aiden.
"Rasain siapa suruh ngerjain aku." Della terus menjewer telinga Aiden.
"Lepasin sakit sayang," ucap Aiden.
__ADS_1
Della yang tak tega lagi menyiksa Aiden pun segera melepas tarikkan tangannya dari telinga Aiden yang sudah memerah.
"Emang kamu pikir aku bodoh yang dengan gampangnya mau kamu kibulin," tutur Della yang berjalan mendekati sofa yang ada di dalam kamar Aiden.
"Jadi kamu udah tau kalau aku tadi ngerjain kamu dan yang drama kamu nangis tadi balasan buat aku?" tanya Aiden yang sudah duduk di sebelah Della.
"Iya lah." Della tersenyum kemenangan kearah Aiden.
"Orang sepolos apapun tau kalau kamu tadi seumpama ngibulin dirinya. Ya kali kalau kita udah berbuat yang gak sepantasnya pakaian aku gak terbuka sedikitpun," ucap Della.
"Tapikan bisa saja baju itu kembali aku pakaikan ketubuhmu," tutur Aiden sembari menaik turunkan alisnya.
"Gak mungkin lah. Dan satu lagi gak ada tanda merah di tubuhku," ucap Della yang malah membuat Aiden tertantang.
Aiden merapatkan duduknya hingga tak ada jarak sedikitpun dari tubuh Della.
"Mau apa kamu," ucap Della was-was.
"Kita coba yuk buat tanda merah di tubuh kamu dan kamu buat tandanya di tubuh aku gimana?" Della bergidik ngeri melihat tatapan mesum Aiden.
"Gak ada coba-cobaan," tutur Della dengan mencoba melepaskan dirinya dari Aiden.
"Kalau gak mau coba-coba. Gimana kalau kita praktekkan saja."
"Mesum. Awas gak," ucap Della dengan tatapan tajamnya.
"Enggak sebelum buat tanda merah."
"Kamu mau tanda merah?" tanya Della dan dibalas anggukan semangat oleh Aiden.
"Ya udah sini, tapi kamu tutup mata." Aiden segera menutup matanya tanpa curiga sedikitpun dengan Della.
Setelah Della memastikan Aiden menutup matanya dengan sempurna, ia pun langsung melancarkan aksinya dengan mencubit kedua lengan Aiden dengan sekencang-kencangnya. Hingga membuat sang empu teriak kencang memenuhi kamar tersebut. Dan setelah merasa kungkungan tubuhnya perlahan terlepas, Della pun bergegas melarikan diri keluar kamar menghindari amukan singa jantan yang sudah meneriaki namanya dari dalam kamar.
πππππ
HAPPY READING GUYS π
Semoga kalian suka dengan eps kali iniπ
Dan jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja kalian membangun kehaluan author ini dan author bisa lebih semangat lagi untuk nulisnya π€
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π
__ADS_1