
Della mengambil kotak P3K yang ada di ruangan Aiden dan segera mendudukkan tubuhnya di samping Aiden.
"Ngapain sih pakai ngelukain diri sendiri?" tanya Della heran.
"Ya namanya emosi," jawab Aiden.
"Emosi ya emosi tapi gak harus ngelakuin hal seperti tadi," ucap Della sembari membersihkan luka di tangan Aiden.
"AW," desis Aiden ketika Della menekan lukanya pelan.
"Sakit kan." Aiden menganggukkan kepalanya sebagai jawaban Della.
"Udah tau sakit kenapa masih dilakuin. Coba kalau aku bener selingkuh, kamu mau ngelukain dirimu sendiri seperti apa? Bunuh diri?" tutur Della emosi.
"Kamu yang aku bunuh," tutur Aiden yang langsung mendapat penekanan di lukanya oleh Della.
"Aw, pelan-pelan dong sayang, sakit nih," gerutu Aiden.
"Sebelum kamu bunuh aku. Kamu yang akan aku bunuh duluan," ucap Della yang masih menekan-nekan luka Aiden.
"Udah-udah, maaf deh. Aw." Della menghentikan aksinya setelah mendengar kata maaf dari Aiden.
"Tangan yang satunya sini," pinta Della tegas.
Aiden menggelengkan kepalanya cepat, "Gak mau," ucap Aiden. Namun Della dengan cepat menarik tangan Aiden yang belum ia obati.
"Diem," tutur Della tegas.
Aiden terus mendesis kesakitan dan sesekali menggigit bibir bawahnya untuk sedikit menghilangkan rasa sakitnya.
"Selesai," ucap Della senang dengan menepuk kedua tangannya.
Aiden menghela nafas lega. Akhirnya penyiksaan yang ia dapat tadi berakhir dengan Della membalut tangannya.
"Jangan diulangi hal bodoh seperti ini lagi. Kalau kamu cemburu atau ada hal yang menyangkut hubungan kita. Kita selesaikan dengan kepala dingin. Tanya baik-baik dulu sebelum bertindak," tutur Della sembari merapikan peralatan yang ia gunakan tadi.
Della berdiri dari duduknya dengan membawa kotak P3K di tangannya.
"Mau kemana?" tanya Aiden.
"Ngembaliin ini terus sekalian mau keluar, udah waktunya makan siang," tutur Della sembari menunjukkan kotak P3K.
"Ikut," ucap Aiden seperti anak kecil yang tak mau di tinggal ibunya.
"Gak. Lihat penampilan berantakan kamu itu, emang gak malu sama karyawan kamu kalau mereka melihat pemilik perusahaan ini dengan tampilan ambrul adul kayak gini." Della menunjuk penampilan Aiden dari atas sampai bawah.
"Tapi aku juga laper," ucap Aiden memelas.
"Tunggu sini. Aku keluar cuma mau pesan makanan buat kita habis itu kembali lagi kesini," tutur Della yang membuat bibir Aiden terangkat.
"Ya udah hati-hati sayang," ucap Aiden dengan melambaikan tangannya ke arah Della.
Della memutar matanya jengah dan dengan segera ia melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun ketika ia hendak memutar kenop, pintu ruangan Aiden sudah terbuka terlebih dahulu. Yang langsung menampilkan wanita yang sudah berumur dengan wajah khas wanita Korea namun masih tetap cantik di mata Della. Della memundurkan tubuhnya memberikan jalan untuk wanita tersebut masuk kedalam.
Namun bukannya masuk wanita itu menatap wajah Della lekat-lekat sembari tersenyum kearah Della. Dengan canggung Della pun membalas senyuman itu dan membungkukkan tubuhnya 90Β° yang biasa orang Korea berikan untuk menghormati orang lain.
"Saya permisi nyonya," ucap Della sebelum keluar dari ruangan Aiden. Sebelum wanita itu mengucapkan kata-katanya, Della sudah menjauh dari dirinya saat ini.
__ADS_1
"Mama, ngapain kesini?" tanya Aiden kepada sang mama yang masih melihat kepergian Della.
Mama Yoona mengalihkan pandangannya tadi kearah Aiden. Ia menatap takjub anaknya saat ini.
"Kenapa penampilan kamu seperti habis tawuran? Bahkan tawuran pun masih baik dari pada kamu saat ini," ucap Mama Yoona sembari mendekati Aiden yang masih setia duduk di sofa.
"Ck Mama."
"Dan itu tangan kamu kenapa pakai perban?" tanya sang Mama. Aiden pun hanya meringis menanggapi ucapan Mama Yoona.
"Tadi habis nyentil tembok," ucap Aiden santai.
"Coba sini Mama lihat." Aiden mengulurkan tangannya di depan Mama Yoona yang sudah duduk di sebelahnya.
Bukanya mengelus tangan Aiden. Ia malah memukulnya dengan keras.
"AW, mama apa-apaan sih." Aiden meringis kesakitan. Tadi Della yang menyiksanya kini malah gantian Mamanya.
"Owh masih bisa ngerasain sakit, kirain udah gak bisa," ucap Mama Yoona sembari menghempaskan tangan Aiden dengan kasar.
"Oh ya, cewek tadi sekertaris kamu?" tanya Mama Yoona.
"Sekertaris sekaligus calon istri," ucap Aiden santai.
Mama Yoona memelototkan matanya tak percaya.
"Berarti itu yang namanya Della Della itu?" Aiden mengangguk kepalanya mantap.
"Astaga," teriak Mama Yoona histeris membuat Aiden terperanjat kaget.
"Kenapa sih mah pakai teriak segala?" protes Aiden yang sudah menggeser tubuhnya jauh dari sang Mama.
"Masuk," perintah Aiden yang berubah cool.
Della memutar kenop pintu setelah mendapat perintah dari Aiden. Ia memunculkan badannya perlahan dengan satu kresek berisi makan siang untuk Aiden ditangannya.
"Maaf Pak, ini makan siang untuk bapak," ucap Della formal.
Ketika Aiden hendak berdiri dari duduknya namun tangan Mama Yoona cepat mencegah tubuh Aiden untuk tetap duduk di tempat.
Mama Yoona pun berdiri dari duduknya dan menghampiri Della yang masih berdiri di depan pintu.
Della menundukkan kepalanya tak berani menatap Mama Yoona yang semakin dekat dengan dirinya saat ini. Sedangkan Aiden ia sudah tak tenang, takut-takut jika Della akan di marahin oleh sang Mama walaupun ia yakin Mamanya tak mungkin melakukan hal seperti itu jika orang itu tak salah.
"Mama ngapain kesitu?" tanya Aiden yang berusaha menghilangkan suasana canggung yang tercipta saat ini.
"Mau nyamperin anak Mama lah," ucap Mama Yoona tanpa memutar tubuhnya yang sudah sampai di depan Della.
"Mama? Berarti wanita ini Mamanya Aiden, astaga," batin Della sembari menatap wajah Mama Yoona dan Aiden secara bergantian.
"Mirip dikit sih," batinnya kembali.
"Anak Mama? Siapa?" tanya Aiden bingung pasalnya di kantor dan negara ini cuma dirinya saja yang berada di sekitar orang tuanya. Mana mungkin kan Mamanya mau nyamperin sang adik yang sekarang tengah kuliah di luar negeri.
"Maksud Mama calon anak. kan nanti kalau Della jadi istri kamu sama aja dia juga anak Mama." Della memandang Mama Yoona tak percaya begitu juga dengan Aiden.
"Jadi Mama udah ngasih restu buat kita?" tanya Aiden memastikan.
__ADS_1
"Ya kalau Dellanya mau sama kamu," ucap mama Yoona sembari memeluk Della dari samping.
"Duduk dulu yuk sayang. Capek Mama kalau berdiri terus," tutur Mama Yoona lembut.
"Baik nyonya," jawab Della.
"Siapa yang nyuruh kamu panggil nyonya? Panggil Mama mulai sekarang oke," protes Mama Yoona tegas.
"Eh eum baik Ma," ucap Della gagu.
Aiden yang melihat interaksi dari dua orang yang ia sayangi pun tersenyum bahagia. Sungguh ia bersyukur sekarang Mamanya telah merestui hubungan dia dan Della tanpa adanya drama penolakan dan ini juga merupakan hal pertama ia langsung mendapat lampu hijau. Sebelum-sebelumnya Aiden dan mantan kekasihnya dulu harus di tanya panjang kali lebar bak wartawan yang mencari kepastian dengan sang artis yang tengah mendapat skandal saja. Tapi dengan Della, Aiden melihat sang Mama langsung klop dengan Della dan terlihat ada kecocokan dari mereka.
"Wah kamu bawa apa ini?" tanya Mama Yoona sembari membuka keresek yang sudah Della taruh di atas meja didepan mereka.
"Ayam bakar. Kelihatannya enak nih," sambung Mama Yoona sebelum Della menjawab pertanyaannya tadi.
Mama Yoona langsung mencomot satu box dan membukanya dengan mata berbinar.
"Kamu udah makan sayang?" tanya Mama Yoona setelah menelan makanannya.
"Belum Ma," jawab Aiden.
"Mama nanya Della bukan kamu." Aiden melongo dengan ucapan Mamanya tadi.
"Hemm aku makanya nanti aja Ma," tutur Della.
"Gak ada nanti-nantian. Ini kan ada dua box makanan. Satunya buat kamu, kita makan sama-sama." Mama Yoona langsung mengambil box yang tersisa dan menaruh di pangkuan Della.
Sebelum membuka box tersebut Della melihat Aiden yang sudah lesu. Kasihan juga anak kandungnya malah di abaikan begitu saja oleh Mamanya.
"Ma, Aiden juga laper," rengek Aiden yang mendapat tatapan tajam dari Mama Yoona.
"Cari sendiri sana. Jangan ganggu acara makan Mama dan Della." Aiden mendengus sebal, belum juga ia menikah dengan Della sudah di anak tirikan apalagi nanti jika ia sudah nikah sama Della mungkin ia sudah tak dianggap anak lagi. Tapi kalau ia tak menikah dengan Della ia pastikan akan menyesal seumur hidupnya.
"Biar Aiden makan satu box sama Della aja Ma. Kasihan dia kalau keluar dengan keadaan begitu." Aiden menatap Della dengan berbinar. Uh emang calon istrinya ini pengertian sekali dengan dirinya.
Mama Yoona menatap sinis Aiden dan beralih menatap Della.
"Ada benarnya kamu Del. Tapi nanti kamu masih lapar lagi," ucap Mama Yoona.
"Enggak kok Ma, lagian ini juga porsinya jumbo gak mungkin Della nanti habis sendiri," ucap Della yang benar adanya karena tadi ia memesan satu porsi jumbo untuk Aiden.
"Ya udah kalau gitu. Yang penting kamu nanti kenyang." Della mengangguk kepalanya mengerti. Setelah itu Aiden menghampiri Della dan mendudukan dirinya disamping Della.
"Suapin," tutur Aiden.
"Jangan manja. Punya tangan itu digunain," ucap Mama Yoona sinis.
"Ck iya iya," ucap Aiden final. Sedangkan Della ia tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak ini, benar-benar keluarga yang lucu, pikir Della.
Mereka bertiga pun meneruskan makannya masing-masing tanpa bersuara sedikitpun hingga makanan habis tak tersisa.
πππππ
HAPPY READING GUYS π
Cieee ketemu calon mama mertua π€ semoga pihak Della nanti langsung lampu merah ya ehπ€
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas π€ karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja mendorong author untuk menulis dengan giatπ Dan author ucapkan terimakasih untuk kalian yang udah memberi dukungan kepada cerita ini. Sayang kalian banyak-banyak π
Peluk cium dari author absurd π€π See you next eps bye π