
Paginya Della terbangun dengan keadaan tubuh yang pegal-pegal karena ulahnya dan Aiden tadi malam yang benar-benar menguras tenaga.
Della mencoba untuk berdiri dan memunguti pakaiannya yang berceceran di samping rancang. Namun ketika ia hendak berdiri area sensitifnya semakin sakit yang membuat Della mengurungkan niatnya.
"Mau kemana?" Tanya Aiden yang ternyata sedari tadi memperhatikan gerak gerik Della.
"Mau mandi," jawab Della.
"Emang udah bisa jalan?"
"Bisa lah," ucap Della walaupun sebenarnya itu sangat susah buatnya.
Della memaksakan dirinya untuk berjalan tak lupa dengan selimut yang ia gunakan untuk membalut tubuh polosnya. Sedangkan Aiden ia sudah memakai celana bokser yang entah sejak kapan ia kenakan.
Della sedikit demi sedikit berjalan dengan menahan rasa sakitnya dan sesekali ia berhenti.
Aiden tersenyum dan berfikir, seberapa buaskah dirinya malam tadi hingga membuat Della kesusahan untuk berjalan.
"Masih sakit kah?" Tanya Aiden yang sudah memegang pundak Della.
Della tak mau berbohong lagi. Ia pun menjawab dengan anggukan kepala dan tersipu malu.
"Pantesan jalannya kayak pinguin gini," ejek Aiden yang langsung mendapat tatapan tajam dari Della.
"Ini semua juga gara-gara kamu ya. Pakai ngatain segala huh, besok-besok aku gak mau lagi," ucap Della.
"Eh jangan gitu dong sayang. Aku cuma bercanda kok tadi," tutur Aiden memelas. Ya kali dia tak mendapatkan jatah lagi, terus dia menyalurkan nafsunya dengan siapa nantinya, masak sendiri seperti sebelum nikah sih. Ah sungguh tak menyenangkan bagi Aiden.
"Mangkanya jangan ngatain kayak tadi."
"Iya enggak lagi sayang," ucap Aiden.
Dan tanpa aba-aba Aiden membopong tubuh Della kedalam kamar mandi tak lupa ia juga mengunci pintu kamar mandi tersebut.
"Lho kok kamu gak pergi?" Tanya Della heran.
"Enggak lah kita kan mau mandi bareng," jawab Aiden sembari membuka celana bokser yang membuat Della menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aiden menyeringai dan berjalan mendekati Della yang sudah terduduk di bathtub.
"Ck berlagak sok malu gitu. Padahal tadi malam aja udah lihat semuanya," ucap Aiden jahil.
"Kan tadi malam beda," tutur Della.
"Emang apa bedanya? Sama aja lho gak ada bedanya."
Della menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya sama aja sih tapi kalau dalam keadaan dirinya sadar lebih memalukan daripada saat dikuasai oleh nafsu.
__ADS_1
"Kok gak jawab," goda Aiden.
"Oh aku tau. Pasti bedanya karena tadi malam dikuasai oleh nafsu dan saat ini dengan keadaan sadar," ucap Aiden yang seakan-akan bisa membaca isi pikiran Della saat ini.
"Ya udah kalau gitu dan biar kamu gak malu lagi, gimana kalau kita ngulang permainan tadi malam. Hitung-hitung buat olahraga pagi, ya gak sayang," sambung Aiden yang sudah memeluk tubuh Della dan secara perlahan tangannya kembali jahil dengan membuka selimut yang sejak dari tadi membungkus tubuh Della.
Della menelan salivanya. Yang tadi malam saja sakitnya masih terasa dan ini suaminya malah menginginkan lagi. Arkh bisakah Della menolak keinginan Aiden yang tiba-tiba menjadi semengerikan ini. Tapi kalau dia menolak Aiden, ia akan mendapatkan dosa nantinya. Sudahlah Della hanya bisa pasrah sekarang.
Aiden dan Della pun memulai olahraga pagi mereka di dalam bathtub kamar mandi yang menambah rasa remuk di tubuh Della.
2 jam sudah mereka di dalam kamar mandi dan sekarang baru keluar dari sana. Sudah tak perlu di ragukan lagi bagaimana kuatnya seorang Aiden dalam melakukan aktivitas ini. Dan Della jangan di tanyakan seberapa lemasnya dia sekarang.
"Lapar," keluh Della disela-sela Aiden mengeringkan rambutnya.
"Mau makan apa hm? Biar aku masakin," ucap Aiden berlagak menjadi suami siaga yang serba bisa.
Della tertawa kala ia mendengar ucapan Aiden tadi yang memutar kembali kejadian beberapa hari yang lalu.
"Kamu mau masak? Mending jangan deh. Kasihan bahan makanannya yang hanya terbuang sia-sia karena di biarin begitu aja. Apalagi ditinggal sembunyi begitu saja karena takut kena cipratan minyak dan menyebabkan dapur hampir kebakaran," tutur Della sembari tertawa.
"Itu kan beberapa hari yang lalu. Kalau sekarang enggak lah," ucap Aiden.
"Iya enggak, enggak salah maksudnya hahaha."
"Ck kamu gak percaya sama aku?" Della melerai tawanya dan menetralkan kembali ekspresi wajahnya.
"Ya enggak lah," ucap Della.
"Please jangan ya sayangku. Istrimu ini masih mau hidup di dunia ini, mending kita pesan makanan saja gimana? Kan kamu gak perlu repot-repot lagi dan bisa manja sama aku. Setuju gak?" Ucap Della yang hanya untuk merayu Aiden. Aiden tersenyum kala mendengar kata manja dari mulut Della.
"Baiklah kalau gitu. Aku pesan makanan dulu." Aiden pun pergi untuk mengambil ponselnya dan segera memesan makanan delivery untuk mereka berdua.
"Disogok dengan kata manja aja langsung nurut. Ck dasar suami siapa sih nyebelin banget pengen gue lempar ke planet mars rasanya," gerutu Della yang kebetulan dapat di dengar oleh Aiden. Tapi untungnya Aiden hanya dengar di bagian kata terakhir Della.
"Siapa yang mau kamu lempar ke planet mars sayang?" Tanya Aiden yang sudah kembali di posisi semula dengan membawa hairdryer di tangannya.
"Itu kucing garong yang paling nyebelin sedunia," ucap Della.
"Itu kucing jenis apa? Kok aku baru denger sekarang?"
"Ck udahlah jangan di bahas lagi," ucap Della dan Aiden pun mengangguk setuju.
Selama mereka menunggu pesanan tiba dan selama itu pula Aiden terus memeluk tubuh Della tanpa membiarkan dirinya bergerak sedikitpun.
"Apa kamu mau buat aku mati muda sayang?" Geram Della.
"Enggak lah. Kalau kamu end aku jadi duda dong mana masih mudah lagi, ganteng pula ditambah tajir. Duh aku gak siap buat direbutin sama cewek-cewek lagi," ucap Aiden. Della memutar bola matanya malas. Kambuh sudah sifat Aiden yang tingkat kepercayaannya setinggi menara Eiffel.
__ADS_1
Tak berselang lama akhirnya pesanan mereka datang. Della beranjak dari duduknya berniat untuk membukakan pintu. Namun ia harus bersabar dengan sikap Aiden yang super duper protektif terhadap dirinya.
"Diem disini, jangan ikut kedepannya," tutur Aiden. Ia segera beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk menerima pesanan.
Aiden sedikit berbincang-bincang selama sang kurir mencari uang kembalian dari dalam tasnya. Setelah memberikan uang kembalian kurir tersebut berpamitan kepada Aiden. Namun tak disangka ternyata Della mengikuti Aiden dan bersembunyi dari balik tubuh jangkung suaminya.
"Gamsahabnida," ucap Della tiba-tiba yang hanya memunculkan kepalanya saja.
Aiden melirik Della yang tengah tersenyum dan dibalas senyuman oleh kurir tadi. Aiden memelototkan matanya dan segera mendorong tubuh Della kedalam, kemudian ia menutup pintunya dengan kasar tanpa mengambil kembalian dari sang kurir tadi yang sebenarnya sudah di sodorkan kearahnya.
Aiden membawa Della menuju ruang tamu dan mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa disana. Sedangkan Aiden ia masih berdiri tepat di depan Della dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa tadi ikut? Mana pakai senyum-senyum segala pula. Kamu tau senyummu itu bisa buat siapa saja luluh. Jadi jangan sekali-kali senyum sama pria lain selain aku paham," ucap Aiden yang sudah menyondongkan tubuhnya kearah Della dengan kedua tangannya ia tumpukan disamping sofa tadi. Sehingga membuat tubuhnya Della tak bisa berkutik dari sana.
"Ya kali aku harus manyun terus sama orang lain kan nanti dikira akunya sombong, jutek, cuek dan masih banyak lagi. Kamu mau istri kamu dapat citra yang buruk?"
"Tapi kan, arkh pokoknya gak boleh titik kalau kamu ngelakuin itu akan aku hukum," ancam Aiden.
"Hukum? Hukum apa?"
"Hukum ranjang," ucap Aiden tersenyum buas.
"Ck itu mah maunya kamu aja. Udah ah sana minggir aku mau makan," tutur Della sembari mendorong tubuh Aiden.
"Janji dulu."
Della memutar bola matanya malas, "Apa lagi sih?"
"Jangan senyum ke cowok lain selain aku," ucap Aiden.
"Iya-iya dah lah sana buruan, awas ih," ucap Della .
"Good girl," ucap Aiden sembari mengusap rambut Della sebelum berpindah tempat.
"Iya, kalau gak khilaf maksudnya," gerutu Della sembari melahap makanan.
"Apa kamu bilang?" Tanya Aiden lantang.
"Makanannya enak," tutur Della alasan daripada ia harus berdebat hal yang tak penting lagi dengan Aiden lebih baik mencari alasan saja.
"Ya udah kalau gitu makan yang banyak. Kalau kurang aku nanti akan beliin kamu langsung gak perlu pakai jasa kurir lagi," ucap Aiden dan diangguki oleh Della. Mereka berdua pun terus mengunyah makanan mereka masing-masing hingga tak ada sisanya lagi.
*****
HAPPY READING GUYS 😘
Semangat puasanya, Marhaban ya ramadhan 🙏
__ADS_1
Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga dong tentunya 🤭
Salam hangat dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋