My Bos CEO

My Bos CEO
109


__ADS_3

Setelah Dion menceritakan semua yang ia lakukan dulu dimasa lalu. Tak hanya Airen yang terlihat marah melainkan Aiden juga sudah memancarkan kilatan mematikan kearah Dion. Della yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Aiden pun menggelus lengan sang suami.


"Tenanglah. Itu juga sudah menjadi masa lalu," ucap Della.


"Tapi dia menjual kamu sayang," geram Aiden.


"Iya memang tapi tubuhku belum sempat di sentuh oleh pria hidung belang karena pada saat itu bang Maxime datang menyelamatkan ku," tutur Della.


"Benarkah begitu?" Tanya Aiden memastikan. Della pun mengangguk dan mencoba menenangkan Aiden.


Airen masih terbengong setelah mendengar semua cerita dari Dion tanpa memberi tanggapan sedikitpun bahkan otaknya mengarahkan dirinya untuk berpikir negatif tentang Dion hingga jari jemari lentiknya diraih oleh Dion dan digenggamnya erat.


"Sayang jika kamu ingin marah maka marahlah tapi aku mohon jangan tinggalin aku. Aku dulu memang seorang bajingan yang mementingkan uang tanpa berpikir perasaan orang yang waktu itu spesial dihidupku hingga aku sadar dan menyesali semuanya ketika Della meninggalkanku dan tak mau bertemu sedetikpun bahkan mendengar namaku disebut pun dia tak mau. Tapi itu dulu dan yakinlah semua urusanku dimasa lalu dengan orang hidung belang itu sudah aku tuntaskan. Uang yang aku dapatkan dulu sudah aku kembalikan satu hari setelah hilangnya Della dari hidupku dulu dan kamu tau sayang karena kesalahanku, kebodohanku itu aku sampai detik ini selalu merasa bersalah dengan Della bahkan nyawaku pun jika ditukar untuk menebus semua itu tak akan pernah cukup," ucap Dion.


Airen mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Dion namun tak bisa sama sekali.


"Sayang," sambung Dion.


"Sudahlah Airen. Aku sudah memaafkan kesalahan Dion dimasa lalu masak kamu tidak. Toh sekarang dia juga sudah berubah. Jika dia berani begitu lagi bahkan kepada orang lain. Ngomong saja sama aku tar aku penjarain Dion biar membusuk dipenjara," ucap Della.


"Tapi Kak. Aku takut jika dia khilaf terus aku di umpankan ke om-om perut buncit yang haus akan nafsu," tutur Airen. Dion menatap lekat wajah Airen.


"Sayang aku janji sama kamu. Aku tak akan pernah mengulangi kesalahan ku dulu ke kamu. Apalagi dengan dampak yang akan aku terima nanti. Kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku dan belum lagi Aiden pasti akan menghancurkan hidupku tanpa memberiku nafas dulu. Tapi lebih berat jika kamu menjauh bahkan tak mau berhubungan lagi denganku entah apa yang akan aku rasakan nanti pasti sangatlah sakit dan seperti pepatah lebih baik mati dari pada hidup tanpa makna karena kehilangan separuh jiwa yang hampir 2 tahun ini aku jaga," tutur Dion yang membuat Aiden refleks berlagak memuntahkan isi dalam perutnya.


"Menjijikkan," ucap Aiden. Della yang mengerti sifat Aiden pun hanya bisa menahan tawanya.


Sedangkan Airen kini ia menatap balik Dion.


"Tapi kenapa kamu gak pernah menceritakan jika kamu pernah berhubungan dengan Kak Della?" Tanya Airen.


"Maaf, awalnya memang aku tak punya rencana untuk menceritakan masalah Della sebelum aku mendapat maaf darinya dan saat aku mengetahui jika Della ternyata adalah istri Aiden dan menjadi kakak iparmu pada saat itu niatku untuk menceritakan pun pudar. Aku tak mau memecah antara kamu dan Della, walaupun aku dapat kata maaf dari Della namun baru hari ini aku akhirnya mendapat maaf dari Della yang membuat hatiku lega tanpa bayang-bayang bersalah lagi dan hari ini juga atas persetujuan dari Della, aku diperbolehkan untuk menceritakan kejadian dimasa lalu kita," jawab Dion.

__ADS_1


Airen terdiam tanpa menimpali ucapan Dion tersebut. Ia lebih memilih untuk berpikir apakah dia akan memaafkan perbuatan Dion atau tidak sama sekali dan memilih untuk menjauh dari Dion walaupun sulit.


"Sayang. Please jangan tinggalkan aku," pinta Dion.


"Tapi aku takut," ucap Airen. Dion memaksakan dirinya untuk terduduk dan dengan susah payah akhirnya dirinya terduduk dengan bantuan Aiden. Dion menangkup kedua pipi Airen dan mengarahkan ke hadapannya.


"Jika aku mengulanginya lagi maka akan aku taruhkan nyawaku melayang ditanganmu sayang," ucap Dion meyakinkan.


Airen menatap lekat mata Dion berusaha untuk mencari kebohongan disana namun ia tak menemukannya sama sekali. Semua perkataan Dion benar-benar tulus dari hatinya bahkan matanya pun memancarkan kejujuran.


Airen dengan segera memeluk tubuh Dion yang membuat Dion sedikit meringis karena luka didadanya belum sembuh sempurna. Dion mencoba menahan rasa nyeri dan lebih memilih untuk membalas pelukan Airen.


"Jangan ulangi hal itu lagi jika kamu tak ingin kehilanganku bahkan nyawamu. Kamu harus ingat itu," ucap Airen.


"Iya sayang. Aku tak akan pernah mengingkrinya." Mereka berdua masih saling berpelukan. Sedangkan Della dan Aiden hanya menjadi penonton drama yang sedang berlangsung secara live dan nyata di depannya.


Beberapa menit sudah berlalu, obrolan kecil setelah penjelasan yang sangat menegangkan tadi pun harus Aiden akhiri.


"Aku disini aja. Nemenin Dion kasihan dia disini sendirian," jawab Airen.


"Baiklah. Dion jangan sampai kamu apa-apain Airen kalau sampai dia kehilangan satu helai rambut saja maka kamu tau kan konsekuensinya," tutur Aiden.


"Tenanglah. Dia kekasihku dan aku tak akan berbuat macam-macam dengan Airen," ucap Dion yang mendapat anggukan dari Aiden.


Akhirnya mereka berdua saat ini sudah keluar dari rumah sakit dan tengah di dalam perjalanan ke kediaman mereka.


"Sayang. Mau jalan-jalan dulu gak?" Tanya Aiden.


"Boleh, tapi jalan-jalannya ke supermarket aja ya," jawab Della.


"Kok ke supermarket sayang?"

__ADS_1


"Mau beli cemilan yang banyak buat nebus rasa bersalahku dengan lidah yang beberapa hari ini makan masakan hambar dari rumah sakit," tutur Della antusias. Aiden yang melihat senyum terbit dari bibir Della pun membuat dirinya juga menyingungkan senyumnya.


"Baiklah my queen." Aiden menjalankan mobilnya menuju supermarket terdekat dari lokasinya berada dan tak butuh waktu lama mereka berdua telah sampai di supermarket tersebut.


Namun baru saja Della dan Aiden menapakkan kaki kedalam supermarket tersebut pandangan mereka harus menyaksikan tangisan seorang anak kecil yang di biarkan begitu saja di bawah lantai dan anehnya orang-orang sekitar hanya mengabaikannya begitu saja membuat Della dan Aiden bergetar dan mendekati bayi kecil tersebut.


"Ini orangtuanya kemana coba. Main ninggalin anaknya di tempat ramai sendiri begini. Otaknya kemana coba," tutur Aiden geram sedangkan Della dengan memberanikan dirinya untuk meraih tubuh bayi berusia sekitar 14 bulan tersebut dari lantai dan menggendongnya mencoba untuk menenangkannya.


"Cup cup cup. Anak cantik gak boleh nangis ya," gumam Della selama menenangkan bayi malang tersebut.


Bayi malang tersebut akhirnya terdiam dan tidur dalam gendongan Della. Dengan tersenyum Della menatap wajah tenang bayi tersebut dan hatinya merasa sangat nyaman. Andaikan itu anaknya Della pasti sangat bahagia.


"Sebaiknya kita serahkan ke security saja sayang biar langsung dicari keberadaan orangtuanya," tutur Aiden tanpa mengalihkan pandangan dari bayi tersebut dan tangannya tak henti-hentinya memainkan tangan mungil itu. Della menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Della.


Mereka berdua bergegas menuju tempat security supermarket tersebut dan setelah melaporkan Aiden dan Della tak langsung meninggalkan bayi itu melainkan mereka berdua memilih menunggu orangtuanya menghadap mereka berdua.


1 jam sudah mereka berdua menunggu, namun tak ada tanda-tanda bahwa orangtua dari bayi tersebut muncul bahkan bayi itu sudah bangun dari tidurnya dan tengah bercanda gurau dengan Aiden.


"Apa orangtuanya sengaja meninggalkan dia sendiri disini ya?" Batin Della tak tenang. Tapi beberapa saat setelahnya terdapat seorang ibu muda yang menghampiri mereka dan langsung mengambil bayi tersebut dari pangkuan Aiden.


"Anak Mama akhirnya ketemu juga. Kamu tau gak sayang jantung Mama hampir copot karena kehilangan keberadaan kamu tadi," ucap ibu muda tersebut sembari menciumi pipi gembul bayinya yang membuat bayi itu tersenyum geli.


"Tuan, nyonya terimakasih banyak karena tuan dan nyonya telah membantu saya menjaga anak saya yang hilang dari pantauan saya," ucap ibu muda tersebut.


"Tak masalah tapi lain kali jika ibu membawa anak lagi saya harap ibu lebih berhati-hati dan lebih memperhatikannya. Jangan keasikan belanja hingga mencapakan anaknya hingga hilang. Untung saja tak diculik kalau sampai diculik saya pastikan ibu bakal menyesal seumur hidup," tutur Aiden. Setelah itu mereka berdua pamit undur diri dan kembali keniat awalnya.


"Sayang anak tadi sangat cantik ya," ucap Della tiba-tiba.


"Iya memang aku akui anak kecil tadi cantik. Memang kenapa sayang? Kamu pengen?" Della yang mendapat pertanyaan dari Aiden pun gelagapan dibuatnya.


Aiden tersenyum miring dan mendekatkan wajahnya ke telinga Della.

__ADS_1


"Sabar sedikit. Nanti kalau udah sampai dirumah kita buat baby yang cantik ataupun ganteng," bisik Aiden. Della tanpa menjawab ucapan Aiden, ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya. Sedangkan Aiden yang melihat ekspresi salah tingkah Della hanya bisa tersenyum jahil dan ia mengikuti langkah Della tanpa menghentikan ucapan dan bisikin jahilinnya yang membuat Della semakin risih dibuatnya.


__ADS_2