
Siangnya dengan semangat Aiden menunggu Della di lantai bawah. Mereka berencana untuk memeriksa kandungan Della lebih tepatnya untuk memastikan apakah alat testpack tersebut tak rusak dan hasilnya sama dengan hasil pemeriksaan nanti.
"Sayang udah belum?" Teriak Aiden yang mampu membuat seisi rumah mendengar teriakan tersebut dan suara lantang Aiden juga mampu di dengar Della di lantai atas rumah mereka.
"Astaga, sebegitu antusiasnya kamu sayang," ucap Della yang tak bisa di dengar Aiden. Della berjalan perlahan menuruni anak tangga hingga ia sampai di tangga terakhir.
Aiden yang melihat Della sudah berada dilantai yang sama dengan dirinya pun berlari menghampiri Della.
"Jangan lari-lari sayang," ucap Della dan hanya dijawab dengan cengiran di bibir Aiden.
"Ayo kita pergi sekarang," tutur Aiden sembari menggandeng tangan Della.
"Hati-hati jalannya," sambung Aiden.
"Ini cuma jalan sayang bukannya lari-larian sambil koprol," tutur Della.
"Antisipasi sayang," ucap Aiden.
Aiden terus menggandeng tangan Della hingga sampai di samping mobilnya dan seperti biasanya Aiden harus membukakan pintu untuk sang istri dan memastikan Della terduduk dengan aman, baru ia masuk kebelakang kemudi.
Aiden menjalankan mobilnya dengan pelan.
"Sayang, kalau kamu bawa mobilnya begini, mau sampainya kapan?" Gerutu Della yang merasa gregetan dengan laju mobil yang semakin lama semakin melambat.
"Pelan-pelan tapi pasti sayang. Gak usah tergesa-gesa nanti juga bakalan sampai," tutur Aiden.
Della memutar bola matanya malas. Pasrah saja dengan kehendak suaminya yang mau tak mau harus ia turuti. Dan dalam waktu 1 jam mereka berdua baru sampai di rumah sakit milik Aiden yang biasanya hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai disana. Tak seperti sekarang yang super duper lambat dalam perjalanan.
Setelah mereka turun dari mobil, Aiden langsung menuju ke ruangan dokter Alisa, dokter yang dulu menangani Della sewaktu hamil Aila.
Aiden mengetuk pintu ruangan dokter Aila dan tak lama setelahnya pintu tersebut terbuka. Bukanya dokter Aila yang membuka pintu tersebut, malah Miko yang ada di depan mereka berdua saat ini dengan ekspresi kagetnya.
Aiden maupun Della menatap curiga ke arah Miko yang seperti ketangkap basah sedang selingkuh dengan perempuan lain.
"Ehem bukannya ini ruangan dokter Alisa ya?" Tanya Aiden.
__ADS_1
"Iya ya, sejak kapan ini ruangan berubah jadi milik Miko?" Timpal Della. Miko menggigit bibir bawahnya dan memperlihatkan cengirannya.
"Ada apa dokter Miko?" Tanya dokter Alisa dari dalam.
Miko memutar tubuhnya sehingga Aiden dan Della bisa mengintip keberadaan dokter Alisa di dalam. Dokter Alisa mengerutkan keningnya tak mengerti dengan tatapan Miko. Kemudian matanya beralih ke arah Aiden dan Della yang tengah tersenyum kepadanya. Dokter Alisa yang baru sadar dengan keberadaan sang pemilik rumah sakit pun dengan sigap berdiri dan menghampiri mereka bertiga.
"Eh Tuan dan nyonya. Silahkan masuk!" Ucap dokter Alisa yang nampaknya santai-santai saja tak seperti Miko tadi.
Aiden terlebih dulu masuk kedalam ruangan dengan menggeser tubuh Miko sehingga membuat Miko terdorong kebelakang dan baru lah Della mengikuti langkah Aiden.
"Kayaknya sudah ada benih-benih cinta bermekaran," tutur Della saat ia sampai di depan Miko.
"Sok tau banget sih," ucap Miko mengelak. Della tak lagi menghiraukan ucapan Miko, ia lebih memilih untuk menghadap dokter Alisa. Sedangkan Miko ia masih berdiri di ambang pintu seperti seorang bodyguard untuk dokter Alisa.
"Silahkan duduk tuan dan nyonya," tutur dokter Alisa. Mereka berdua pun segera duduk dihadapan dokter Alisa.
"Apakah ada kabar gembira sehingga membuat tuan dan nyonya datang berkunjung?" Tanya dokter Alisa basa-basi.
Della tersenyum sembari merogoh testpack yang tadi pagi ia gunakan untuk mengecek kehamilannya. Setelah itu ia memberikan ke depan dokter Alisa. Dokter Alisa yang sudah mengerti pun tersenyum senang sebelum Della berucap sepatah kata pun.
"Mari langsung periksa saja nyonya," ucap dokter Alisa sembari memerintahkan Della untuk berbaring.
"Kan aku udah bilang jangan panggil nyonya. Panggil aja Kakak," tutur Della sembari melirik Miko yang menatap dokter Alisa tanpa berkedip.
"Dan sebenar lagi kan kamu juga akan jadi adik ipar ku. Iya kan Miko?" Sambung Della dengan lantang yang membuat Miko dengan seketika gelagapan dengan ucapan Della.
"Apa? Bawa-bawa aku segala," tutur Miko.
"Bukannya emang yang diucapkan Della ada benarnya?" Ucap Aiden membela perbuatan Della lebih tepatnya mode jahil on.
"Apanya yang benar? Orang ngomong ngaco gitu. Benarnya dimana coba," jawab Miko tak terima.
Della yang melihat perdebatan antara kedua lelaki tersebut hanya bisa tertawa tanpa suara dan sesekali melirik dokter Alisa yang tengah tersipu malu.
"Abaikan saja mereka berdua dok. Sekarang mulai saja periksanya!" Perintah Della dan diangguki oleh dokter Alisa, membiarkan dua saudara tadi terus berdebat.
__ADS_1
Dengan teliti dokter Alisa memeriksa kandungan Della dan ternyata hasil pemeriksaan sesuai dengan hasil testpack positif yang Della tunjukkan tadi.
"Selamat Kak. Ternyata usia kandungan Kakak sudah memasuki usia 2 bulan," tutur dokter Alisa senang.
"Benarkah dok?" Tanya Aiden yang tiba-tiba masuk kedalam ruang pemeriksaan yang membuat Della dan dokter Alisa kaget.
"Astagfirullah sayang. Ih kebiasaan gak permisi dulu," tegur Della yang sudah terduduk kembali.
Aiden masuk lebih dalam lagi diikuti Miko yang juga ikut masuk kedalam.
"Selamat tuan atas kehamilan Kak Della," ujar dokter Alisa.
Aiden yang mendengar dengan pasti pun memeluk tubuh Della dengan erat. Semoga ini menjadi titik bahagia dari keluarga kecilnya dan mampu menyembuhkan luka yang masih membekas karena kehilangan seorang Aila.
"Terimakasih ya Allah. Thanks sayang," ucap Aiden tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Ini juga usaha kamu sayang. Kalau gak ada kamu mana bisa aku hamil," tutur Della. Aiden melepas pelukannya.
"Pintar sekali bumil ini," ucap Aiden sembari mengacak rambut Della.
"Jangan acak-acak rambut ih," gerutu Della. Aiden yang melihat mimik wajah Della berubah pun segera membenarkan rambut Della. Namun baru saja ia ingin meraih rambut Della, rasa mualnya lagi lagi dan lagi harus muncul. Aiden berlari kedalam toilet yang kebetulan terdapat diruangan tersebut.
"Kenapa dia Kak?" Tanya Miko heran.
"Gak tau dari kemarin Aiden mual sama muntah terus," jawab Della dan segera bergegas menghampiri Aiden.
"Mungkin ini sindrom Couvade," tutur dokter Alisa.
"Mungkin saja," timpal Miko. Mereka berdua memutuskan untuk menyusul Della dan Aiden di dalam kamar mandi.
"Nikmati saja ya bang ngidamnya," ucap Miko meledek.
Aiden mengerutkan keningnya tak mengerti ucapan Miko.
"Kamu mual dan muntah tuh sama aja ngidam yang biasa dirasakan oleh wanita hamil tapi tak semuanya karena ngidam itu juga bisa dirasakan oleh suaminya, dimana pada masa itu disebut dengan sindrom couvade dan yah masak buatnya berdua yang menderita dan ngidam cuma yang perempuan. Laki harus merasakan juga dong," sambung Miko.
__ADS_1
"Iyakah begitu dok?" Tanya Della yang tak percaya dengan ucapan Miko.
"Bisa dibilang begitu Kak dan itu jarang terjadi. Jadi Kak Della bersyukur saja setidaknya Kakak tak merasakan ngidam yang menyiksa," tutur dokter Alisa. Della menganggukkan kepalanya. Benar juga apa kata dokter Alisa dan Miko. Dia harus berterimakasih kepada Aiden yang sudah mengganti mual dan muntahnya.