
3 hari telah berlalu dan kini Aiden sudah berada di dalam pesawat pribadinya menuju ke tanah kelahirannya. Tak sampai 1 minggu ia berhasil menyelesaikan masalah yang menimpa kantor cabangnya dan kini ia belum memberitahu Della atas kepulangannya karena ia ingin memberi kejutan kepada sang istri.
Sedangkan Della ia baru sadar cemilannya kini sudah habis tak tersisa lagi dan lagi. Della menghembuskan nafas panjang. Tak dipungkiri yang menghabiskan stok cemilannya beberapa hari ini siapa lagi kalau bukan Airen.
Della bergegas mengganti pakaian menjadi pakaian santai dan segera keluar dari rumahnya. Namun ketika ia baru menginjakkan kaki di tangga terakhir teriakan Airen menghentikannya.
"Kak Del mau kemana?" Teriak Airen.
"Mau ke supermarket," ucap Della.
"Ikut."
"Gak usah. Aku cuma mau ke supermarket depan gak di supermarket jauh," tutur Della.
"Tapi kan aku mau ikut," ucap Airen merengek.
"Gak ada. Kamu beresin tuh kamar yang kamu tempatin udah kayak kapal pecah. Bekas makanan dimana-mana. Sana beresin. Harus selesai sebelum aku pulang nanti. Awas aja kalau sampai belum beres sampai aku pulang," ancam Della. Airen memanyunkan bibirnya.
"Tapi kalau nanti Kakak kenapa-kenapa gimana? Aku mau jagain kamu tau."
"Ck aku bisa jaga diri sendiri Airen. Toh supermarketnya cuma deket gak sampai 10 menit jalan kaki sampai. Dah sana kamu beresin aja kamar kamu dari pada ada semut, kecoa dan hewan lainnya yang akan menemani tidur kamu. Emang kamu mau?" Airen bergidik ngeri ketika membayangkan ia tidur dengan kecoa. Mengerikan sekali.
"Aku berangkat dulu. Jangan ada art yang bantuin kamu bersihin kamar kamu itu. Belajar mandiri jangan malas," sambung Della dengan melangkahkan kakinya keluar dari rumah meninggalkan Airen yang lemas. Mana bisa ia membersihkan kamarnya yang begitu berantakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Huh ia saat ini tiba-tiba rindu dengan rumahnya sendiri, yang semua keperluannya sudah siap sedia dan tak perlu untuk membersihkan kamar atau bagian rumah lainnya.
Della terus berjalan. Baru juga ia keluar dari rumahnya teriakan bik Fitri lagi lagi menghentikannya.
"Nyonya mau kemana?" Tanya bik Fitri yang sudah berada dihadapan Della.
"Mau kedepan sebentar bik. Mau belanja beberapa keperluan," ucap Della.
"Biar saya saja nyonya." Della menggelengkan kepalanya.
"Gak perlu bik. Biar aku sendiri aja. Bibik kan masih sibuk dengan pekerjaan yang lainnya. Sekalian aku juga mau jalan-jalan bik. Biar babynya tambah sehat," ucap Della sembari mengelus perut buncitnya.
"Ya sudah kalau begitu saya temani ya Nya," ucap bik Fitri khawatir.
__ADS_1
"Tak perlu bik. Bibik dirumah aja. Awasin art yang lain. Titip rumah dan isinya ya bik. Apalagi tuh si Airen, aku titip ya bik. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," pamit Della dan bergegas berjalan keluar dari halaman rumahnya.
"Waalaikumsalam," ucap bik Fitri pasrah.
Sebelum ia melangkah kaki keluar dari gerbang rumahnya Della lebih dulu memastikan jika tak ada satpam disana.
"Aman. Gak akan ada yang nanya mau kemana lagi," gerutu Della yang sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama seperti Airen dan bik Fitri tadi ucapkan.
Della sekarang benar-benar keluar dari rumahnya. Berjalan sendiri menyusuri jalanan yang nampak sepi hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang disana. Della tersenyum dan mengelus perutnya.
"Kita jalan-jalan dulu ya sayang," ucap Della tersenyum sumringah.
Namun tanpa ia sadari ternyata sejak dia keluar dari pekarangan rumahnya, ada satu mobil yang terhenti tak jauh dari dirinya dan kini mobil itu tengah mengikuti langkah Della perlahan.
Della terus berjalan tanpa merasa khawatir sedikitpun sampai akhirnya ia telah berada di salah satu supermarket. Della bergegas untuk masuk dan membeli beberapa cemilan dan kebutuhan lainnya.
Dan tak butuh waktu lama. Ia sekarang sudah membawa belanjaannya yang tak berat sama sekali. Della berjalan meninggalkan supermarket tersebut untuk kembali kerumahnya namun saat di tengah jalan ia melihat seorang nenek tua yang ingin menyebrang jalan. Della tersenyum dan mendekati nenek tua tersebut.
"Nek. Nenek mau nyebrang?" Tanya Della lembut.
"Iya nak. Apa nenek bisa minta bantuan kamu?" Della menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan sang nenek.
"Tidak sama sekali nek," jawab Della. Della terus menuntut nenek tua itu hingga sampai diseberang jalan.
"Terimakasih nak," ucap nenek tersebut.
"Sama-sama nek. Saya pamit dulu ya nek. Nenek hati-hati dijalan," ucap Della sembari bersalaman dengan nenek tua itu tak lupa ia juga mencium telapak tangannya. Nenek tua itu tersenyum.
Setelah Della berpamitan ia bergegas untuk menyebrang jalan lagi dengan sangat hati-hati.
Sedangkan didalam mobil yang mengikuti Della sedari tadi, ada seseorang yang tengah tersenyum licik kearah Della.
"Saatnya beraksi. Ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini Della," ucap orang yang berada didalam mobil tersebut.
Orang misterius itu menancapkan gas ketika melihat Della sudah berada ditengah jalan. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Nak awas," teriak nenek tua tadi ketika melihat situasi yang sangat tak ia inginkan di depan matanya.
"Brak." Tanpa hitungan menit mobil itu berhasil menabrak tubuh Della yang saat itu tengah berjalan dan tanpa sempat menghindar. Dan teriakan nenek tua itu hanya terbuang sia-sia. Tubuh Della melayang dan menghantam keras kaca depan mobil tersebut sebelum akhirnya terpental ke jalanan hingga sempat terseret beberapa meter dari tempat asalnya tadi.
"Nikmati detik-detik kematianmu dan anakmu Della. Neraka sekarang tengah menanti kedatanganmu," ucap orang misterius sebelum meninggalkan tempat itu.
Della sekarang terkapar tak berdaya di tengah jalan dengan darah yang mengalir di kepala dan ia mengalami pendarahan yang sangat hebat. Dengan pandangan remang-remang Della sempat mengusap perutnya.
"Sayang maafin Mommy yang gak bisa jagain kamu. Kamu bertahan ya sayang. Kita akan sama-sama berjuang. Jangan tinggalin Mommy sendirian disini. Mommy dan Daddy sayang kamu," batin Della sebelum akhirnya pandangannya meredup dan ia tak sadarkan diri.
Semua orang yang berada disana hanya menyaksikan perjuangan antara hidup dan matinya Della tanpa menyentuh atau menelfon ambulance. Mereka hanya sibuk memfoto dan memvideokan diri Della yang tengah tak berdaya kecuali nenek tua yang dengan susah payah mendekati Della dan memangku kepala Della yang penuh dengan darah segar yang terus keluar.
"Tolong panggil ambulance," ucap nenek tua tersebut sembari bergetar menahan tangisannya namun tak ada satu pun yang bergeming dan mendengarkan ucapan sang nenek.
*****
Disisi lain Dion tengah melajukan mobilnya menuju rumah Della untuk menjemput Airen disana. Namun ketika ditengah jalan ia menghentikan mobilnya kala dia melihat orang bergerombol di tengah jalanan yang akan ia lalui.
"Haish. Itu orang gak ada kerjaan kah sampai bergerombol di tengah jalan," tutur Dion sembari membuka pintu mobilnya dan bergegas untuk membubarkan mereka semua.
"Maaf Pak, Bu ini jalan raya. Saya harap Bapak dan Ibu sekalian untuk menepikan diri dari tengah jalan," ucap Dion lantang tanpa melihat isi didalam gerombolan itu.
Dion menggaruk tengkuknya karena ucapannya hanya dianggap angin oleh semua orang di sana. Dion dengan penasarannya ia memberanikan diri untuk masuk kedalam gerombolan tersebut dan melihat apa yang tengah mereka lakukan. Dion membelalakkan matanya ketika melihat ada seseorang yang tengah terkapar di sana.
"Astaga ternyata ada kecelakaan. Kenapa kalian malah memfoto dan memvideo dia? bukannya menolong, dimana hati nurani kalian sebagai manusia. Astaga dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja yang memiliki manusia dengan otak bodoh. Aku penasaran dengan isi otak kalian semua. Hah dasar manusia-manusia tak berguna yang halal untuk dimusnahkan," ucap Dion lantang dan berhasil menghentikan semua orang yang tengah mengabadikan kejadian saat ini.
Dion dengan sigap membelah lautan manusia hingga ia berhasil mencapai titik dimana korban berada. Dion segera mendekati korban tersebut dan nenek tua tadi yang tengah menangis tanpa melepaskan pelukannya.
"Nak tolong bawa dia kerumah sakit sekarang," pinta sang nenek dan tanpa ba bi bu lagi Dion meraih tubuh korban tersebut dan betapa kagetnya dia ketika melihat korban itu ternyata adalah Della. Bagaikan disambar petir di siang bolong. Melihat wajah putih Della yang sekarang berganti menjadi merah darah dan tubuhnya yang dulu hangat kini menjadi dingin.
"Della. Bertahan Del. Please kamu harus bertahan," ucap Dion dan dengan segera ia mengangkat tubuh Della.
"Minggir," bentak Dion yang sudah emosi dengan tingkah orang-orang di sana tanpa mempunyai sifat simpati sama sekali.
"Hapus semua foto dan video yang kalian abadikan tadi, kalau tidak kalian akan berhadapan dengan saya," ucap Dion sebelum meninggalkan kerumunan yang bergidik ngeri melihat ekspresi wajah garang Dion.
__ADS_1
Dion membaringkan tubuh Della di dalam mobilnya dan ia pun berlari kecil untuk segera sampai pada kursi kemudi.
"Aku mohon kalian berdua bertahanlah," ucap Dion yang tak bisa lagi menahan air matanya kala melihat Della yang selalu cuek padanya kini harus terkapar tak berdaya.