
Saat mereka berdua telah sampai di mobil Aiden. Adam nampak kagum dengan mobil dihadapannya sembari mengelus body mobil.
Aiden dan Della sama-sama tersenyum menatap Adam.
"Masuk yuk," ajak Della. Adam mengalihkan pandangannya dan menatap Della dengan penuh tanda tanya.
"Kakak cantik juga ikut?" Tanya Adam polos. Della menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Iya dong. Kan Kakak istrinya Kakak cowok itu. Kamu bisa panggil Kak Aiden dan nama Kakak adalah Della," perkenalan Della yang baru sadar jika dirinya belum memberitahu namanya dan juga Aiden.
"Ya udah kita masuk dulu yuk," ucap Aiden. Adam pun mengangguk antusias. Tak sabar rasanya ia merasakan menaiki mobil mewah seperti yang akan ia rasakan saat ini.
Mereka bertiga akhirnya sudah masuk kedalam mobil tersebut dengan Aiden yang berada di kursi kemudi sedangkan Della dan Adam di kursi belakang. Setelah memastikan semua dengan posisi aman, Aiden menjalankan mobilnya perlahan.
"Mau makan apa?" Tanya Della dengan lembut dan tangannya tak pernah lepas dari tangan Adam yang setia ia genggam.
"Hmmm apa aja deh Kak. Tahu, tempe sama sambal aja udah enak kok dan itu jadi makanan favorit Adam karena bibi selalu masakin lauk itu," ucap Aiden sembari tersenyum menampilkan gigi rapinya. Della ikut tersenyum walaupun dengan senyuman palsu.
"Kamu punya adik kandung gak?" Tanya Aiden.
"Gak punya Kak. Kalau adik sepupu punya. Anak dari bibiku." Aiden menganggukkan kepala paham walaupun tak bisa Adam dan Della lihat.
"Apa adik sepupu kamu juga jualan rujak seperti kamu ini?" Tanya Della. Adam menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak Kak. Dia masih kecil walaupun cuma beda satu tahun sama aku. Tapi kata bibi dia masih sangat kecil jadi tidak diperbolehkan untuk jualan kayak aku." Della mengelus lembut punggung Adam. Sungguh berat sekali yang ia pikul. Usia yang seharusnya buat belajar hal-hal baru dan bersosialisasi dengan teman sebayanya harus dituntut untuk menghidupi keluarganya lebih tepatnya bukan keluarga namun hanya saudara tak perlu dianggap keluarga.
"Paman dan bibi kamu kerja kan?" Tanya Della terus mengorek informasi tentang Adam.
"Enggak Kak. Katanya cuma aku aja yang harus kerja. Bibi sama paman udah tua," tutur Adam.
Mereka terus bercerita mengenai seluk-beluk Adam hingga tak terasa mobil Aiden sudah memasuki area parkir sebuah restoran ternama.
"Sudah sampai," ucap Aiden sembari mematikan mesin mobilnya.
Mereka bertiga pun turun. Saat sudah di depan restoran, Adam menatap bangunan tersebut dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Wah. Keren sekali," kagum Adam.
Aiden yang nampak gemas dengan Adam pun mengacak rambutnya.
"Masuk yuk. Keburu cacing diperut Kakak pada demo nantinya," tutur Aiden. Della kembali menggandeng tangan Adam hingga mereka telah sampai di lantai atas khusus member VIP di restoran tersebut.
"Duduk sini Dam!" Perintah Della saat Adam tengah menatap pemandangan dari atas. Adam dengan senang menghampiri Della dan duduk di kursi yang Della tepuk tadi.
Sedangkan Aiden, ia baru kembali dari kamar mandi dan menghampiri mereka berdua. Setelah itu ia mendudukkan dirinya di depan Adam dan Della.
Tak berselang lama pelayan restoran tersebut menghampiri mereka dan memberikan buku menu kearah mereka.
Saat Adam membuka buku menu tersebut ia nampak kaget dengan harga-harga yang tertera di sana. Sungguh tak bagus dikantongnya saat ini.
"Kak. Kenapa disini mahal-mahal semua. Kalau kayak gini aku gak punya uang buat bayarnya. Uang yang Kak Della kasih tadi buat biaya Adam dirumah," ucap Aiden sedikit kecewa sembari menutup buku menu ditangannya.
"Tak perlu khawatir. Kan Kakak tadi yang ngajak kamu makan berarti Kakak yang akan bayarin. Uang tadi kamu simpan aja," tutur Aiden.
"Benarkah Kak?" Tanya Adam dengan mata berbinar. Aiden tersenyum dan mengangguk.
"Ini aja Kak," tunjuk Adam.
"Sama?" Tanya pelayan restoran tersebut.
"Udah," ucap Adam. Aiden dan Della saling menatap seperti sedang berdiskusi sesuatu lebih tepatnya kaget dengan pilihan Adam tadi.
"Huh. Mbak kasih menu yang paling enak disini ya dan juga beberapa menu favorit disini. Jangan ada yang kelewat. Tambah steaknya dua dan juga salad satu. Minumnya Apple juice, avocado juice. Kamu mau minumnya apa Adam?" Adam menoleh kearah Aiden yang tadi menanyai dirinya.
"Hmmm apa aja deh Kak," tutur Adam ragu.
"Milk shake mau?" Tanya Aiden dan Adam pun menganggukkan kepalanya.
"Ditambah milk shake satu," tambah Aiden dan pelayan restoran tersebut menganggukkan kepalanya sembari menulis pesanan yang Aiden katakan tadi.
"Mohon ditunggu sebentar ya Tuan dan Nyonya," ucap pelayan tersebut dan Della maupun Aiden menganggukkan kepalanya. Setelah itu pelayan tersebut undur diri.
__ADS_1
Della mengalihkan pandangannya kearah Adam begitu juga dengan Aiden. Mereka menatap wajah Adam yang sebenarnya tampan namun tak pernah di perhatikan sama sekali.
"Kenapa kamu nunduk gitu? Apa gak senang dengan tempat makan ini?" Tanya Aiden. Adam mendongakkan kepalanya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa kok sedih?" Tanya Della sembari mengelus kepala Adam.
"Adam kangen Ibu sama Ayah," jawab Aiden dengan cairan bening sudah lepas dari pertahanannya.
Ucapan Adam mampu membuat Aiden maupun Della tak bisa menyangganya. Mereka hanya bisa menenangkan Adam dan memberi semangat kepadanya. Aiden dan Della juga bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tercinta.
"Jangan nangis lagi ya," tutur Della sembari menghapus air mata Adam.
"Apa kamu tau makam orangtua kamu?" tanya Aiden. Adam mengangguk dengan cepat sebagai jawaban dari pertanyaan Aiden.
"Kamu mau ke makan orangtuamu?" Adam lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah nanti kita antar kamu ke makam orangtua kamu tapi jangan nangis lagi oke," tutur Aiden.
"Terimakasih Kak. Apa boleh Adam peluk Kak Aiden?"
"Tentu. Sini!" Adam beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Aiden setelah sampai di dekat Aiden yang sudah merentangkan kedua tangannya pun ia sambut dengan senang. Setidaknya dengan pelukan sementara yang Aiden berikan mampu membuat Adam merasakan pelukan hangat yang 3 tahun terakhir ini tak pernah ia rasakan setelah kedua orangtuanya meninggalkan dirinya seorang diri untuk selamanya.
Della tak kuasa menahan tangisnya. Ia sudah menumpahkan air mata tersebut dan Aiden yang mengetahuinya pun segera meraih tangan Della dengan satu tangannya untuk menenangkan sang istri dan satunya lagi ia gunakan untuk mengelus punggung Adam.
Beberapa saat setelahnya Adam menarik dirinya dari pelukan Aiden.
"Terimakasih Kakak. Maaf baju Kakak jadi kotor," sesal Adam.
"Sudah tak apa. Baju Kakak kan hitam jadi gak terlalu terlihat. Toh nanti juga kering," tutur Aiden.
Adam pun tersenyum dan kembali ke kursinya tadi. Dan tak berselang lama, beberapa pelayan restoran tersebut datang dengan membawa menu makanan yang Aiden pesan tadi hingga meja mereka penuh dengan makanan yang Aiden tujukan kepada Adam.
"Wah. Banyak sekali," heran Adam.
"Itu semua buat Adam. Makan yang banyak ya," ucap Della lembut. Adam mengangguk dan tersenyum lebar. Setelah itu tiga orang tadi tak saling berbicara lagi hingga makanan mereka selesai
__ADS_1