
Tak berselang lama Aiden pun akhirnya kembali dengan membawa bakso pesanan Della. Della yang melihat itu pun berjingkrak kegirangan, padahal tadi anak buah yang Aiden perintahkan untuk membeli makan siang untuk Della sudah menyerahkan pesanan Aiden ke tangan sang istri dan makanan itu pun hanya dibiarkan begitu saja oleh Della tanpa dicicipi sedikitpun.
Aiden mendudukkan tubuhnya di samping Della yang sudah berantusias menuangkan bakso tersebut ke dalam mangkuk.
"Kenapa nasinya belum dimakan?" Tanya Aiden.
"Nanti kalau baksonya udah habis entar aku makan kok," ucap Della.
Della memulai melahap perlahan bakso tersebut, namun ia merasa kalau baksonya sedikit hambar dan ia pun menambahkan sambal yang cukup banyak kedalamnya.
"Sayang jangan gila makan sambalnya," tutur Aiden menghentikan tuangan yang ke 10 sendok sambal di bakso tadi.
"Ini gak pedas tau. Coba kamu cicipin nih kalau gak percaya." Della menyodorkan satu sendok bakso kearah Aiden dan karena Aiden penasaran dengan rasanya. Ia pun dengan segera melahapnya dan tanpa hitungan menit Aiden sudah kepanasan dan sibuk mencari minuman di sekitarnya.
"Gila, pedas banget," tutur Aiden setelah meminum air putih milik Della.
Della tak menghiraukan perkataan Aiden. Ia hanya terus melahap bakso tersebut. Namun ketika ia ingin meneruskan makannya tiba-tiba Aiden merebut mangkuk yang masih berisi setengah porsi. Della yang di ganggu pun tak terima dan berusaha untuk merebut kembali makanannya.
"Siniin. Itu belum habis," ucap Della sembari berjinjit berusaha untuk meraih bakso itu.
"Gak akan. Ini pedas banget lho sayang. Kasihan perut kamu nantinya," ucap Aiden.
Della yang merasa capek pun akhirnya berhenti dengan aktivitas merebutnya. Ia pun mendudukkan tubuhnya dengan wajah yang sudah ditekuk dan bibir maju beberapa senti.
"Kita beli lagi aja ya. Jangan makan yang ini," ucap Aiden tak tega. Della menoleh kearah Aiden, matanya kini mulai berkaca-kaca bahkan disatu sisi air matanya sudah mulai menetes. Aiden menghembuskan nafasnya pasrah dan ia menyodorkan mangkuk tadi ke arah Della.
"Ya udah terusin aja makannya ini. Tapi jangan nangis." Aiden menghapus air mata Della. Della pun tersenyum dan melanjutkan melahap makanan yang ada di depannya hingga habis semua.
"Gila, ini bini gue apa bukan sih. Gak seperti biasanya kalau makan cuma sedikit takut gemuk tapi sekarang satu porsi bakso, satu porsi ayam bakar, burger dan nasi," ucap Aiden takjub.
"Udah kenyang?" Tanya Aiden. Della pun mengacungkan jempolnya dan mulai beranjak dari tempat tersebut.
"Mau kemana?"
"Pulang," jawab Della santai.
"Nanti aja bareng sama aku," ucap Aiden.
"Gak mau. Disini jenuh, mending dirumah bisa bikin cemilan," ucap Della.
"Ya sudah kalau gitu. Aku anterin sampai depan. Kamu pakai mobil kan?" Della mengangguk dan mereka berdua pun segera menuju basement.
"Hati-hati," ucap Aiden sembari melambaikan tangannya dan hanya di jawab bunyi klakson oleh Della.
Tujuan Della sebenarnya bukan pulang kerumah melainkan pergi ke salah satu mall di kota tersebut untuk membeli keperluan yang akan ia gunakan untuk memberikan surprise ke Aiden nantinya. Della memarkirkan mobilnya, setelah itu ia segera masuk kedalam mall tersebut dan menuju ke area pakaian bayi.
__ADS_1
Namun ketika ia tengah memilih-milih pakaian tersebut, tiba-tiba ada seorang yang memanggil dirinya.
"Della," ucap orang tersebut dari belakang. Della yang merasa namanya dipanggil pun membalikan badannya melihat siapa orang yang mungkin ada keperluan dengannya.
Betapa kagetnya dia ketika melihat Rara mantan tunangan Aiden lebih tepatnya karena mereka dulu dijodohkan sekarang berada di depan mata setelah sekian lama bahkan waktu Della nikah dengan Aiden pun ia tak datang.
"Kak Rara," ucap Della. Rara pun menghampiri Della dan memeluk tubuhnya sangat erat.
"Gimana kabar kamu? Maaf aku gak bisa kenikahan kamu sama Aiden dulu," ucap Rara setelah melepaskan pelukannya.
Della tersenyum, "Gak papa kok Kak, Kakak kayaknya juga sibuk waktu itu. Kabarku baik, gimana kabar Kakak?"
"Seperti yang kamu lihat, aku jauh lebih baik dari hari sebelumnya," ucap Rara gembira.
"Oh ya kamu disini ngapain? Apa kamu udah punya baby?"
"Hehehe babynya masih kecil Kak. Masih di dalam perut," ucap Della sembari mengelus perutnya. Rara berbinar dan ikut mengelus perut Della.
"Wah, beberapa bulan lagi nih aku bakal jadi aunty," ucap Rara antusias. Della pun tersenyum.
"Dan rencananya aku mau ngasih surprise ke Aiden saat dia udah pulang kerja nanti," ucap Della.
"Jadi kamu belum ngasih tau dia?" Della menggelengkan kepalanya.
"Bel...um," ucapan Della terpotong ketika ada anak kecil yang menghampiri mereka berdua.
Della yang mendengar panggilan anak kecil tadi pun menatap Rara penuh tanda tanya.
"Hehehe, ini bukan anak kandung aku Del. Jangan salah paham dulu. Ini anaknya temen aku yang dari kecil gak pernah ngerasain kasih sayang ibunya karena orang tuanya udah pisah sejak dia baru lahir dan hak asuhnya jatuh ke temen aku," ucap Rara menjelaskan.
"Sayang, salam dulu sama tante Della!" Perintah Rara dan anak kecil itu pun tampak malu-malu namun akhirnya melakukan apa yang Rara perintahkan tadi.
"Maaf ya Del, aku pergi dulu. Lain kali kita ketemuan, ngobrol-ngobrol oke," ucap Rara berpamitan dan disetujui oleh Della. Akhirnya Rara pun pergi menjauh dari Della dan ia segera melanjutkan tujuan utamanya tadi.
Setelah semua yang ia perlukan sudah ditangan, Della memutuskan untuk kembali kerumah sebelum Aiden lebih dulu sampai karena saat ini jarum jam ditangan Della sudah menunjukkan pukul setengah empat dan berarti sebentar lagi Aiden akan pulang.
Butuh waktu 30 menit lebih Della akhirnya sampai di kediamannya. Ia pun bergegas menuju kamarnya dan segera melakukan aksinya dengan menulis di beberapa kertas berisi petunjuk-petunjuk untuk ia taruh dari depan rumah hingga dalam kamarnya. Tak lupa ia juga menghias satu box kecil untuk ia isi hasil testpacknya.
"Selesai," ucap Della dan setelah menyelesaikan semuanya Della bergegas untuk membersihkan tubuhnya.
Bertepatan dengan Della selesai berdandan, mobil Aiden terdengar sudah memasuki pekarangan rumah tersebut.
Aiden membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku sebelum masuk kedalam rumah. Tanpa curiga sedikitpun Aiden melangkahkan kakinya dan membuka pintu rumahnya yang teramat sepi karena biasanya Della ketika mendengar suara mobil Aiden, ia akan bergegas menyambut Aiden dan membukakan pintu untuk suaminya itu.
"Sepi sekali," gerutu Aiden.
__ADS_1
"Sayang," panggil Aiden namun tak ada jawaban dari Della. Ia pun terus melangkah hingga ia menemukan secarik kertas yang menggelegak begitu saja di lantai dengan tulisan "welcome home."
"Ada-ada aja," ucap Aiden sembari tersenyum. Kemudian ia pun melihat satu lagi kertas yang tertempel pada boneka di salah satu tangga. Aiden segera menghampiri dan memungut boneka tersebut dan membaca tulisan "Are you ready?"
"Ini ada apa sih sebenarnya," ucap Aiden bingung. Ia pun terus memungut satu persatu kertas yang tertempel pada benda-benda mainan anak-anak hingga ia sampai di depan kamarnya.
Aiden membuka perlahan pintu tersebut dan ketika pintu itu terbuka sempurna hingga mata Aiden bisa melihat wanita pujaannya tengah terduduk diatas kasur dengan senyum yang mengembang. Aiden pun menghampiri Della.
"Ada apa sih ini?" Tanya Aiden to the point.
"Kamu penasaran?"
"Iya lah."
"Ya udah kalau gitu gak jadi," ucap Della. Aiden melongo mendengar ucapan Della.
"Ish gimana sih. Buruan kasih tau gak," ucap Aiden.
"Enggak mau," tutur Della. Aiden yang tambah penasaran pun menerjang tubuh Della dan menggelitikinya hingga Della mau memberitahu apa yang sebenarnya ia rencanakan.
"Oke aku kasih tau tapi stop dulu. Capek ketawa tau." Aiden menghentikan gelitikannya.
"Tapi tutup mata dulu," sambung Della.
"Kenapa harus pakai tutup mata segala sih," protes Aiden.
"Kalau disuruh tutup mata tuh ya tutup," tutur Della. Aiden akhirnya memutuskan untuk menuruti ucapan Della. Ia menutup matanya.
"Jangan dibuka," teriak Della.
"Siapa juga yang buka? Orang dari tadi merem gini," ucap Aiden.
"Ya siapa tau ngintip," tutur Della yang sudah sampai kembali di depan Aiden.
"Bawel. Cepetan ih lama banget," ucap Aiden tak sabaran.
Della menaruh box berukuran sedang di tangan Aiden dan setelah menerimanya Aiden membuka mata, menatap penasaran kearah box tersebut.
"Ck disuruh jangan buka mata dulu sebelum aku yang perintah buat buka malah udah dibuka," gerutu Della.
"Siapa suruh kelamaan. Terus apa ini?" Tanya Aiden sembari menggoyangkan isi box tersebut.
"Bom," ucap Della santai.
"Aku tanya beneran lho ini sayang."
__ADS_1
"Aku juga jawab beneran emang isinya bom kalau gak percaya buka aja," ucap Della. Aiden yang penasaran pun akhirnya perlahan membuka box tersebut.