My Bos CEO

My Bos CEO
119


__ADS_3

Aiden masih terdiam pasrah ketika tangannya ditarik paksa oleh Della dan Mama Yoona yang juga tampak antusias tak sabar melihat sang anak lelakinya memanjat pohon kelapa dan mungkin ia juga akan meminta Aiden untuk memetik buah kelapa untuknya karena kebetulan hari ini matahari tampak bersinar dengan sangat terik yang membuat Mama Yoona juga ikut tergugah untuk menikmati air kelapa di siang bolong begini.


Aiden terus ditarik hingga sampai di belakang rumah mereka lebih tepatnya di samping antara rumah utama dan rumah kedua yang kebetulan dihuni para pekerja rumahnya.


"Buruan manjat sayang," ucap Della.


Aiden menatap pohon kelapa tersebut dari bawah sampai arah buah kelapa berada. Ia menelan salivanya ketika melihat ketinggian yang akan ia lawan nanti.


"Sayang mending kamu nikmati saja yang aku beli tadi," tutur Aiden.


"Gak mau. Aku maunya langsung dari pohonnya," ucap Della kembali mengerucutkan bibirnya.


Aiden menghela nafas berat. Ia tak tega melihat Della menangis lagi namun nyalinya saat ini tengah menciut, membayangkan hal-hal yang tak ia inginkan nanti saat ia manjat pohon kelapa di depannya saat ini.


"Buruan ih." Della mendorong tubuh Aiden untuk lebih mendekat ke pohon tersebut.


"Naik sayang,"tutur Della tak sabaran.


"Ini gimana cara naiknya?" Tanya Aiden. Ia tak pernah memanjang pohon kelapa seumur hidupnya dan baru sekarang ia akan merasakannya karena menuruti kemauan tak masuk akal dari Della yang mengharuskan dirinya melawan rasa takutnya.


"Itu kan ada pijakan kakinya yang udah dibuat. Tinggal injak itu sampai atas kan selesai," jawab Della yang kebetulan melihat ada lubang yang seperti sengaja dibuat untuk memudahkan mang Ujang atau siapapun untuk memanjat pohon tersebut.


"Suruh mang Ujang ajalah sayang," ucap Aiden.


"Harus kamu. Gak boleh diwakilkan oleh orang lain meskipun orang tersebut Papa Juan tetap gak boleh, titik." Aiden memejamkan matanya sejenak menahan emosi yang sudah mulai muncul dalam benaknya.


Aiden kembali membuka matanya dan dengan menyemangati dirinya sendiri lebih tepatnya memaksakan diri. Ia mulai naik perlahan pohon tersebut.


Della yang melihat Aiden pun tersenyum girang.


"Semangat sayang," teriak Della.


Aiden menghiraukan teriak Della maupun kedua orangtuanya bahkan para art pun turut menyaksikan aksi langkanya ini. Ia terus memanjat hingga lubang buatan terakhir dan ia belum sampai di area buah kelapa yang masih jauh untuk dijangkau tangannya.

__ADS_1


"Pijakannya habis. Gimana caranya naik?" Teriak Aiden tanpa mengalihkan pandangannya ke bawah.


"Mang Ujang! Ini gimana?" Teriak Aiden kembali saat ia tak mendengar jawaban dari orang-orang dibawah sana.


"Itu Tuan. Aduh gimana ya jelasinnya," tutur mang Ujang bingung untuk merangkai kata-kata yang mudah dipahami oleh Aiden.


"Buruan mang Ujang!" Geram Aiden.


"Itu Tuan. Cengkram kuat pohon kelapa bayangin aja itu nyonya Della yang tuan peluk," tutur mang Ujang.


"Iya sayang bayangin aja itu aku yang kamu peluk," timpal Della.


"Iya-iya. Terus gimana lagi?"


"Posisikan kaki tuan lebih tepatnya telapak kaki tuan menginjak pohonnya setelah itu dorong tubuh tuan keatas dengan kaki tuan. Setelah itu tarik kaki tuan dan ulangi apa yang saya ucapkan tadi hingga tuan sampai di buah kelapanya," tutur mang Ujang memberikan arahan.


Untuk pertama Aiden nampak kesulitan dan perlahan ia akhirnya bisa mengendalikan tubuhnya sesuai dengan instruksi mang Ujang. Dan saat ini Aiden sudah berada di area buah kelapa.


"Mang Ujang ini gimana cara metiknya?" Teriak Aiden kembali.


"Yang dibawah kalau gak mau kepalanya rusak minggir sekarang!" Teriak Aiden sembari menjatuhkan buah kelapa ke bawah.


Aiden terus memetik buah kelapa tersebut hingga tak tersisa sama sekali di pohon tersebut. Dan ia segera turun kebawah. Ia nampak menahan rasa sakit yang menyerang tangan dan kakinya karena ia turun dengan cara merosot kebawah dan harus merelakan tangan serta kakinya lecet karena gesekan dengan pohon kelapa.


Aiden mendudukkan tubuhnya ketika ia sudah berhasil sampai bawah kembali. Ia bersyukur tak ada hal yang tak diinginkan terjadi. Aiden beranjak dari duduknya walaupun kakinya masih terasa lemas sembari mengusap keringat yang membasahi wajah tampannya.


"Habiskan tuh kelapa sendiri," ucap Aiden geram dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Della yang masih sibuk mengumpulkan satu persatu buah kelapa disana.


Setelah sampai di dalam kamar, Aiden merebahkan tubuhnya di atas kasur king sizenya.


"Gini amat punya bini yang lagi ngidam tapi berasa dikerjain," gumam Aiden sembari menutup matanya.


"Mana perih semua lagi nih tangan," tutur Aiden. Ia menegakkan kembali tubuhnya dan menatap kedua tangannya yang ternyata penuh dengan goresan bahkan ada yang sampai mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kalau kayak gini siapa yang mau disalahkan," geram Aiden. Baru seumur hidupnya ia merasa serba salah dengan dirinya sendiri.


"Arkh mau marah tapi dia bini gue sendiri ditambah lagi hamil. Huh kenapa kamu ngidamnya yang aneh-aneh sih Del." Aiden mengacak rambutnya frustasi. Ia bergegas untuk membersihkan tubuhnya dan nanti setelah selesai dengan aktivitas mandinya, baru ia akan mengobati luka tersebut.


Sedangkan Della, ia saat ini tengah menikmati satu buah kelapa muda yang sudah di buka oleh mang Ujang. Della menikmati buah tersebut sembari duduk di pinggir kolam renang ditemani Mama Yoona dan Papa Juan sembari membuat konten yang akan mertuanya nanti upload di channelnya.


Waktu terus berjalan hingga kelapa Della tadi sudah habis hanya menyisakan batok kelapa dan juga serabut dari buah tersebut.


Mata Della memutar mencari keberadaan Aiden yang sedari tadi tak ia lihat setelah atraksi yang Aiden tampilkan tadi.


"Ma, Pa. Della masuk dulu ya," pamit Della ke kedua orangtuanya dan dijawab anggukan oleh mereka.


Della memasuki rumah utama dan berteriak memanggil sang suami terus menerus.


"Sayang kamu dimana?" Teriak Della yang tak mendapati Aiden di dalam kamar mereka.


Della kembali menuruni anak tangga dan mencari keberadaan Aiden di bagian depan rumah tersebut. Dan ternyata Aiden saat ini tengah terduduk di ruang tamu dengan mendengarkan musik lewat airphone miliknya sehingga teriakan Della tadi tak bisa masuk kedalam pendengarannya. Tak lupa tangannya tengah sibuk mengobati tangan serta kakinya.


Della menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aiden yang tengah sibuk sedari tadi.


Della memeluk tubuh Aiden dari belakang hingga membuat Aiden sedikit terkejut. Dan setelah Aiden menoleh kearah kiri, ia mendapat wajah tak merasa bersalah Della yang menatapnya dengan senyum manisnya.


"Apa?" Tanya Aiden ketus dengan wajah masamnya.


"Gak papa cuma mau bilang terimakasih aja sama suamiku ini yang udah memenuhi keinginan dari baby," ucap Della sembari menciumi pipi Aiden yang membuat hati Aiden dengan lemahnya luluh hanya karena ciuman dan sikap manja Della.


"Hemm," jawab Aiden singkat.


"Kok singkat sih jawabnya," protes Della.


"Terus?"


"Harusnya kan jawabnya, iya sayang gak papa kok, apapun akan aku lakukan untuk kamu. Gitu harusnya," tutur Della.

__ADS_1


"Owh," balas Aiden. Della melepas pelukannya dan beranjak untuk mengganti posisinya tepat disamping Aiden. Ia menatap lekat wajah tampan tersebut yang tak sedikitpun melirik kearahnya, membuat Della merasa diacuhkan dan geram.


__ADS_2