My Bos CEO

My Bos CEO
80


__ADS_3

Paginya Della masih tidur dengan nyenyak, tak seperti biasa yang sudah bangun lebih dulu daripada Aiden. Kini Aiden yang lebih dulu bangun berinisiatif untuk menyiapkan Della sarapan. Aiden beranjak dari kamarnya dan menuju dapur.


Aiden berfikir sejenak apa yang harus ia buat sedangkan dia memasak pun tak bisa. Tapi dicoba dulu lah siapa tau rasanya enak dan Della senang, pikir Aiden.


Kini Aiden pun sudah memilih bahan yang harus ia masak. Aiden memilih untuk memasak nasi goreng dan juga ayam goreng yang menurut dia gampang untuk bahan percobaan dirinya.


Aiden terus berkutik dengan bahan-bahan tersebut hingga butuh 30 menit bumbu untuk membuat nasi goreng pun jadi. Dan kini Aiden sudah berhadapan dengan kompor beserta alat-alat lainnya.


"Ini yang di masukin nasinya dulu atau bumbunya dulu?" Gerutu Aiden.


Tanpa berpikir panjang lagi Aiden lebih memilih untuk memasukkan nasi dulu setelah itu baru bumbunya dan tak lupa yang terakhir telur yang ikut dicamur dalam nasi goreng tersebut.


Aiden memasak dengan mengunakan dua tungku kompor sekaligus. Yang satu ia gunakan untuk menggoreng ayam dan yang satu untuk membuat nasi goreng. Entah karena ia fokus di salah satu menu akhirnya dua-duanya masakan yang ia buat menimbulkan bau gosong yang dapat Della cium walaupun saat ini Della di dalam kamar.


"Bau gosong apa ini? Kebakaran kah?" Ucap Della yang baru saja bangun dari mimpi indahnya.


"Lho Aiden kemana? Atau jangan-jangan itu ulah Aiden." Della bergegas untuk keluar dari kamarnya dan menuju sumber bau yang tak sedap itu berada.


Setelah Della sampai dapur ia di buat melongo oleh kondisi dapur saat ini. Meja dapur yang berantakan, minyak goreng yang tumpah dan 2 teflon yang mengeluarkan asap dari dalamnya. Della langsung berlari untuk mematikan kompor tersebut. Untung saja belum ada api di sana.


Della yakin ini ulah sang suami yang tak bisa memasak tapi sok-sokan memasak dan mengakibatkan semuanya kacau balau seperti ini. Mata Della mencari keberadaan Aiden saat ini yang ternyata yang dicari tengah bersembunyi di balik meja makan yang tak jauh dari dapur.


Della yang melihat suaminya pun bergegas menghampiri Aiden dengan muka garangnya. Della berdiri di belakang Aiden yang nampaknya belum sadar dengan keberadaan Della.


"Ngapain disini?" Tanya Della.


"Takut minyaknya kena tangan dan kayaknya bentar lagi mau kebakaran," ucap Aiden tanpa menengok.


Della menggelengkan kepalanya dan tangannya langsung menjewer telinga Aiden layaknya ibu yang sedang memberi hukuman kepada sang anak.


"Aduh," keluh Aiden.


"Ini masih pagi lho sayang kenapa udah buat mood istrimu ini kacau," ucap Della.


"AW sakit sayang lepasin dulu." Della yang sudah tak tega pun akhirnya melepaskan jeweran di telinga Aiden.


"Gimana kalau tadi kebakaran? Dan kamu malah bersembunyi disini bukannya matiin itu kompor," ucap Della sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kamu tau kan minyak yang buat goreng ayam itu gak bisa diem di dalam teflon itu dan kalau aku matiin kompornya terus tiba-tiba itu kompor meletus gimana? Kamu gak punya suami lagi dong, " ucap Aiden.

__ADS_1


Della memijat pangkal hidungnya. Ada saja alasan yang di buat Aiden saat ini.


"Nikah lagi lah kalau gak punya suami toh aku juga banyak yang suka," ucap Della sembari berjalan kearah dapur dan membereskan kekacauan yang Aiden buat.


"Heh mulutnya minta dicium," tutur Aiden yang mengikuti langkah Della dari belakang.


"Sudahlah. Sekarang bantuin beresin kekacauan yang kamu buat. Buang itu semua makanan yang udah jadi hitam dan cuci bersih peralatannya," ucap Della dan diangguki oleh Aiden.


Mereka berdua pun bersama-sama membersihkan dapur hingga seperti semula.


"Lain kali kalau gak bisa masak jangan maksain buat masak jadinya kan kayak tadi hancur semua," tutur Della.


"Kan niatnya biar kamu tinggal makan gak perlu repot-repot lagi masak dan aku lihat-lihat kamu juga lelah, jadi aku inisiatif untuk buat sarapan untuk kamu," tutur Aiden yang tengah memeluk tubuh Della dari belakang.


"Niat kamu bagus tapi lebih bagus jangan diulangi lagi," ucap Della dan diangguki oleh Aiden.


"Ya udah kamu mandi dulu sana."


"Kamu juga belum mandi kan. Mandi bareng yuk," ajak Aiden yang memang sudah tak sabar lagi.


"Aku masih halangan sayang. Sabar ya bentar lagi udah enggak kok," ucap Della yang berubah suara menjadi lembut. Della hanya bisa menjawab sabar dan sabar ketika Aiden menginginkannya.


"Dua hari lagi," jawab Della tak tega.


"Hais lama sekali." Della memutar tubuhnya hingga sekarang tubuhnya berhadapan dengan Aiden yang tengah menatap hangat dirinya.


Della menangkup kedua pipi Aiden.


"Sabar bentar ya sayang," ucap Della sembari mengusap pipi Aiden.


Aiden yang melihat raut bersalah Della pun segera memeluk tubuh Della.


"Maaf sayang maaf," ucap Aiden.


"Maafkan suamimu ini yang gak pengertian sama kamu," sambung Aiden.


Della melepas pelukan Aiden, ia menatap mata tajam sang suami yang kini berubah jadi sendu.


"Sabar bentar ya sayang, gak lama lagi kok." Aiden mengangguk mengerti dan kembali memeluk tubuh Della.

__ADS_1


Mereka berpelukan cukup lama.


"Kamu mandi dulu gih," ucap Della.


"Gak mau," tutur Aiden manja.


"Kok gak mau?"


"Mau peluk kamu terus."


"Kenapa sekarang jadi manja gini sih? Kemana sifat garang kamu yang biasanya?" tutur Della.


"Kan sama istri sendiri ya gak papa dong kalau manja dan sifat garang aku hanya untuk orang-orang yang tak tau malu diluar sana yang hanya bisa mengganggu kehidupan orang lain dan itu juga berlaku di kantor bukan untuk keluarga," ucap Aiden.


"Ya masa mau gini terus sayang yang ada kitanya nanti kelaparan dong. Lepas dulu bentar terus kamu mandi setelah mandi terserah kamu kalau mau manja sama aku. Kalau sekarang jangan dulu istrimu ini lagi lapar berat. Apa kamu mau dicap sebagai suami yang tak memberi makan istrinya?" Aiden menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah aku mandi dulu. Hati-hati jangan sampai tangan kamu kena minyak dan kalau makanannya ada asap buruan menjauh," ucap Aiden yang sudah melepaskan pelukannya.


"Emang aku kamu. Udah sana mandi dulu," ucap Della.


"Cium dulu dong," tutur Aiden sembari memonyongkan bibirnya.


Della menggelengkan kepalanya dan mengecup singkat bibir Aiden namun bukan Aiden namanya kalau puas dengan ciuman singkat. Aiden memegang tengkuk Della dan mencium bibir Della hingga membuat Della kehabisan nafas. Aiden melepas pautan bibirnya.


Aiden pun tersenyum dan mengelus rambut Della setelah itu ia berjalan menuju kamar untuk membereskan tubuhnya meninggalkan Della yang masih sibuk mengambil udara di sekitarnya.


"Astaga, buas sekali. Untung gak mati kehabisan nafas gue. Ciuman aja segitu mengerikan apalagi kalau melakukan yang lebih, aduh gak bisa bayangin seberapa sakitnya nanti," gerutu Della bergidik ngeri membayangkan malam pertama yang akan segera tiba. Seberapa tangguhnya Aiden diatas ranjang nanti dan seberapa kuat dirinya menahan Aiden yang mungkin akan menggila menyalurkan nafsunya yang sempat tertunda.


*****


HAPPY READING GUYS 😘


Alhamdulillah otak author masih bisa buat mikir ketika jalan saja berasa kek terbang 🤭 Ini semua gara-gara kalian yang bikin author semangat, uh sayang kalian banyak-banyak 😚


Semangat menjalankan ibadah puasa 🤗 Marhaban ya ramadhan 🙏


Jangan lupa LIKE and VOTE, hadiah juga tentunya 😚


Salam hangat dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2