My Bos CEO

My Bos CEO
Extra Part 5


__ADS_3

Della merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah Aiden berangkat kerja dan triplets yang pergi ke sekolah.


"Huh akhirnya nih badan bisa istirahat," tutur Della sembari memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya.


Sedangkan di sisi lain, Aiden terpaksa mampir ke kantornya terlebih dahulu sebelum mengantar triplets kesekolah.


"Daddy kita mau ke sekolah bukan kerja," protes Azlan saat mereka memasuki area lobi.


"Tunggu bentar sayang. Ada yang perlu Daddy tangani. Genting ini." Triplets nampak berdecak dan kembali mengikuti langkah kaki Aiden hingga saat mereka ingin memasuki lift, suara bariton seseorang menghentikan langkah mereka.


"Lho triplets mau kerja?" tanya Rino. Yap suara bariton tersebut berasal dari Rino si raja buaya darat.


"Ya enggaklah. Kita masih kecil uncle," jawab Edrea.


"Terus kenapa kalian disini bukannya pergi sekolah."


"Ck gak tau tuh Daddy ngajak kita kesini padahal 10 menit lagi masuk," kini Erland yang angkat bicara. Rino membeo menanggapi ucapan Erland. Kemudian tatapannya beralih ke Aiden yang nampak gusar.


"Lo kenapa?"


"Klien gue tiba-tiba minta ketemu pagi ini. Mana dia udah nunggu di ruangan gue lagi," jawab Aiden.


"Ya udah sih sana temuin." Aiden menatap triplets yang juga tengah menatapnya.


"Rin, gue minta tolong dong anterin mereka ke sekolah gue takut tar kalau mereka bolos dan diketahui oleh nyonya ratu bisa end gue." Rino terkekeh mendengar ucapan Aiden yang sebegitu takutnya dengan Della.


"Baiklah gue mau nganter triplets tapi harus ada imbalannya." Rino menarik turunkan kedua alisnya.


"Ck sama temen sendiri pakai perhitungan."


"Ya udah kalau gak mau gue juga gak..." suara Rino terpotong oleh Aiden.


"Cepet. Lo mau imbalan apa?" Rino nampak berfikir sejenak sebelum menyampaikan keinginannya.


"Ini harganya murah kok tenang aja." Aiden memutar bola matanya malas.


"Gue gak punya waktu banyak Rino. Buruan!"


"Gue mau mobil Porsche 911 Hybrid dong." Aiden membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Murah gundulmu. 5 M weh 5 M bukan 5 ratus rupiah anjir." Rino yang mendengar perkataan akhir dari Aiden pun langsung memukul mulut Aiden yang langsung membuat Aiden menggeram kesal.


"Ada anak lo sat."


"Bodo amat. Lo gak punya otak emang ya, mau peras gue, lo ya."


Mereka berdua terus beradu mulut hingga tak sadar jika triplets tak ada di depan sekitar mereka.


"Gue gak meras lo. Uang 5 M tuh kecil kalau buat seorang Aiden William Abhivandya mah, iya gak tri...plets. Lho si trio wek wek kemana?"


"Astaga anak gue."


Mereka berdua pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka berdua namun batang hidung triplets tak terlihat oleh mereka.


Aiden segera berlari menghampiri satpam yang menjaga kantornya. Satpam tersebut bersikap hormat ke Aiden dan menjawab pertanyaan Aiden jika ia melihat triplets yang keluar dari kantor tersebut.


"Kenapa kamu gak cegah mereka keluar?" geram Aiden.


"Maaf tuan saya kira tadi mereka sudah di utus sama tuan." Aiden mengusap wajahnya. Tamat sudah riwayatnya jika Della mengetahui Aiden lalai menjaga mereka.


Aiden merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan segera menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan triplets.


"Cari segera dan temukan mereka tanpa ada lecet sedikitpun!" perintah Aiden tanpa bantahan. Setelah sambungan telepon terputus, Aiden berjalan keruang Cctv untuk memastikan arah perginya triplets diikuti oleh Rino yang terus mengikuti pergerakan Aiden. Aiden sudah tak menghiraukan dengan kliennya persetanan dengan untung ruginya perusahaan lebih penting anaknya sekarang.


Aiden memicingkan matanya saat melihat Erland mendekatinya lebih tepatnya kebelakang tubuhnya dan menarik sesuatu dari dalam saku belakang celananya.


Aiden yang sadar benda apa yang ditarik oleh Erland pun langsung meraba kantong tersebut dan benar saja benda yang berupa dompet milik Aiden tak ada di sakunya saat ini.


"Anjir anak lo pinter juga. Sebelum pergi ngambil dompet lo dulu hahahaha," tawa Rino menggelegar yang membuat orang yang ada diruangan tersebut juga ikut tertawa namun tertahan.


Aiden yang geram dengan tingkah triplets dan ketambahan Rino yang membuatnya sebal pun melayangkan geplakan di kepala Rino cukup keras. Setelah itu ia keluar dari ruang Cctv.


Sedangkan orang yang membuat Aiden khawatir sekarang sudah berada di sekolahnya.


"Maaf Miss kita telat," ucap Azlan saat mereka berdiri di depan pintu.


Salah satu pengajar disana menghampiri mereka sembari tersenyum.


"Tak masalah sayang tapi janji ya besok gak boleh telat lagi. Sekarang masuk yuk pelajarannya udah dimulai." Triplets pun masuk kedalam dan memulai pelajaran seperti biasa.

__ADS_1


...******...


Aiden masih merasa kesal namun juga khawatir dengan keadaan anaknya sekarang takut-takut mereka diculik. Hingga ia ingat sesuatu.


"Dasar pikun," geram Aiden setelah itu ia mengambil tablet dan mulai melacak keberadaan triplets. Untung saja ia telah menempelkan alat pelacak disetiap barang-barang triplets hingga ia tak perlu kesusahan untuk mencari keberadaan sang anak dan juga ketika dalam bahaya Aiden telah mengajarkan kepada mereka bertiga untuk memberikan sinyal bahaya dari jam tangan mereka masing-masing.


"Dasar anak kurang ajar. Udah bikin bapaknya panik eh mereka malah tenang-tenang aja disekolah," gumam Aiden.


"Kurang ajar emang mereka bertiga tuh. Gue gak jadi dibeliin mobil baru kan jadinya," tutur Rino.


"Ngapain lo masih disini? pergi sana gue gak nerima orang gila disini," usir Aiden.


"Ganteng gini di katain gila. Buta mata lo. Gue tikung juga Della baru tau rasa lo." Aiden menatap tajam Rino yang membuat sang empu langsung kicep tak ada suara sama sekali.


"Lo mau rebut Della dari gue. Gue pastiin kepala lo lepas dari tubuh lo," tutur Aiden.


"Ck dulu aja lo restuin gue sama Della. Sok-sokan gak mau lagi eh ujung-ujungnya kemakan omongan sendiri sampai punya buntut 3 lagi."


"Itu kan dulu saat mata gue belum terbuka lebar."


"Iya iya deh serah lo," ucap Rino.


"Terus lo ngapain masih disini kek gak ada kerjaan aja. Pulang sana!"


"Klien mana lagi katanya udah nunggu di sini sekarang malah gak ada. Tuh si Ilham lagi ngeprank bosnya apa gimana," gerutu Aiden.


"Ilham gak lagi ngeprank lo. Orang klien lo udah ada disini sejak tadi." Aiden mengerutkan keningnya tak paham.


"Klien lo tuh gue," ucap Rino.


"Lo?" Rino mengangguk dan tak berselang lama sekertarisnya masuk kedalam ruangan Aiden.


"Anjir. Kalau tau lo kliennya, gue tadi gak akan buru-buru kesini dan buat triplets kesekolah sendirian bejir. Dan ini nama perusahaan baru lo?" Dengan tampak tak berdosanya Rino tersenyum sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Benar sekali," jawab Rino. Aiden memijit pelipisnya. Ia harap anaknya nanti tak mengadu dengan Della yang nantinya akan merugikan Aiden dengan mendengar ceramah panjang kali lebar Della dan sudah dipastikan ia nanti akan tidur di luar jika triplets benar-benar tega padanya.


...*****...


Extra Part nya sampai disini ya sayang-sayangku. Tar author sambung cerita triplets yang versi dewasa tapi kayaknya di cerita baru bukan disini. Gak papa kan?

__ADS_1


Dan untuk kapan mulai publisnya nanti author akan umumin di sini. Jadi jangan di keluarkan di rak favorit dulu ya🤗 Sambil nunggu cerita Triplets versi ABG, Baca "Young Mother" dong🤭


SEE YOU DI "THE TRIPLETS STORY"👋


__ADS_2