My Bos CEO

My Bos CEO
23


__ADS_3

5 hari sudah Aiden dan Della di Jepang jangan tanya kegiatan mereka gimana. Mereka layaknya pasangan suami istri ketika di apartemen dan ketika di luar banyak yang beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih bahkan beberapa kali saat mereka keluar entah mereka sadar atau tidak style fashion mereka hampir serupa.


"Hah pinggang gue rasanya mau copot," keluh Della setelah ia merebahkan dirinya di kasur.


"Kapan sih kerjaan disini selesai. Udah rindu rumah gue," gerutu Della sambil memejamkan matanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mampu membuat Della kembali membuka mata dengan langkah malasnya ia membuka pintunya.


"Ada apa Pak?" tanya Della.


"Saya laper Del," ucap Aiden dengan cengiran di bibirnya.


Della menghela nafas jengah, "Ya kalau laper makan lah Pak bukan malah laporan sama saya," ucap Della malas.


"Gak ada makanan Del."


"Ya beli lah Pak."


"Kamu gak liat di luar hujan deras begitu. Mana bisa keluar." Della menajamkan pendengarannya benar saja apa yang di katakan Aiden diluar sedang hujan deras dengan gemuruh petir yang menggelegar.


"Ck ya udah sih Pak. Masak aja, apa susahnya sih. Sayuran juga banyak tuh di kulkas," ucap Della sambil bergelayut di gagang pintu.


"Masalahnya saya gak bisa masak Della."


"Ya udah masak mie instan aja deh Pak yang simpel kebetulan saya masih punya di dalam lemari dapur."


"Mie instan gak sehat buat tubuh Della." Della memutar bola matanya jengah.


"Terus Bapak maunya gimana?" tanya Della setengah berteriak sebal.


"Masakin saya!" perintah Aiden.

__ADS_1


"Ya Allah Pak saya itu capek mau istirahat. Bapak tolong ngertiin dong. Masak mie instan aja ya Pak sekali aja gak bakal mempengaruhi kesehatan Bapak juga," ucap Della memohon.


"Saya gak mau makan mie instan Della. Toh masak juga gak lama kan. Kamu mau saya mati kelaparan gara-gara kamu gak masakin saya," ucap Aiden tak mau kalah.


"Ya saya gak peduli Pak," tutur Della enteng membuat Aiden menatapnya tajam.


"Fredella!" Della mendengus kesal dan mulai melangkahkan kakinya ke arah dapur di ikuti Aiden di belakangnya.


Della mengeluarkan beberapa sayuran dan meletakkannya di atas meja dapur. Ia melihat ke arah Aiden yang tengah duduk di meja makan menatap layar ponselnya dengan senyuman yang mengembang.


"Sarap, gila, sinting." Umpat Della pelan ke arah Aiden.


"Pak Aiden bantuin," teriak Della yang mampu mengalihkan tatapan Aiden. Dengan segera Aiden menaruh ponselnya diatas meja dan menghampiri Della yang tengah cemberut kepadanya dan terus mengumpat dalam hati.


"Saya kan tadi sudah bilang. Saya gak bisa masak Della," ucap Aiden yang sudah berada di samping Della.


"Siapa juga yang nyuruh Bapak buat masak. Nih kupasin." Della menaruh beberapa siung bawang merah dan bawang putih.


"Kalau udah selesai nanti bersihin tuh cumi," ucap Della sembari menunjuk 2 cumi besar yang sudah ia taruh kedalam baskom. Dia berencana memasak cumi pedas manis sekarang dan kebetulan hanya tersisa cumi dan beberapa sayuran saja di dalam kulkas Aiden.


"Saya mantau Bapak lah. Nanti saya yang masak Bapak cuma bagian itu aja, cepat kerjakan dan jangan banyak ngomong!" perintah Della sambil melihat Aiden yang sudah mulai mengupas bawang putih dengan hati-hati membuat Della menahan tawanya.


Setelah membutuhkan beberapa menit hanya untuk mengupas bawang saja sampai Della di buat mengantuk akhirnya Aiden menyelesaikannya dengan mata yang sudah berair.


"Kok mata saya perih banget ya Del," ucap Aiden kepada Della yang sekarang tengah sibuk memotong bahan serta cumi yang tidak jadi Aiden bersihkan dan Della yang mengambil alihnya.


"Itu udah biasa Pak. Diamin aja tar juga gak perih lagi," ucapnya menengok Aiden.


"Dan jangan di kucek." Baru saja Della selesai berbicara. Aiden malah mempraktekkannya sekarang. Ia tengah mengucek matanya dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk memegang bawang.


"Del tambah perih argh tolongin," ucap Aiden panik. Della pun menuntun Aiden yang tengah menutup kedua matanya ke arah wastafel dan membasuh mata Aiden perlahan.


"Coba buka mata Bapak pelan-pelan," ucap Della dan Aiden pun dengan perlahan membuka matanya namun ia menutupnya kembali.

__ADS_1


"Masih perih Del," tangan Aiden kembali ingin mengucek matanya namun dihentikan oleh Della.


"Coba lagi Pak sambil saya tiupin mata Bapak saya jamin perihnya hilang." Della pun sedikit berjinjit untuk mensejajarkan dirinya dengan kedua mata Aiden. Ia mulai meniupnya perlahan dan disitulah Aiden juga mulai membuka matanya dan benar saja apa yang di katakan Della perihnya sekarang sudah hilang.


Aiden menatap lekat wajah Della yang masih saja meniup matanya. Sampai pandangan mereka bertemu dengan segera Della mengalihkan pandangannya dan menetralkan kegugupan saat ini.


"Hmm Pak udah gak perih lagi kan?" tanya Della canggung.


Aiden menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih," ucap Aiden dan di balas anggukan juga oleh Della.


Della segera berjalan menuju meja dapurnya kembali dan melanjutkan aktivitasnya sampai selesai.


Setelah semuanya selesai Della menghidangkan makanan di depan Aiden yang menenggelamkan wajahnya di dalam tekukan kedua tangannya.


"Pak," ucap Della lembut namun tak ada jawaban dari Aiden.


"Pak Aiden," panggil Della kembali.


"Pak. Bapak tidur ya," ucap Della dan memberanikan dirinya untuk mencolek tangan Aiden namun tidak ada respon darinya. Della mulai panik. Gimana kalau bosnya ini pingsan atau mungkin meninggal karena kelaparan dan nantinya dia yang akan diminta pertanggungjawaban dengan tuduhan tidak memberi makan atasanya sehingga dia akan di penjara seumur hidupnya dan masih banyak lagi pikiran konyol Della.


"Gimana ini?" gumam Della.


"Pak Aiden bangun." Della mulai menggoyangkan tubuh Aiden dengan kuat dan berhasil membuat sang empu menggeliatkan tubuhnya.


"Huft aman gak jadi di penjara," ucapnya lirih sambil mengelus dadanya lega.


"Ada apa?" tanya Aiden dengan suara seraknya menambah kesan seksi di dirinya.


"Makan dulu Pak. Masakannya udah siap di hap tuh." Aiden melirik masakan Della dan mulai mengambil piring yang akan ia isi dengan nasi serta cumi pedas manis itu.


"Habisin ya Pak. Saya mau ke kamar dulu. Kalau bisa entar sekalian di cuci Pak piringnya hitung-hitung latihan jadi Suami yang baik buat nona Cika nantinya," ucap Della dan dijawab dengan acungan jempol oleh Aiden.

__ADS_1


"Semoga aja kamu gak salah pilih Cika sebagai pendamping hidupmu nanti Pak," batin Della seraya menaiki tangga satu persatu hingga akhirnya ia sampai di kamarnya. Della merebahkan tubuhnya dan segera memejamkan matanya menuju alam mimpi. Sedangkan Aiden ia masih menyantap makanannya dengan nikmat sampai-sampai ia nambah 2 kali. Tak bisa ia pungkiri lagi masakan Della benar-benar membuat nafsu makannya naik seketika.


"Akhirnya kenyang juga," ucap Aiden sambil mengelus perut sixpacknya. Ia beranjak meninggalkan meja makan menuju kamarnya tanpa melakukan apa yang sudah Della perintahkan tadi.


__ADS_2