
Setelah beberapa menit Aiden kembali ke bawah dengan setelan baju santai yang biasa ia pakai di rumah. Aiden mendudukkan tubuhnya disamping Della tapi sebelum ia duduk Aiden menyempatkan untuk mengelus rambut Della.
"Nah gini kan ganteng," puji Mama Yoona.
Aiden berdecak.
"Dari dulu kalau ganteng mah," ucap Aiden.
"Iya-iya percaya deh. Dah jangan bahas itu lagi. Mending bahas soal calon cucu Mama yang lebih seru dari pada bahas kamu." Aiden memutar bola matanya. Dia juga tak menginginkan dirinya jadi bahan utama pembicaraan.
"Kalian udah tau jenis kelamin anak kalian belum?" Tanya Mommy Geva.
"Belum," jawab Aiden dan Della berbarengan.
"Masak belum. Gimana sih kalian tuh. Usia kandungan Della bentar lagi memasuki bulan ke 8 lho. Masak kalian gak penasaran sih sama jenis kelamin anak sendiri. Dan ngomong-ngomong perut kamu besar sekali sih nak. Perasaan waktu Mommy hamil beberapa kali gak sampai sebesar itu." Semua orang disana langsung menatap perut Della yang memang sudah membesar bahkan lebih besar daripada orang hamil pada umumnya.
"Iya ya. Mama dulu hamil Aiden sama Airen yang kembar pun tak sampai sebesar itu," timpal Mama Yoona yang juga terheran dengan perut Della.
"Mungkin babynya besar Mom, Ma. Jadinya ya perut Della besar gini gak sama seperti orang hamil pada umumnya," jawab Della sembari mengelus perut buncitnya.
"Mending kamu kedokter sayang dan cek sekaligus USG yang 4D. Mommy khawatir dengan kandungan kamu itu. Jangan sampai kenapa-napa," ucap Mommy Geva yang langsung menunjukkan kekhawatirannya terhadap calon cucu. Ia tak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.
"Besok aja Mom kalau udah memasuki bulan ke 9." Ucapan Della tadi langsung ditampik oleh Mommy Geva maupun Mama Yoona.
"Gak, pokoknya harus hari ini atau besok. Jangan nunggu usia kehamilan 9 bulan dulu. Iya kalau beneran gak papa sama baby kamu. Tapi kalau ada apa-apa lebih susah nanti nanganinya. Lebih awal lebih baik sayang," tutur Mommy Geva yang langsung diangguki oleh Mama Yoona.
__ADS_1
"Bener tuh nak. Lebih baik kalian nanti periksa sama Miko atau dokter Alisa untuk memastikan," timpal Mama Yoona.
"Aiden!" Sang empu yang punya nama pun mengalihkan pandangannya kearah sang Mama yang tadi sempat memanggilnya.
"Kamu tuh sebagai suami harus peka dong sama istri. Masak istri kamu lagi hamil yang tak wajar malah kamu santai aja gak ada rasa khawatir sama sekali." Omel Mama Yoona. Aiden mendengus mendengar omelan sang Mama. Mana ia tau ukuran setiap perut orang hamil, yang ia tau kalau orang hamil itu pasti didalamnya ada baby hasil buah cinta mereka untuk selebihnya mana ia tau. Ya kali Aiden harus pergi ke setiap rumah wanita hamil terus mengukur lingkar perut mereka untuk ia samakan dengan lingkar perut istrinya. Yang benar saja.
"Lihat tuh perut istri kamu." Aiden menengok ke arah perut Della.
"Tenang Ma. Baby baik-baik aja kok. Cuma kayaknya menurut Aiden babynya kembar deh," ucap Aiden sembari mengelus perut Della dan merasakan setiap gerakan dari baby di dalam perut Della.
"Tuh kan benar kata Aiden. Babynya baik baik aja buktinya ia setuju dengan memberi tendangan tadi," sambung Aiden.
"Ck sok tau banget sih kamu. Udah pokoknya jangan ada yang membantah ucapan orangtua. Nanti atau besok nemuin Miko biar dia yang ngelakuin USGnya. Biar Mama nanti yang telpon dia," final Mama Yoona yang membuat Aiden memelototkan matanya ketika mendengar sang Mama menyebut nama Miko yang akan melakukan USG Della. Mana ikhlas dia jika bagian tubuh yang disembunyikan sang istri harus dilihat oleh pria lain selain dirinya. Dengan sigap Aiden memeluk tubuh Della posesif.
"Gak bisa. Aiden gak izinin Della disentuh Miko seujung kuku pun," tolak Aiden.
"Sampai kapan pun Aiden gak akan ikhlas kalau Miko yang ngelakuin USG ke Della." Mama Yoona yang akan meluncurkan perkataannya pun terpaksa terhenti karena ucapan Papa Juan.
"Sudah-sudah ribut mulu. Kalau gak mau Miko yang meriksa Della kan ada dokter Alisa yang biasa meriksa kehamilan Della." Aiden mengangguk setuju atas ucapan sang Papa.
"Nah tuh benar yang dikatakan Papa. Mama jangan telpon buaya datar itu. Biar aku atau Della nanti yang hubungi dokter Alisa sendiri untuk buat janji dulu," tutur Aiden.
"Ya sudah kalau gitu. Tapi benar ya harus periksa jangan sampai tidak," ancam Mama Yoona.
"Iya-iya Mama," tutur Aiden sembari melepaskan pelukannya dari Della.
__ADS_1
"Makan siang dulu yuk Ma, Pa, Mom and Dad. Ngobrolnya nanti lagi. Baby Della udah meronta-ronta minta makan," ucap Della dengan cengiran yang menghiasi bibirnya.
Keempat orangtua tersebut kompak tersenyum kepadanya dan mereka semua bergegas menuju ruang makan.
Mereka makan dengan nikmat tanpa ada yang bersuara sedikitpun hanya ada bunyi benturan dari sendok dan piring.
Setelah acara makan siang mereka berpindah keruang keluarga yang tak jauh dari ruang tamu dan melanjutkan obrolan mereka tadi yang sempat terjeda sebentar.
Waktu terus berlalu siang kini menjadi sore yang menandakan bahwa orangtua Aiden maupun Della harus kembali kerumah mereka masing-masing. Walaupun Della dan Aiden sudah memaksa mereka sekuat tenaga agar bermalam di kediaman mereka berdua namun keempat orangtua tadi menolak dengan alasan rumah tak ada yang menja padahal rumah dua pasang orangtua itu dijaga ketat oleh satpam dan para art. Kalau tak ada yang menjaga pun rumah tersebut tak akan berpindah tempat atau hilang secara tiba-tiba.
"Mom pulang dulu ya sayang," pamit Mommy Geva sembari memeluk tubuh Della. Mereka semua sudah berada di depan pintu utama rumah tersebut untuk mengantar para orangtua pergi.
"Hati-hati Mom, Dad." Della berganti memeluk sang Daddynya.
"Iya sayang. Kamu jaga diri baik-baik. Segera hubungi Mom atau Dad kalau ada sesuatu saat Aiden tak dirumah dan sedang sibuk dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah selesai periksa kehamilanmu nanti." Della menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Daddy Geno. Kini orangtua Della berpindah untuk memeluk Aiden dan memberi sedikit kata untuk selalu menjaga Della. Dan sebelum mengundurkan diri Mommy Geva dan Daddy Geno menyempatkan diri untuk mengelus perut Della sekilas.
"Mama sama Papa juga pamit ya sayang." Kini giliran orangtua Aiden yang berpamitan kepada sang anak dan menantu tercintanya.
Della memeluk tubuh Mama Yoona.
"Hati-hati Ma, Pa," ucap Della sembari berpindah kepelukan sang Papa mertua.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Papa atau Mama ya Del. Dan kalau Aiden selalu sibuk dengan laptopnya dan kerjaannya hingga lupa sama waktu dan istri, jewer aja kupingnya biar," tutur Papa Juan.
"Kerja juga buat ngehidupin keluarga. Kalau gak kerja ya gak makan. Kasihan dong nanti Della sama anak Aiden nanti kelaparan gara-gara Aiden gak kerja," ucap Aiden tak terima.
__ADS_1
"Sttttt berisik," tutur Papa Juan yang membuat Aiden seketika mencibirkan bibirnya.
"Ya udah. Mama sama Papa pulang dulu sayang. Bye calon cucu. Sehat-sehat sayang-sayangku." Mama Yoona mengelus gemas perut Della sebelum benar-benar pergi dari hadapan calon orangtua muda. Setelah memastikan mereka tak lagi terlihat Aiden dan Della kembali masuk kedalam rumah lebih tepatnya kedalam kamar mereka untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.