
Aiden menatap sang Papa dengan tatapan garangnya. Ia tak terima dengan ucapan yang dengan entengnya keluar dari mulut Papa Juan apalagi Della sedang hamil muda mana mau dia meninggalkan istrinya yang sudah menjadi separuh nyawanya saat ini.
Sedangkan Della ia sudah berkaca-kaca saat mendengar ucapan Papa Juan tadi.
"Maksud Papa apa? Seenaknya bicara seperti itu. Pernikahan gak baik dibuat mainan Pa," geram Aiden yang sudah mulai meradang sampai para art yang tengah membersihkan rumahnya berhamburan pergi dari rumah utama.
"Tapi ini udah kesepakatan diantara kita berdua dan mertuamu Aiden," ucap Papa Juan yang tak kalah meninggikan suaranya.
"Kesepakatan yang tak masuk akal. Kalau kalian mau kita pisah jangan harap!" Tutur Aiden. Ia bergegas menghampiri Della dan meraih tangan istrinya untuk ia bawa pergi dari hadapan kedua orangtuanya.
Della yang sudah menitikkan air mata pun membalas genggaman tangan Aiden dengan sangat kuat dan Aiden bisa merasakan kekhawatiran di diri Della.
"Tenang sayang. Percayalah aku gak akan ninggalin kamu," ucap Aiden sembari mengusap air mata Della.
Aiden kembali menarik pelan tangan Della hingga sampai di area anak tangga. Namun teriakan Papa Juan menghentikan langkah mereka berdua.
"Kalian mau kemana? Balik sekarang!" Teriak Papa Juan. Aiden mengapalkan tangannya.
"Buat apa kita kembali kesitu untuk membahas hal yang kita berdua tak inginkan. Bahkan kesepakatan antara Mama, Papa, Mom dan Dad tak masuk akal sama sekali. Dan Aiden baru pertama kali dengar jika ada orangtua yang malah meminta anaknya yang tengah mati-matian mempertahankan keharmonisan dalam rumah tangga untuk berpisah," Tutur Aiden tanpa melihat wajah Papa Juan.
"Berpisah hanya untuk sementara waktu Aiden," kini Mama Yoona yang angkat bicara.
"Mau sementara ataupun selamanya. Aiden tak akan melepaskan Della begitu saja. Pernikahan itu sakral Ma, Pa. Tolong jika kalian masih ingin melihat kita berdua maka pikirkan lagi hal konyol itu. Jika kalian masih ngotot ingin kami berpisah maka Aiden akan pastikan mulai nanti malam kalian tak akan pernah bisa menemui Aiden maupun Della," tutur Aiden.
"Kenapa kamu begitu keras kepala Aiden!" Teriak Papa Juan. Aiden memutar tubuhnya sehingga tatapan tajamnya langsung menusuk ke mata Papa Juan.
"Apakah ucapan Papa tadi tak terbalik? Bukannya kalian yang sangat keras kepala," tutur Aiden yang sudah menurunkan kembali suaranya dan berubah menjadi sangat mengerikan bahkan Papa Juan merasakan hawa mencekam yang dikeluarkan oleh sang anak lelakinya tersebut. Begitu pula dengan Mama Yoona yang sudah hafal dengan setiap perubahan ekspresi Aiden hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari membayangkan betapa mengerikannya Aiden ketika sedang kerasukan roh mematikan bisa habis nanti suaminya. Mama Yoona mendekati Papa Juan dan mencekram kuat tangannya.
"Kenapa anak kamu jadi semengerikan ini?" bisik Papa Juan.
"Itu juga keturunan dari kamu yang kalau marah bikin orang mati berdiri. Ingat pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya udah terima saja kalau anak kamu juga mengerikan seperti ini," balas Mama Yoona.
"Tapi ini lebih mengeringkan sih dibandingkan dengan kamu," sambung Mama Yoona.
Aiden mengerutkan keningnya saat melihat kedua orangtuanya tengah adu bisikan. Ia mengalihkan pandangannya ke Della yang juga tengah terheran dengan sikap kedua mertuanya itu. Setelah pandangan mereka saling beradu dan seperti sedang berbicara lewat tatapan mata, Della menggedikkan bahunya tak mengerti sebagai jawaban dari Aiden.
"Ehem. Aiden, Della mending kalian duduk dulu deh," ucap Mama Yoona.
__ADS_1
"Gak perlu," jawab Aiden.
Papa Juan berdecak sebal kala mendengar jawaban dingin dari Aiden. Kalau Aiden sudah dalam mode garang pasti sangat susah di taklukkan.
"Duduk dulu apa susahnya coba," tutur Papa Juan.
Della menatap Aiden dan mengelus lengan Aiden dengan sangat lembut yang membuat Aiden mengalihkan pandangannya dan menatap lembut kearah Della. Sungguh perubahan ekspresi mata dan suasana yang sangat cepat.
"Sayang, sebaiknya kita duduk dulu yuk. Siapa tau Papa sama Mama tadi bisikin sesuatu yang membuat kita gak jadi disuruh pisah," ucap Della. Aiden menghela nafas kasar. Ia sebenarnya tak mau mengikuti ucapan Della tapi ketika melihat ekspresi wajah Della yang nampak memohon akhirnya pertahanannya runtuh juga.
"Baiklah. Tapi jika mereka masih menginginkan kita pisah maka setelah ini kita pergi dari sini," tutur Aiden, Della mengangguk setuju. Mereka berdua pun kembali ke ruang tamu dan mendudukkan diri mereka di satu sofa yang sama tanpa melepaskan genggaman satu sama lain.
"Cepatlah kita tak ada waktu untuk mendengarkan hal yang tak penting," ujar Aiden.
"Ck, sabar dikit kenapa sih kamu," tutur Papa Juan. Aiden memutar bola matanya malas.
"Sebenarnya yang Papa ucapkan tadi hanya buat menguji kalian berdua," ucap Mama Yoona.
"Maksudnya?" Tanya Aiden tak mengerti.
"Maksudnya ini hanya prank," teriak Papa Juan dan Mama Yoona terlihat sangatlah antusias.
Dan tak berselang lama dua orang asing muncul dari persembunyiannya dengan membawa kamera kecil di tangan mereka masing-masing.
"Kenapa ada kamera segala coba?" Tutur Aiden.
"Ya kan buat konten di Yt," jawab Mama Yoona santai.
Aiden menggelengkan kepalanya. Sejak kapan orangtuanya menjelajah dunia per Ytan dan mengerti dengan istilah prank segala.
"Sejak kapan Mama sama Papa punya channel Yt?" Tanya Della penasaran.
"Baru 2 mingguan yang lalu," jawab Papa Juan.
Aiden menghela nafas panjang sembari memijit pelipisnya. Ia sudah tak tau lagi pada dunia saat ini yang tua kembali kemuda lagi dengan fasilitas teknologi yang semakin hari semakin canggih.
Papa Juan dan Mama Yoona terus berbicara di depan kamera yang mereka bawa tadi. Sedangkan Aiden ia memilih untuk mengajak Della istirahat lebih tepatnya untuk mengabaikan dua manusia yang tengah dilanda darah muda mengalir dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Heh kalian berdua mau kemana? Ini belum closing lho," teriak Mama Yoona.
"Mama sama Papa aja yang closing. Aiden sama Della mau istirahat dulu," ucap Aiden. Setelah menjawab ucapan Mama Yoona, Aiden dan Della kembali melanjutkan langkahnya. Hingga sampai di dalam kamar utama rumah tersebut.
Della merebahkan tubuhnya di kasur king size disusul dengan Aiden yang juga merebahkan tubuhnya disamping Della.
"Mama sama Papa keren ya. Punya channel Yt sendiri. Sedangkan kita aja gak punya," ucap Della.
"Gak usah aneh-aneh. Jangan ikut-ikutan sama mereka berdua," tolak Aiden.
"Tapikan sayang. Yt tuh juga bisa mendapatkan penghasilan lho," tutur Della.
"Emang uang bulanan yang aku kasih kurang sayang?" Tanya Aiden yang sudah memiringkan tubuhnya sehingga bisa menatap wajah cantik Della.
"Enggak sih," jawab Della jujur. Mau kurang bagaimana jika satu bulan bisa di transfer 4 kali. Bahkan itu pun hanya digunakan untuk membeli keperluan Della yang tak diketahui Aiden, jika diketahui oleh sang suami maka Aiden lah yang akan membayarnya sehingga uang bulanan dari Aiden masih tersisa sangatlah banyak di kartu ATM miliknya.
"Kalau kurang bilang aja akan aku kirim lagi nanti," ucap Aiden sembari memeluk gemas tubuh Della.
"Sayang," panggil Della.
"Hmm? Kenapa? Kamu tetap pengen gitu buat channel Yt-Yt apalah itu. Aku gak akan kasih izin. Apalagi buat channel hanya untuk ngerjain orang lain seperti tadi. Iya kalau orang yang dikerjain gak ada dendam sama kita tapi kalau ada bisa bahaya sayang. Pokoknya gak akan aku izinin," tutur Aiden.
"Bukan itu," ucap Della.
"Terus?"
"Aku tiba-tiba pengen makan rujak," tutur Della dengan cengiran tak berdosanya.
"Sekarang?" Della menganggukkan kepalanya. Aiden tersenyum dan beranjak dari rebahannya.
"Tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana," tutur Aiden.
"Aku juga mau ikut cari rujaknya sayang," ucap Della merengek.
"Tapi kamu harus istirahat."
"Istirahat kan bisa di mobil. Toh di dalam mobil juga cuma duduk doang. Boleh ya sayang please." Aiden yang melihat ekspresi memelas dari Della pun tak tega.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu," tutur Aiden final. Mereka berdua segera keluar rumah dan mencari keberadaan penjualan rujak yang Della inginkan.