My Bos CEO

My Bos CEO
54


__ADS_3

Aiden membukakan pintu mobilnya setelah sampai di depan rumah Della.


"Silahkan tuan putri," ucap Aiden ala-ala pangeran yang membukakan pintu kereta kuda bagi ratunya.


Della tersenyum geli dan segera keluar dari mobil Aiden.


"Mau masuk dulu gak?" tanya Della setelah berada di hadapan Aiden.


"Udah malem, gak enak sama tetangga kamu nanti. Besok aja kalau mau berangkat ke kantor aku jemput," ucap Aiden lembut.


"Baiklah, hati-hati di jalan," tutur Della.


"Siap sayang." Aiden mengusap puncak kepala Della dengan sayang dan tak lupa sebelum ia beranjak dari tempatnya, Aiden berhasil mengecup pipi Della singkat. Kemudian ia segera berlari masuk kedalam mobil.


"Kecupan selamat malam," teriak Aiden sembari memunculkan kepalanya dari balik kaca mobil.


"Dasar modus, sana pulang hus," usir Della.


"Ngusir nih."


"Iya lah."


"Tega sekali ngusir calon suami sendiri," tutur Aiden dramatis.


"Bodo amat," ucap Della yang membuat Aiden tersenyum.


"Kamu masuk dulu, nanti aku perginya setelah kamu masuk ke dalam rumah," tutur Aiden. Della pun menuruti apa yang Aiden katakan.


Ia memasuki pekarangan rumahnya dan setelah ia sampai di ambang pintu yang kebetulan tak dikunci karena Della tadi berpesan kepada Rina untuk tak mengunci pintunya karena ia akan pulang hari ini, Della menghadap ke arah mobil Aiden yang masih menunggu dirinya. Ia melambaikan tangannya ke Aiden yang mendapat balasan klakson dari mobil tersebut dan tak lama mobil Aiden pun melaju hingga hilang dari hadapan Della.


Della segera memasuki rumah yang sudah sepi karena kebetulan ia sampai di rumah pukul 11 malam yang kemungkinan Rina sudah tidur di dalam kamarnya, tak lupa ia juga mengunci rumahnya yang kebetulan kuncinya di tinggalkan Rina di balik pintu tersebut. Della menaiki tangga satu persatu hingga ia sampai di lantai dua. Namun ketika ia hendak membuka pintu kamarnya, ia melirik satu kamar yang samar samar terdengar bunyi musik didalamnya.


Karena rasa penasarannya, Della melangkahkan kakinya menuju kamar disampaikannya.


Della menempelkan kupingnya ke pintu untuk memastikan apa yang ia dengar tadi. Ia terus memasang telinganya hingga pintu tersebut terbuka lebar yang menyebabkan Della tertelungkup kedepan.


"Ngapain?" tanya pria muda yang suaranya tak asing di telinga Della.


Della meringis kesakitan setelah tubuhnya berhasil mencium lantai kamar tersebut. Ia segera mendudukkan dirinya dan menghadap ke arah sumber suara tadi.


Della membelalakkan matanya dan segera bangkit dari duduknya. Entahlah rasa sakitnya kini beralih dengan rasa rindunya. Tanpa aba-aba Della berhambur kedalam pelukan pria yang sudah melebihi tingginya sekarang.

__ADS_1


"Huwaaaaa kangen," ucap Della sembari menggelayut manja di badan pria tersebut. Untung saja pria tadi siap sedia ketika sudah bisa menebak apa yang akan Della lakukan.


"Ck kebiasaan," desisi pria tersebut dan beralih menggendong Della seperti anak kangguru.


"Refleks dek, kan kakak kangen," ucap Della yang sudah melingkarkan tangannya ke leher Felix dan menenggelamkan wajahnya di leher sang adik.


"Hmmm, turun dulu ih. Kek anak monyet tau kak kalau kayak gini terus." Della mengerucutkan bibirnya tanpa berniat turun dari gendongan Felix.


"Sembarangan kalau ngomong," tutur Della.


"Ya mangkanya turun dulu. Gue mau ambil minum nih," ucap Felix sembari menurunkan badan Della secara paksa.


Della mendesis sebal, belum sampai kangennya terobati dengan sempurna eh sudah di paksa untuk melepaskan tubuhnya dari sang adik.


Setelah berhasil melepaskan kungkungan Della, Felix segera pergi dari kamarnya menuju lantai bawah mencari minuman dingin yang akan membasahi tenggorokannya.


Sedangkan Della ia masih setia menunggu Felix kembali sembari merebahkan tubuhnya ke kasur.


Tak berselang lama Felix sudah kembali ke kamarnya dengan membawa satu minuman di tangannya.


"Dari kapan lo disini?" tanya Della setelah Felix mendudukkan tubuhnya di sebelah Della yang masih setia dengan rebahannya.


"Baru kemarin sampai disini."


"Mungkin satu Minggu atau lebih," ucap Felix yang membuat Della memberengut.


"Ck kenapa cuma seminggu sih. Satu tahun lah," tawar Della.


"Kalau satu tahun yang ada kerjaan gue terbengkalai semua," tutur Felix.


"Kan cuma ngawasin resto doang dek, toh lo juga punya orang kepercayaan di sana."


"Jangan salah, adikmu yang paling tampan ini sekarang lagi buka hotel dan mungkin gue juga mau nyoba bikin toko kue," ucap Felix yang mendapat tatapan tak percaya dari Della.


"Kapan lo buat hotelnya kok tiba-tiba udah buka aja? Terus kuliah lo gimana?" tanya Della beruntun. Felix menghembuskan nafas malas.


"Ck kasihan masih mudah, belum juga punya suami eh udah pikun. Gue udah lulus kuliah dari dua bulan lalu kalau lo pikun, karena lo juga hadir saat itu," tutur Felix yang mendapat tatapan tajam dari Della.


Della mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang di berikan Aiden. Dengan bangganya ia memperlihatkan cincin itu kepada Felix dengan alis naik turun.


Felix menatap sang kakak tak mengerti dengan maksud Della.

__ADS_1


"Apaan sih gak jelas banget," tutur Felix sembari merobohkan dirinya di samping Della.


"Entar juga lo tau," ucap Della memandang langit-langit kamar Felix.


"Bodo amat lah, dah ah sana keluar. Gue mau tidur," usir Felix sembari mendorong pelan tubuh Della.


"Tidur bareng yuk, please gue kangen sama lo masalahnya," rayu Della. Felix sudah menebak sebelumnya, jika ia mengunjungi Della dan sebaliknya Della yang pulang ke Rusia. Della akan merengek untuk tidur satu ranjang dengan sang adik walaupun dengan beribu cara Felix menolaknya, Della tak akan terpengaruh dan berakhir Felix yang menyerah dan mengizinkan Della untuk tidur dengannya.


"Kebiasaan," desis Felix yang membuat Della tersenyum dengan sigap Della memeluk tubuh Felix posesif. Dan tak butuh lama mereka terlelap dalam tidurnya dan mengikuti alur mimpi mereka masing-masing.


πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–


Paginya Della terusik dari tidur cantiknya kala mentari masuk kedalam kamar melalui celah-celah jendela. Della meregangkan otot-ototnya dan membuka sedikit demi sedikit mata lentiknya. Ia menatap kesamping ketika tangannya tak sengaja memukul pelan tubuh Felix yang masih terlelap.


Della mendekatkan tubuhnya ke arah Felix tidur.


"Selamat pagi," ucap Della sembari mengecup singkat pipi Felix. Namun sang empu tak bergeming dari tidur nyenyaknya.


"Dasar kebo," tutur Della tak menyadari bahwa dirinya juga sama seperti sang adik ketika tidur bahkan lebih parah dari Felix. Della segera beranjak dari rebahannya setelah mengucapkan kalimat tadi dan pergi menuju kamar pribadinya untuk bersiap bekerja.


Hanya butuh beberapa menit untuk Della bersiap. Ia sekarang sudah rapi dan segera berjalan menuruni anak tangga.


"Pagi non Della, sarapan dulu. Mas Felix udah nungguin dari tadi," tutur Rina.


"Pagi juga mbak Rina. Iya ini juga mau sarapan, mbak Rina gak ikut sarapan?" tanya Della yang melihat Rina sudah membawa alat pel di tangannya.


"Tadi saya udah sarapan duluan non." Della mengangguk mengerti.


"Ya udah aku sarapan dulu ya mbak," ucap Della yang mendapat anggukan dari Rina dan dengan segera Della berjalan menghampiri Felix yang sudah melahap makanan di piringnya.


"Kenapa gak nungguin kakak dulu sih sarapannya?" tanya Della cemberut.


"Lama, keburu laper," jawab Felix tanpa mengalihkan pandangannya. Della berdecak sebal dan ia segera mengambil sarapannya dan melahapnya tanpa berbicara sepatah katapun hingga makanan habis tak tersisa.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Eps kali ini tentang Della dan Felix dulu okey, besok kembali lagi ke Della dan Aiden πŸ€— semoga kalian suka eps kali ini😚


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 karena dengan itu kalian telah membangkitkan semangat author untuk menulis eps berikutnya hehehe 😁

__ADS_1


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹


__ADS_2