My Bos CEO

My Bos CEO
50


__ADS_3

Setelah Della sampai kembali di area pesta. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aiden yang tak ada di tempat duduk tadi.


"Pak Aiden kemana sih, kok gak ada disini," ucap Della.


Della meneruskan mencari keberadaan Aiden namun hasilnya nihil ia tak menemukan batang hidung bosnya tersebut di dalam area pesta. Ia mendengus kasar dan melanjutkan pencariannya ke area luar hotel tersebut.


Della terus melihat kanan kiri hingga tepukan di pundak Della membuat dirinya menegang. Della meremas kuat gaun yang ia kenakan.


"Tenang Della," batinnya menguatkan.


"Saya cariin dari tadi malah taunya disini," ucap seseorang yang tadi menepuk pundak Della.


Della mengerjabkan matanya, "Suaranya kek kenal." Batin Della dan kemudian ia memutar tubuhnya menghadap ke sumber suara tadi.


Della bernafas lega, ternyata orang yang menepuk pundaknya adalah orang yang ia cari sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Aiden William Abhivandya.


"Ya ampun Pak ngagetin tau," ujar Della sembari memegang dadanya dramatis. Namun berbeda dengan Aiden ia menatap wajah Della yang nampak seperti habis menangis dengan adanya bekas air mata di pipinya walaupun tak kentara jelas. Hidung yang memerah serta mata yang sembab.


Aiden menangkup kedua pipi Della menatapnya intens.


"Kamu habis nangis?" tanya Aiden khawatir.


"Eh anu. Buk..bukan nangis Pak," tutur Della gelagapan.


"Jangan bohong Della," ucap Aiden tegas.


"Saya gak bohong Pak. Tadi saya cuma kelilipan dan ketambahan saya ngantuk berat jadi ya gini." Della menggigit bibir bawahnya menetralkan rasa gugupnya.


Aiden melepaskan tangkupannya di pipi Della dan berganti menggenggam tangan Della dan membawa dia menuju parkiran mobil mereka.


"Lho Pak mau kemana?" tanya Della, sesampainya mereka di depan mobil Aiden.


"Pulang." jawab Aiden singkat. Ia lalu membukakan pintu untuk Della dan dengan segera Della masuk kedalam. Setelah Aiden memastikan Della sudah masuk dengan benar ia bergegas menuju kemudi.


"Bukannya pestanya belum selesai ya Pak. Kok kita udah pulang aja?" Aiden menatap Della yang terduduk disampaingnya.

__ADS_1


"Del, saya mau ngomong serius sama kamu." Della menatap kembali mata tajam Aiden. Ia mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Saya mohon kamu jangan sembunyikan apa pun dari saya. Kalau kamu ada masalah cerita sama saya. Jangan kamu pendam sendiri, ada saya di sisi kamu sekarang," ucap Aiden lembut, tak terasa air mata Della kembali menetes terharu dengan segera ia menghapus air mata di pipinya tadi dengan cepat. Dan ketika ia ingin membuka suara, Aiden sudah lebih dulu menyerobotnya.


"Saya tau kamu pasti mau ngomong. Emang bapak siapa saya? Gitu kan," tutur Aiden yang seakan-akan sudah mengerti jalan pikiran Della. Della tersenyum canggung ke arah Aiden. Aiden memutar bola matanya malas sudah di pastikan bahwa tebakannya benar.


"Tangan kamu sini!" perintah Aiden.


"Buat apa Pak?" tanya Della polos.


"Mau saya amputasi." Della membelalakkan matanya dan dengan cepat kilat ia menyembunyikan tangannya di belakang badannya.


"Kalau tangan saya di amputasi terus saya makan dan kerja pakai apa dong Pak?" Astaga Della kau ini benar-benar polos.


"Kemarikan dulu."


"Gak mau."


Tanpa aba-aba Aiden menarik lembut tangan Della dari balik punggungnya. Ia segera meraih dan menggenggam tangan kiri Della dengan tangan kanannya sangat erat sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mencari sesuatu di balik jasnya. Dan tak lama ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam jas tersebut dan membukanya dengan satu tangan dan dengan segera menyematkan ke jari manis Della.


"Ini buat saya Pak?" tanya Della tak percaya. Aiden menganggukkan kepalanya.


"Maaf saya tidak bisa romantis seperti laki-laki lain. Dan cincin itu bukti bahwa kamu sekarang wanita saya," tutur Aiden lantang.


"Owh jadi bapak nembak saya gitu?" Ucap Della dengan memandang cincin tersebut.


"Saya sudah dewasa Della dan kamu pun juga sama. Saya gak akan bermain-main lagi dengan hubungan melalui cara pacaran. Sudah waktunya kita menjalin hubungan yang lebih serius," tutur Aiden yang masih setia menatap Della dari samping.


"Berarti bapak ngelamar saya gitu? Ngomong dong Pak dari tadi jangan bikin bingung, tiba tiba ngasih cincin berlian lagi." Gumam Della yang membuat Aiden tersenyum.


"Eh bentar bapak beneran ngelamar saya?" Della menoleh kearah Aiden.


"Iya, saya ingin kamu jadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya di masa depan."


"Tapi Pak..." Ucapan Della terpotong dengan suara lembut Aiden.

__ADS_1


"Gak ada tapi tapian Della. Cincin sudah berada di jari kamu. Berarti kamu sudah setuju menikah dengan saya," tutur Aiden.


"Eh kok maksa Pak," ucap Della. Bukannya ia menolak ajakan Aiden ia hanya terlalu kaget dengan perlakuan Aiden yang tiba-tiba melamar dia dalam keadaan ia belum mendapat restu dari orangtua Aiden dan juga orangtuanya.


"Saya gak maksa Della. Saya ngelamar kamu itu bukan memberi pertanyaan yang mengharuskan kamu memilih dari sekian banyak jawaban yang menurutmu benar melainkan saya memberikan pernyataan untukmu. Jadi gak ada pilihan untuk menjawab tidak. Karena pernyataan tak butuh jawaban." Della mengatupkan mulutnya. Sungguh pintar sekali calon suaminya ini mencari alasan.


"Tapi Pak, saya ngerasa bapak cuma main-main sama saya atau bahkan jangan-jangan ada kamera tersembunyi lagi di sekitar sini. Jangan ngerjain saya dong pak, saya gak suka," ucap Della sembari menatap sekeliling mobil tersebut. Gak lucu kan kalau dia sudah baper dengan ucapan Aiden tadi eh taunya malah di kerjain, gak banget bukan.


"Ck saya gak ngerjain kamu Della. Masih aja gak percaya. Dahlah yang penting kamu sudah bersedia menikah dengan saya. Saya akan buktikan lagi setelah kita pulang dari sini," ucap Aiden sembari menjalankan mobilnya.


"Dan satu lagi jangan panggil aku bapak lagi ketika kita tidak di area kantor, kamu bisa mengganti panggilan untukku dengan sebutan yang lain," ucap Aiden memperingati.


"Oke tuan," ucap Della santai.


"Jangan tuan juga Della, kamu bukan babuku." Della memutar bola matanya.


"Terus apa dong Pak?" tanya Della frustasi.


"Sudah ku bilang, jangan panggil aku bapak lagi Fredella."


"Oke oke saya gak akan panggil bapak atau tuan lagi," ucap Della menyerah.


"Jangan pakai bahasa formal. Pakai aku kamu aja." Della menggeram sebal.


"Baiklah terserah kamu aja lah. Ribet amat," tutur Della frustasi.


"Good girl," ucap Aiden sembari mengelus puncak rambut Della sayang. Ia terus tersenyum selama perjalanan kembali ke apartemen sedangkan Della ia sudah terlelap karena lelah dan rasa kantuk yang sedari tadi menyerang.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


HAPPY READING GUYS 😘


Ehem gimana gimana gimana eps kali ini gak ngebosenin kan🀭 buat cowok cowok jangan di praktekkan ya dialognya Aiden tadi, gak baik πŸ˜‚ Dah ah author bacot mulu🀭


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🀭 karena dengan kalian meninggalkan jejak sama saja kalian membangun kehaluan author absurd ini, halu lancar nulis pun juga ikut lancar🀭

__ADS_1


Peluk cium dari author absurd πŸ€—πŸ˜˜ See you next eps bye πŸ‘‹


__ADS_2