My Bos CEO

My Bos CEO
Extra Part 3


__ADS_3

Aiden terus membujuk Della supaya luluh dan tak membiarkan dirinya tidur sendirian diluar.


"Sayang, maaf," tutur Aiden yang kini tengah memeluk Della dari belakang.


"Siapa suruh ngomong kayak tadi. Gak percaya banget sama istri sendiri padahal kamu tau kalau aku cuma berhubungan layaknya suami istri hanya dengan kamu aja dan kamu seenaknya bilang kalau anak kita gak mirip sama kamu, harus kamu pertanyakan. Maksudnya apa coba?" cerocos Della tanpa titik dan koma.


"Ya kan tadi cuma bercanda sayang. Maafin aku ya," ucap Aiden semakin mengeratkan pelukannya.


"Ya udah gini aja sebagai permintaan maaf dari aku, aku bakal nurutin apa yang kamu mau. Mau beli mobil, tas, sepatu atau apa hmmm?" Della menatap Aiden yang berada di sampingnya.


"Beneran mau nurutin apa yang aku mau?" Aiden mengangguk mantap.


Della tersenyum, "Aku mau rujak," ucapnya. Aiden mengerutkan keningnya.


"Hah rujak?" Della mengangguk.


"Tapi ini udah jam 8 malam lho sayang. Cari rujak kemana coba."


"Ya mana aku tau. Katanya mau nurutin apa yang aku mau. Kalau gak mau ya udah sana tidur diluar." Aiden membelalakkan matanya dan bergegas berdiri dari duduknya.


"Ya udah iya aku cari sekarang." Aiden menyambar Hoodienya beserta kunci tak lupa juga dompet. Namun baru saja ia ingin membuka pintu, ucapan Della menghentikannya.


"Ikut," tutur Della dan menghampiri Aiden.


"Gak tunggu di rumah aja?" Della menggeleng.


"Gak. Sekalian jalan-jalan, udah lama kita gak jalan berdua." Aiden tersenyum dan mencubit hidung Della gemas. Sedangkan sang istri kini telah kembali ke mode jinak.


Aiden membuka pintu kamar mereka dan membiarkan Della bergelayut manja di lengan kekarnya.


"Anak-anak udah tidur semua?" tanya Aiden saat mereka berdua sudah berada di lantai bawah.


"Tenang aja mereka udah tidur semua jadi aman gak ada gangguan," jawab Della.


"Good." Aiden mengacak rambut Della gemas.


Baru saja mereka ingin melangkah keluar dari rumah, langkah mereka harus terhenti dengan terpaksa.


"Daddy, Mommy!" teriak triplets yang entah sejak kapan sudah berada di lantai bawah. Mereka bertiga menatap orangtuanya dengan tatapan horor.

__ADS_1


"Eh anaknya Mommy. Bukannya tadi udah tidur," ucap Della.


"Tadi udah tapi sekarang melek lagi," jawab Azlan.


"Mommy sama Daddy mau kemana?" Tanya Erland.


"Ngedate lah," jawab Aiden santai.


Mereka bertiga mengerutkan keningnya tak paham maksud sang Daddy.


"Ngedate tuh apa Dad?" kini Edrea yang bertanya.


"Ngedate tuh pergi keluar rumah buat makan di kafe atau sekedar jalan-jalan dan itu cuma dilakuin oleh dua orang beda jenis kelamin," jelas Aiden. Ketiga anaknya pun hanya membeo mendengar penjelasan dari Aiden.


"Kalau gitu kita juga mau ikut ngedate." Aiden membelalakkan matanya.


"Kan Daddy tadi udah bilang cuma berdua bukan berlima dan itu hanya Daddy sama Mommy. Kalian bertiga dirumah," tutur Aiden.


"Tapi kita juga mau ngedate," ucap Edrea dengan bibirnya yang mengerucut.


"Kalau mau ngedate harus punya pasangan dulu." Edrea tersenyum dan tiba-tiba tangannya menggandeng lengan kedua Abangnya.


"Hoam aku tiba-tiba ngantuk. Kamu sama bang Azlan aja sana." Erland memutar tubuhnya untuk kembali menuju kamarnya.


Edrea menatap Azlan dengan berbinar berharap jika Azlan mau ngedate dengannya.


"Aku juga udah ngantuk. Dan ngedate tuh untuk pasangan, kalau kamu mau ngedate berarti kamu harus punya pasangan dan pasangan kamu tuh bukan Abang tapi cowok lain." Setelah berucap seperti itu, Azlan bergegas menyusul Erland ke lantai atas.


Edrea yang ditinggal sendiri dan ditolak oleh kedua saudaranya pun menatap kearah orangtuanya dengan mata yang berkaca-kaca menandakan tangis akan pecah beberapa detik lagi dan benar saja air matanya kini menetes. Aiden memutar bola matanya malas.


"Ck pengganggu," tutur Aiden namun tubuhnya menghampiri Edrea dan menggendongnya untuk menenangkan si bontot bersama Della yang juga tengah berusaha membuat air mata Edrea tak menetes.


"Huwaaaaa Rea pengen ngedate. Rea pengen punya pasangan," teriakan Edrea terdengar nyaring hingga memenuhi rumah tersebut.


"Cup cup cup. Kalau Rea pengen ngedate dan punya pasangan, Rea harus gede dulu," tutur Aiden.


"Hiks kapan Rea gedenya Dad?" tanya Edrea dengan sesegukan.


"Hmmm masih lama sih." Tangis Edrea semakin menjadi saat mendengar ucapan Aiden tadi.

__ADS_1


"Huwaaaaa Rea pengen cepet ge..."


"Edrea berisik!" Teriak Erland dan Azlan berbarengan dengan menatap Edrea seakan-akan mereka ingin membuang sang adik dari rumahnya.


"Kalau kamu masih teriak-teriak aku kasih lakban mulut kamu. Mau," ancam Erland.


"Habis itu aku lempar kamu keluar rumah biar dimakan burung hantu," sambung Azlan.


Edrea menggelengkan kepalanya, menutup mulutnya rapat-rapat dan menenggelamkan wajahnya di leher Aiden.


"Prince gak boleh gitu ih sama Adiknya," tegur Della.


"Mommy, ini udah malam kalau Rea teriak terus tar tetangga demo kesini dan hancurin rumah ini gimana coba. Kalau Azlan mah gak mau jadi gelandangan." Della mengangga ketika ucapannya dijawab oleh anaknya sendiri.


"Haduh kenapa sekarang kalau dibilangin pada jawab sih. Tapi yang di ucapkan Azlan ada benarnya juga sih," gumam Della tanpa didengar oleh Aiden.


Sedangkan Aiden, ia tersenyum dan memberikan acungan jempol ke dua princenya itu. Bukan mendukung mereka melainkan telinganya kini sudah sakit mendengar teriakkan dari princess satu-satunya itu.


"Daddy juga, kalau mau ngedate tuh siang aja jangan malam-malam gini. Tega banget ninggalin anak-anaknya sendiri dirumah dengan para art," timpal Erland.


"Edrea. Balik ke kamar sekarang!" tutur Azlan dan Erland. Edrea pun merosotkan tubuhnya dari gendongan Aiden dan menghampiri kedua Abangnya. Setelah sampai di hadapan mereka berdua tubuh Edrea digiring masuk kedalam kamar mereka.


"Anak kita kok jadi pinter banget ngomongnya sih," bisik Aiden.


"Entahlah. Aku pun juga heran sayang. Udah ah biarin aja mending kita gas aja yuk." Della kembali menggandeng tangan Aiden. Baru membalikan badannya teriakkan anaknya kembali menggema.


"Daddy, Mommy balik ke kamar sekarang! Gak ada acara ngedate-ngedate segala," teriak Azlan.


"Cuma bentar aja sayang gak lama kok," balas Della.


"No Mommy. Kembali ke kamar sekarang atau kalau gak aku telfon Oma terus bilang kalau Mommy sama Daddy nelantarin anaknya sendiri," ancam Erland.


"Ck mainnya ancaman," kini Aiden yang angkat bicara.


"Daddy, Mommy!"


"Iya iya. Mommy sama Daddy balik ke kamar," ucap Della. Mereka berdua pun akhirnya mengalah dan merelakan acara berduaannya batal.


"Huh untung anak sendiri kalau gak udah aku balikin ke perut," gumam Della saat sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Aku pun juga pengen balikin mereka biar jadi kecebong lagi," timpal Aiden. Mereka berdua nampak lesu dan hanya bisa saling berpelukan meratapi nasib memiliki anak-anak yang sangat mengekang mereka berdua.


__ADS_2