My Bos CEO

My Bos CEO
30


__ADS_3

Della melepaskan tangannya yang ia gunakan untuk menyeret Aiden tadi saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Aiden.


"Pak, bapak yakin kalau nona Cika belum pulang?" tanya Della was was.


"Bisa saya pastikan Del, dia itu biasanya pulang kerja jam 10 malam, mana ada dia udah pulang jam segini mustahil Del, dia orangnya super sibuk," tutur Aiden sembari menekan beberapa tombol kunci apartemennya. Della menganggukan kepalanya mengerti.


"Masuk gih," ucap Aiden dengan mengarahkan dagunya ke arah pintu.


"Lah bapak gak masuk?" tanya Della heran.


"Masuk Della, nunggu kamu masuk duluan baru saya yang masuk," tutur Aiden, Della pun membuka pelan pintu apartemen Aiden, lalu masuk kedalam disusul Aiden di belakangnya. Della menatap kesemua penjuru apartemen Aiden, nyama dan indah batin Della ketika melihat isi keseluruhan apartemen tersebut dan melihat kearah jendela yang memperlihatkan keindahan kota tersebut.


"Mau minum apa?" tanya Aiden setelah Della duduk di ruang tamu.


"Hmm apa aja deh pak," jawab Della sembari menaruh buket bunga yang sedari tadi ia genggam.


"Ya udah ambil aja sendiri di dapur sana sekalian ambilin buat saya," ucap Aiden sembari mendudukkan dirinya di sofa sebrang Della.


"Ck gimana sih pak tadi nawarin, lah ini malah disuruh ambil sendiri, harusnya itu ya tamu yang di layani tuan rumah bukan malah sebaliknya," gerutu Della.


"Tinggal ambil aja apa susahnya sih Del, dapur juga dekat tuh gak jauh jauh amat," ucap Aiden santai yang membuat Della geram seketika. Della beranjak dari duduknya menuju dapur dengan sesekali menghentakkan kakinya yang membuat Aiden tersenyum kecil.


Sesampainya Della di dapurnya ia segera membuka lemari pendingin di sana, mengambil dua teh botol yang telah tersedia, dia gak mau ribet ribet buat jus, kopi atau sejenisnya kalau Aiden protes ia tidak akan segan segan menyiram bosnya itu dengan minuman yang ada di tangannya. Ketika ia hendak pergi dari dapur itu ada satu benda yang menjadi pusat perhatian Della dengan memberanikan dirinya ia mendekati benda itu yang tengah tergeletak di atas meja makan yang tak jauh dari dapur.


Della menaruh kedua botol minumannya dan dengan segera ia mengambil benda itu.


"Bukannya ini test buat kehamilan itu apa sih namanya lupa gue," gumam Della yang masih memperhatikan benda pipih di tangannya.


"Ah iya gue inget namanya testpack kan?, iya gak sih? kayaknya iya sih bentukannya sama kayak punya mommy dulu, tapi kalau iya ini punya siapa masak iya pak Aiden test kehamilan dia kan cowok atau jangan jangan Cika lagi, what jadi mereka..." ucap Della pelan dia takut kalau Aiden mengetahui dia yang sedang kepo dengan urusan mereka, Della pun mendudukan tubuhnya, melihat lebih detail lagi benda itu dan apa ini Della melihat garis dua yang terpampang jelas disana.

__ADS_1


"Wow, daebak, amazing garis dua dong, gila ini gila gue punya bos yang hamilin anak orang tanpa pernikahan wah tidak patut di contoh ini," gerutu Della pelan.


"Ehem lama amat sih Del ambil minum aja kek ambil es di Kutub Utara," ucap Aiden yang berjalan mendekati Della dengan segera Della menyembunyikan testpack tersebut kedalam saku celananya.


"Astaga pak kalau ngomong tuh pakai permisi dulu jangan ngagetin gitu kalau saya jantungan gimana, nih minuman bapak," Della menyodorkan satu botol ke arah Aiden.


"Jangan protes, saya gak menerima penolakan," ucap Della lantang ketika Aiden hendak membuka suaranya dan dengan terpaksa Aiden mengambilnya dan segera meminumnya sampai tandas.


"Oh ya pak, ini mau di mulai dari mana dulu?"tanya Della setelah meneguk setengah botol minumannya.


"Kamar aja Del, saya rencananya disana mau lamarnya karena pemandangan kalau malam bagus dari kamar dari pada dari ruang tamu," Della menganggukan kepalanya dan segera beranjak dari duduknya.


"Ya udah yok gas pak, lebih cepat lebih baik. Kamar bapak di atas kan?" tanya Della sebelum melanjutkan langkahnya, Aiden menjawab dengan anggukan kepala dan Della pun melanjutkan jalannya terlebih dahulu di banding Aiden yang masih santai di tempatnya tadi, sungguh ini kenapa Della sangat semangat mempersiapkan lamaran Aiden sedangkan yang punya acara entahlah seakan akan bermalas malasan begitu saja.


Della dengan senang hati menginjakkan kakinya satu persatu sampai ia tiba di lantai atas, ia nampak bingung harus masuk ke kamar mana pasalnya disana ada dua kamar bersebelahan. Della berfikir sebentar sebelum ia memutuskan untuk mengecek satu satu saja kamar disana.


Della menuju ke kamar pertama yang posisinya lumayan dekat dengan dia namun hasilnya nihil kamar itu terkunci rapat, ya udah lah ya mungkin bukan itu kamarnya pikir Della kemudian ia melanjutkan ke kamar berikutnya ketika ia hendak membuka pintunya ia di kaget kan dengan suara desahan dari dalam kamar, ia menajamkan pendengarannya dan benar saja ia tak salah dengar, tiba tiba badan Della merinding di buatnya tanpa aba aba dia berlari menuju lantai bawah mencari Aiden yang ternyata sedang duduk di depan televisi sambil memainkan ponselnya dengan segera Della duduk di sebelah Aiden dan memegang kuat tangan Aiden disampingnya, Aiden yang melihat gelagat aneh Della pun mengalihkan pandangannya ke arah Della.


"Pak disini ada hantunya ya atau bapak ngadopsi salah satu dari mereka?"


Tuk


Aiden menyentil dahi Della keras yang menyebabkan sang empu meringis dibuatnya.


"Pikiran kamu Del, mana ada hantu bisa diadopsi yang bisa tuh anak bukan makhluk kaya begituan dan buat apa lagi saya punya hantu kurang kerjaan apa saya?" tutur Aiden.


"Ish bapak sakit tau," protes Della sambil memegangi dahinya yang sudah memerah.


"Tapi ya pak saya tadi kan keatas terus denger suara gitu di dalam salah satu kamar itu," ucap Della pelan.

__ADS_1


"Jangan ngaco kamu Del, masa iya siang siang ada hantu."


"Ck bapak beneran tau, saya gak bohong, saya denger sendiri ada suara tadi," ucap Della terus meyakinkan.


"Emang kamu dengernya gimana?" tanya Aiden yang mulai penasaran.


"Gini pak suaranya tuh hmmm ah ah ah gitu," ucap Della mencotohkan persis seperti apa yang ia dengar tadi, Aiden melototkan matanya mendengar suara Della mencontohkan tadi.


"Oke cukup jangan contohin lagi, kita kesana aja memastikan apa yang kamu dengar tadi," ucap Aiden sembari berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.


"Pak tungguin," Della berlari menyusul Aiden hingga mereka berdua sampai di lantai atas.


"Kamar yang mana?" tanya Aiden mulai tak sabar, Della dengan tangan gemetar menunjukkan kamar yang berada di pojok tadi, tanpa aba aba Aiden melangkahkan kakinya meninggalkan Della kembali di belakangnya.


"Kebiasaan gue di tinggalin kek gini, gak tau apa kalau gue takut dasar bos gak punya perikemanusiaan," gerutu Della dan segera menyusul Aiden yang sudah berada di depan pintu kamar tersebut.


Aiden menajamkan pendengarannya dan ia membulatkan matanya ketika ia mendengar suara tersebut bahkan ia sangat kenal dengan suara perempuan di dalam, Aiden sudah mengepalkan tangannya, emosinya sudah menguasai dirinya.


"Bener kan pak, saya gak bohong kan?" tanya Della yang benar benar tidak tau jika Aiden tengah menahan emosinya dan dengan kekuatan yang Aiden punya ia mendobrak pintu kamar itu hingga terbuka lebar.


Tebakan Della salah besar bukan hantu yang berada di kamar tersebut melainkan satu pasangan yang tengah melakukan hubungan yang tidak sewajarnya.


Della membulatkan mata melihatnya, "wow luar biasa, gue lihat secara live oy wah gak bener otak gue, mata gue oh no udah tercemar huwaaaaa emak," batin Della yang mulai kelabakan sendiri.


"CIKA," teriak Aiden keras memenuhi ruangan tersebut dan berhasil menghentikan aksi keduanya.


💜💜💜💜💜


*Thanks yang udah mampir, jangan bosan baca cerita dari author absurd ini okey dokey yo is that true yes, oke baik abaikan.

__ADS_1


Happy reading guys🤗 peluk dan cium dari author 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak wokey👌*


__ADS_2