My Bos CEO

My Bos CEO
52


__ADS_3

Tepat pukul 9 pagi waktu London, Della dan Aiden sudah siap untuk terbang kembali ke tanah kelahiran Aiden.


"Udah semua? Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Aiden memastikan sebelum mereka benar benar keluar dari apartemen Aiden.


"Udah kayaknya," tutur Della sembari mengecek barang-barangnya di dalam tas kecil yang ia kenakan sekarang. Ia tak membawa pakaiannya yang ia beli di London lebih tepatnya Aiden yang membelikan, untuk ia bawa pulang ke Indonesia karena kata Aiden, "Semua pakaian di tinggal disini aja, siapa tau kita mau kesini lagi kan. Jadi nanti gak usah repot-repot packing pakaian segala," tutur Aiden tadi ketika mereka sedang membereskan barang yang penting bagi Aiden dan juga Della. Dan Della menyetujui ucapan Aiden yang ia pikir juga ada benarnya.


"Ya udah, berangkat sekarang aja." Aiden menggandeng tangan Della dan mereka keluar dari apartemen. Sesampainya mereka di lobi apartemen, mereka telah disambut beberapa bodyguard Aiden untuk mengantar kepulangan mereka kebendara.


Mereka berdua berjalan mengikuti salah satu bodyguardnya Aiden yang menunjukan mobil untuk mereka tumpangi. Setelah sampai di samping mobil tersebut, Aiden dengan segera membuka pintu untuk Della. Della tersenyum manis kemudian masuk kedalam mobil begitu juga dengan Aiden yang membalas senyuman Della sebelum ia menutup kembali pintu mobil tersebut. Kemudian Aiden menyusul masuk ke mobil melalui pintu lainnya yang sudah di bukakan pintunya oleh bodyguard pribadinya.


Setelah semua dipastikan masuk, mobil tersebut berjalan meninggalkan halaman apartemen menuju bandara.


Tak berselang lama mereka telah sampai di bandara dan dengan segera tanpa bertele-tele lagi Aiden dan Della bergegas untuk menuju pesawat pribadi Aiden yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.


Setelah mereka masuk kedalam pesawat, Della merebahkan tubuhnya di salah satu kursi panjang.


"Capek?" tanya Aiden yang sudah mendudukan tubuhnya di sampingnya Della dengan membawa dua minuman di tangannya.


"Dikit," jawab Della singkat.


"Nih minum dulu." Aiden menyodorkan salah satu minuman tersebut kearah Della dan dengan mata berbinar Della membenarkan duduknya dan segera menyambar minuman tersebut dari tangan Aiden. Menengguk minuman tersebut hingga tuntas. Aiden yang melihat itu pun hanya tersenyum lebar.


"Lega," ucap Della sembari menaruh botol minuman yang tak berisi tersebut di meja depannya.


"Udah siap?" tanya Aiden tiba-tiba yang membuat Della berfikir sejenak.

__ADS_1


"Siap buat?" tanya Della tak mengerti.


"Ketemu keluargaku," ucap Aiden yang membuat Della tersedak ludahnya sendiri.


"Pelan-pelan sayang," tutur Aiden sembari mengelus punggung Della. Bukannya reda malah Della semakin parah batuknya membuat Aiden mengajukan minumannya yang belum sempat ia minum sedikitpun.


"Minum dulu," ucap Aiden yang langsung mendapat respon Della dengan merebut minuman tadi dan segera menengguk setengah minuman tadi.


"Kenapa mendadak?" tanya Della setelah tak merasakan sakit di tenggorokannya lagi.


"Apanya yang mendadak?" tanya Aiden kembali tak mengerti. Della berdesis mendengar ucapan Aiden yang menurutnya berlagak tak mengerti.


"Ketemu keluarga kamu, kenapa mendadak?" tutur Della ulang.


"Siapa bilang mendadak. Keluargaku sudah aku beritahu duluan kalau kita sudah pulang kamu akan aku kenalkan ke mereka secepatnya," ucap Aiden santai.


"Biar cepat juga halalnya."


"Astaga terserah kamu lah, aku pusing mau tidur." Della segera beranjak dari samping Aiden dan menuju kamar di pesawat tersebut. Namun tak disangka Aiden juga memasuki kamar tersebut dan lebih dulu merebahkan tubuhnya di kasur. Della melototkan matanya kearah Aiden.


"Aku juga mau tidur Della. Kalau aku tidur di kursi bisa pegel nanti badanku," ucap Aiden seperti seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya.


Della menghela nafasnya tanpa bergerak kearah Aiden, "Apa cuma ada satu kamar di pesawat ini?" tanya Della yang mendapat anggukan kepala dari Aiden sebagai jawabannya.


"Ya sudah kamu tidur disini saja, aku tidur di sofa," ucap Della yang masih bisa menahan emosinya.

__ADS_1


Della segera melangkahkan kakinya kembali kesofa untuk membaringkan tubuhnya. Perjalanan masih sangatlah lama. Jika ia tak tidur lebih dulu, Della pastikan sehabis turun dari pesawat tubuhnya akan lemas dan pusing bahkan bisa sakit sampai memakan waktu lebih dari dua hari, seperti yang dulu ia alami. Sewaktu ia pergi dari London menuju tempat kelahirannya Rusia, yang memakan waktu hampir 4 jam tanpa tidur sedikitpun karena pada saat itu banyak kejadian yang ia alami hingga membuat dirinya tak bisa tidur. Dan sehabis keluar dari pesawat tubuhnya tiba-tiba lemas dan pingsan untungnya ada Maxime yang dengan sigap menangkap tubuh Della yang saat itu hampir jatuh menggelinding dari tangga pesawat.


Dari kejadian itu Della sekarang membiasakan untuk tidur walau hanya beberapa menit ketika sedang perjalanan jauh.


Della merebahkan tubuhnya ke atas sofa dan dengan segera memejamkan matanya, hingga alam nyata berganti menjadi alam mimpi yang indah sekarang.


Sedangkan Aiden, ia keluar dari kamarnya dengan bibir yang mengerucut gemas. Niatnya tadi hanya merayu Della, siapa tau wanitanya tadi khilaf karena terlalu mengantuk dan mau tidur satu ranjang dengannya. Namun bukannya menuruti ucapan Aiden dengan pikiran mesumnya tadi. Della malah memilih pergi dari kamar tersebut dan memilih tidur di sofa.


Aiden berjalan mendekati Della yang ia pikir tadi belum terlelap. Sesampainya ia di depan Della. Aiden membelalakkan matanya ketika melihat kemeja Della menyibak sedikit keatas sehingga memperlihatkan perut mulusnya.


Aiden menggeram kesal, "Ceroboh banget sih jadi orang, untung gak ada siapa-siapa di sini. Coba kalau ada cowok lain terus lihat perut dia tadi gimana coba," gerutu Aiden.


Ia segera membenarkan baju Della, kemudian memindahkan tubuh Della ke dalam kamar.


Setelah sampai di kamar Aiden membaringkan tubuh Della ke atas kasur dan menyelimutinya hingga leher. Aiden mengelus rambut Della. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah damai Della dan cup cup cup cup cup cup, enam kecupan ia daratkan di kening, kedua mata Della, kedua pipi dan terakhir hidung mancung Della.


Aiden tersenyum kala aksinya tak mendapat gamparan dari Della.


"Dasar kebo di cium juga gak bergerak sama sekali. Untung calon suamimu ini masih bisa menahan hasratnya. Kalau tidak udah gue jamin kita akan enak-enak sebelum waktunya," ucap Aiden yang masih tersenyum mesum.


"Arkh. Kenapa kalau sama lo bawaannya mesum mulu sih Del otak gue," gerutu Aiden sembari memukul pelan kepalanya, mencoba mengembalikan pikiran bersihnya dan sesekali mengerutuki ucapan mesumnya tadi.


💜💜💜💜💜


HAPPY READING GUYS 😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE and VOTE, hadiah juga boleh author ikhlas 🤭 jadilah pembaca yang bijak oke😚 karena kalau kalian meninggalkan jejak sama saja membangun tingkat kehaluan author dan author bisa nulis dengan tenang 😂


Peluk cium dari author absurd 🤗😘 See you next eps bye 👋


__ADS_2