
Della dan juga Aiden menengok ke arah sumber suara dan terlihatlah si Triplets yang tengah menatap mereka dengan muka masam.
Triplets menghampiri Della dan Aiden yang tengah memberikan senyum manis kepadanya.
"Anak kamu kenapa pagi-pagi mukanya udah pada masam kayak gitu?" tanya Della sembari berbisik supaya triplets yang sudah berdiri didepan mereka berdua tak mendengarkan ucapannya.
"Ck itu juga anak kamu sayang. Anak kita berdua."
"Iya anak kita berdua. Kenapa itu muka pada masam sih?" ulang Della.
"Mana aku tau," tutur Aiden sembari mengedikan bahunya.
Della berdecak, sebelum kembali menatap ketiga anaknya tersebut yang masih terdiam sembari menatap baby Zelfix seakan-akan mengajaknya untuk berperang.
"Ehem. Anak Mommy kenapa tadi teriak-teriak?" Triplets pun mengalihkan pandangannya, kembali menatap Della. Dan dengan kompak triplets menunjuk baby Zelfix.
"Siapa baby ini?" tanya Azlan.
"Owh ini namanya baby Zelfix," jawab Aiden sembari mencolek pipi baby Zelfix dengan gemas. Edrea yang melihat kedekatan Aiden dengan baby di pangkuan Della pun sudah berkaca-kaca.
Dan tangisnya pun sekarang pecah memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Huwaaaaa Rea gak mau punya Adik." Erland yang berada di samping Edrea pun mencoba menenangkan Edrea.
"Abang, Rea gak mau. Rea harus jadi anak terakhir hiks. Bang Azlan rebut baby di pangkuan Mommy dan buang jauh-jauh hiks hiks hiks."
"Eh lah ini tuh bukan Adik kalian," ucap Della yang sudah kebingungan.
"Mom jangan bohong."
"Bohong apa sih Erland. Mom gak bohong," tutur Della.
"Terus baby ini siapa kalau bukan adik kita Mom? Toh Daddy kemarin juga bilang kalau mau buat Adik sama Mommy. Mommy jangan mengelak lagi. Jawab jujur aja," kini Azlan yang angkat bicara. Della membelalakkan matanya dan menatap kearah Aiden dengan tatapan horor.
"Kemarin cuma bercanda aja sayang. Emang anak kamu aja yang baperan," gerutu Aiden.
__ADS_1
Della menghela nafas berat. Gini nih kalau punya suami yang super duper jahil dan anak yang sangat sensitif dikit-dikit nangis dan mengintrogasi mereka yang membuat kepala Della rasanya ingin pecah saja.
"Mommy udah jujur sayang. Ini bukan Adik kalian. Iya kan Dad." Aiden menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Della.
"Mommy masih bohong."
"Gak ada yang bohong sayang ih gemes nih Mommy, pengen masukin kalian lagi keperut," tutur Della kelewat kesal.
"Eh tapi kan Zelfix bisa di sebut adik mereka juga kan sayang karena ini anaknya Airen, adik aku berarti kan otomatis dia adik triplets tapi adik sepupu. Iya gak sih?" tanya Aiden tiba-tiba.
"Lah iya juga." Triplets yang mendengar bisikan dari orangtuanya pun saling tatap tak mengerti yang ia mengerti hanyalah jika Zelfix itu tetap menjadi adik mereka dan itu membuat triplets tambah masam kecuali Edrea yang semakin histeris.
"Huwaaaaa hiks bener kan hiks itu adik kita hiks Rea gak mau pokoknya gak mau hiks Mommy sama Daddy jahat. Rea gak suka." Kini Edrea berlari meninggalkan kedua orangtuanya dan juga kedua saudara kembarnya.
"Mom, Dad jahat!" teriak Azlan setelah itu ia menggandeng tangan Erland untuk menyusul Edrea.
Sedangkan Della dan Aiden sama-sama melongo.
"Kenapa kita jadi dianggap jahat sama anak sendiri?" tanya Aiden.
"Kayaknya kita gak salah ngomong deh."
"Arkh dah lah gak tau pusing!" teriak Della frustasi sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Angan-angan untuk bersantai dengan pikiran yang tenang malah semakin runyam.
"Sabar sayang. Aku keatas dulu ya nenangin mereka takutnya mereka beres-beres bajunya masing-masing dan berniat minggat dari rumah ini kan tambah runyam nanti," tutur Aiden sembari beranjak dari duduknya.
"Tungguin, aku juga mau ikut." Aiden pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap kearah Della yang tengah berjalan mendekati dirinya.
"Kalau mau ikut mending baby Zelfix kasih dulu sama Airen atau Dion." Della pun mengangguk kepalanya dan menuju kamar adik iparnya.
Dengan sabar Della mengetuk pintu kamar tersebut dan menunggunya sangat lama hingga ketukan pintu yang awalnya normal kini menjadi kedoran bahkan Aiden yang tadinya menunggu Della di tangga harus ikut turun tangan.
"Ya Allah kebo banget sih," gerutu Della.
"Lama-lama aku dobrak juga nih," ucap Aiden geram.
__ADS_1
Mereka berdua terus menggedor pintu tersebut namun sama saja tak ada reaksi dari kedua orang yang berada didalam kamar tersebut yang entahlah tengah tidur, mati atau melakukan hal lainnya.
"Coba minta kunci cadangan sama Mbak art sayang!" perintah Aiden. Della pun mengangguk dan segera menemui artnya. Setelah mendapat kunci cadangan, Della kembali dan segera menyerahkan kunci tersebut ke Aiden.
Dengan segera Aiden membuka pintu tersebut dan saat pintu tersebut terbuka mereka tak melihat Airen maupun Dion disana.
"Lah kemana mereka?"
"Mana aku tau sayang," jawab Aiden.
"Ya kali mereka kabur lewat jendela," tutur Della sembari menghampiri jendela dikamar tersebut dan jendelanya masih aman terkunci berarti dua orang itu masih didalam kamar ini.
"Mereka gak kabur sayang. Jendela aman." Aiden mengangguk setelahnya ia mendekati kamar mandi dikamar tersebut. Saat Aiden ingin membuka pintu tersebut ternyata pintunya terkunci dari dalam dan beberapa saat setelahnya suara saluran air berbunyi. Aiden melepaskan tangannya dari knop pintu tersebut dan kini telinganya ia tempelkan di pintu tersebut memastikan jika pintu kamar mandi dan kran tadi dibunyikan oleh orang bukan makhluk halus.
Della yang kepo dengan aksi suaminya pun ikut menempelkan telinganya hingga wajah mereka berdua berhadapan dengan baby Zelfix yang masih di gendongan Della.
Mereka saling pandang saat suara yang ia tangkap malah hal yang tak mereka inginkan. Della segera menjauhkan dirinya tak ingin baby Zelfix mendengarkan apa yang ia dengar tadi. Bisa terpapar kesucian dan kepolosan baby Zelfix nanti kalau mendengar apa yang orangtuanya lakukan didalam kamar mandi tersebut.
"Anjir Adik laknat," geram Aiden sembari menendang pintu kamar mandi tersebut.
"Kita keluar aja yuk sayang," ajak Della. Aiden pun setuju kalau ia kelamaan disana bisa berbahaya untuk pertahanannya nanti. Dan takutnya adik kecilnya dibawah terbangun dari tidurnya kan bisa berabe. Urusan triplets aja belum selesai mana mau Della melayaninya apalagi tadi malam mereka sudah melakukannya. Huh tangguhkan benteng pertahanan Aiden untuk sekarang jangan sampai itu terjadi saat ini.
Mereka berdua pun akhirnya keluar dari kamar tersebut dengan Aiden menutup pintu itu dengan sangat keras yang membuat siapa saja terperanjat kaget tak terkecuali dengan baby Zelfix yang kini malah menangis.
"Kan jadi nangis. Kamu tuh ya hih. Urusan triplets belum selesai malah ditambah sama baby Zelfix yang nangis," geram Della.
Aiden mengambil alih baby Zelfix dari gendongan Della.
"Cup cup cup jangan nangis ya. Maafin Daddy Aiden ya cup cup cup," ucap Aiden sembari menimang-nimang baby Zelfix dan tak membutuhkan waktu lama akhirnya baby Zelfix berhenti menangis.
"Nah kalau gak nangis kan jadi ganteng tapi lebih ganteng Daddy Aiden dari kamu," gumam Aiden sembari mencium pipi baby Zelfix.
"Kita ke triplets sekarang aja yuk sayang, takut tar tambah ngambek anaknya," ucap Della.
"Terus baby Zelfix gimana?"
__ADS_1
"Bawa aja lah mau gimana lagi. Orangtuanya lagi enak-enak didalam kalau kita kasih ke mereka takutnya si Zelfix jadi dewasa sebelum waktunya," jawab Della dan diangguki oleh Aiden setelah itu mereka bergegas menuju lantai dua menghampiri triplets yang tengah termenung didalam kamar Edrea.